
Dua keluarga itu sudah berhadap-hadapan di ruang tamu keluarga Arjuna dengan ekspresi berbeda. Keluarga Bima dengan wajah sumringahnya, sedangkan keluarga Zifa dengan senyum yang sangat kentara dipaksakan.
Mereka berbincang santai terlebih dahulu sebelum berlanjut pada pembicaraan inti. Lebih tepatnya berusaha untuk berbicara santai, karena keluarga dari pihak pria juga seakan ikut merasakan ketegangan tersebut.
Agung berdehem pelan sebelum memulai pembicaraan inti dari pertemuan dua keluarga malam ini. "Sebelumnya saya meminta maaf karena kedatangan kami kemari mungkin sedikit menyita waktu dari kalian semua yang berkumpul di sini" mulainya dan dibalas anggukan serta senyum dari Juna. Pembicaraan mulai terdengar formal pertanda semuanya dalam keadaan serius.
"Dan juga saya meminta maaf, karena yang seharusnya berbicara di sini adalah anak saya Bima, tapi karena suatu masalah akhirnya sayalah yang mewakili dia" senyum Juna tadi perlahan luntur, ia kembali teringat dengan apa yang dikatakan anaknya tadi.
"Kedatangan saya dan keluarga saya ke sini, tak lain adalah untuk meminta Zifa, putri dari keluarga kalian untuk dipersunting oleh Bima, putra dari keluarga kami" sambungnya.
Juna menghela nafasnya pelan sebelum menjawab ucapan Agung. "Sebagai orang tua dari Zifa, saya tentu saja menginginkan kebahagiaan untuk kehidupan Putri saya satu-satunya ini" Mata Zifa mulai memerah mendengar ucapan sang Ayah yang berhasil menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya.
"Apalagi ini perkara pernikahan, sebuah hubungan yang mungkin akan ia jalani selama sisa hidupnya. Jadi, terkait masalah ini semua keputusan saya serahkan pada anak saya. Apapun keputusannya, saya hanya akan meng-aamiini saja, karena saya tahu itulah yang terbaik menurutnya"
Juna kemudian menggenggam tangan sang Putri yang duduk di sampingnya itu. Berusaha menguatkan, karena ia tahu ini pasti begitu berat bagi Zifa.
Lama mereka terdiam menanti jawaban Zifa, gadis itu hanya tertunduk sambil menahan air matanya yang akan kembali mengalir. Apakah semuanya hanya akan berakhir di sini? Semua harapan yang ia bangun bersama Bima, haruskah hancur saat ini juga? Kenapa sesulit ini untuk bersatu dengan orang yang ia cintai? Kenapa ujian cinta mereka seberat ini? Kenapa kisah cintanya serumit ini? Dan kenapa juga harus ia sendirian yang berjuang sedangkan Bima memilih pasrah? Semuanya pertanyaan itu bercokol di dalam kepalanya, membuat bibirnya semakin berat untuk terbuka sekedar mengucap sebuah kata berbentuk penolakan.
Apalagi mengingat hubungan sang Ayah dan keluarga Bima yang sudah terjalin lama, akankah hubungan mereka akan berakhir sama dengan hubungannya dan Bima?
__ADS_1
Juna memperkuat genggamannya di tangan sang Putri, seolah mengisyaratkan kalau semuanya akan baik-baik saja, dan dia sudah pasti akan mendukung semua keputusan sang Putri.
Zifa mendongak, menatap ke arah kiri di mana sang Ayah juga tengah menatapnya dengan senyuman penuh kedamaian. Ia kemudian menatap ke arah kirinya, di mana Ningsih juga melakukan hal yang sama. Meski ia lihat kalau mata sang Ibu memerah, mungkin menahan tangisannya seperti Zifa. Orang tua mana yang tak sedih jika nasib percintaan sang anak seperti ini?
"Zifa? Berikan keputusanmu Nak!" ucap sang Kakek dengan nada lembut.
Zifa menarik nafasnya pelan dan menghembuskannya perlahan. Ia berusaha menguatkan hatinya.
"Ma....maaf Om, Tante, d...dan semuanya. Zi menolak lamaran ini" ujarnya terbata.
Keluarga Agung menatap tak percaya, ada apa sebenarnya?
"Karena putra kalian akan menikahi wanita lain, dan itu sudah jelas bukan anak saya" kini Juna yang angkat bicara karena sudah tak tahan lagi melihat kesedihan anaknya.
Agung menggeleng "Enggak! Nggak mungkin Jun, kami tahu betul bagaimana Bima. Dia nggak mungkin ngelakuin hal itu"
"Masalah mungkin atau tidaknya lebih baik kamu tanya sama anak kamu Gung! Kalau perlu saat ini kamu hubungi dia"
Keluarga Bima yang terdiri dari Kakek dan Neneknya dari sebelah Ayah dan Ibu, juga ada Orang tua Azraf, Sarahpun juga ikut di sana menjadi gusar seketika mengetahui fakta mengejutkan itu.
__ADS_1
Agung langsung mengikuti ucapan Juna, ia menghubungi nomor sang anak. Namun sampai panggilan ke empat pun tak juga diangkat oleh Bima.
Juna tersenyum sinis, "Kamu lihat sendirian Gung"
"Tunggu Jun, kasih kesempatan sekali lagi aku menghubunginya. Aku janji, dia akan menghajarnya sendiri dengan tanganku jika itu benar ia lakukan" pinta Agung memohon.
Agung kembali menghubungi nomor Bima, berharap banyak kalau Bima akan menjawab panggilannya kali ini.
"SIAL...."
Umpatan Agung terhenti karena kedatangan seseorang dengan nafas ngos-ngosannya. Penampilannya tampak begitu kacau. Bahkan ia langsung masuk ke rumah tersebut tanpa mengucapkan salam.
"Maaf. Maaf karena aku datang terlambat"
Semua mata menatapnya tajam, Bima berusaha menetralkan pernafasannya terlebih dahulu.
.................................................................................
Tahan, tahan. Tarik nafas, lalu hembuskan😁
__ADS_1
Gantung dulu yah, yang bilang aku kejam bodoh amat deh! Oh yah, part selanjutnya udah aku tamatin yah☺️