
"Kak, kalian serius ngambek gara-gara Nenek lampir itu?" tanya Sarah sedikit ragu. Apalagi melihat Nara dan Zifa yang duduk di belakang kemudi sedang tertawa sambil bertos ria.
"Tentu saja enggak! Ngabisin tenaga aja keles" jawab Nara disusul tawa Zifa.
Naren dan Sarah semakin kebingungan, padahal tadi wajah mereka keliatan asem banget pas di restoran.
"Lah, terus? Kakak bahkan sampai memilih nginap di rumah Kak Zi"
Nara dan Zifa saling tatap dan tawa mereka kembali pecah. "Itu aku emang sengaja aja mau ngerjain dia. Udah lama banget aku nggak nginap sama Zi, kalau nggak pake acara ngambek bo'ongan kayak gitu pasti nggak bakalan di izinin sama Mas Azraf" jelas Nara. Dia dan Zifa memang sudah merencanakan itu tadi melalui chat. Di mana Nara akan berpura-pura ngambek pada Azraf sebagai alasan ia untuk menginap bareng Zifa. Dan keberuntungan berpihak padanya dengan kedatangan mantan pacar Azraf itu, sehingga Nara tak perlu mencari penyebab ngambeknya.
"Terus kamu gimana Zi? Benaran marah sama Bima?" kali ini Naren yang bertanya, karena ia juga melihat wajah Zifa berbeda seratus delapan puluh derajat dari saat di restoran tadi.
__ADS_1
Zifa mengangkat bahunya. "Oh, itu. Aku juga sengaja aja, biar aku sama Nara bisa pulang bareng dan rencana kita nggak ketahuan Azraf. Apalagi dari tadi kita berdua udah nggak bisa nahan tawa liat ekspresi ngenes mereka. Kalau pulang bareng Bima bisa mules perut kita gara-gara nahan tawa"
Sarah dan Naren yang langsung mengerti akhirnya ikut tertawa. Kasian juga dua pria itu mendapat pasangan sejahil Zifa dan Nara. Mereka pasti sudah uring-uringan sedangkan Nara dan Zifa malah sedang menertawakan kebodohan pasangannya masing-masing.
"Kamu jangan ngadu ke Mas Azraf yah Sar!" pinta Nara yang langsung diangguki Sarah. Sekali-kali gitu nikmatin penderitaan sang Kakak nggak apa-apa kan?
"Kamu juga Ren, jangan kasi tahu Bima" Naren hanya mengangkat jempolnya dan menggelengkan kepalanya pelan. Untung saja pacarnya tak sejahil Nara dan Zifa. Sehingga ia tak mengalami hal yang sama dengan dua manusia bucin yang tak lain adalah sahabat dan calon Kakak iparnya itu.
"sama-sama" jawab Naren dan Sarah bersamaan.
"Ingat, jangan ngasih tahu mereka berdua" peringat Zifa lagi untuk kedua kalinya. Naren dan Sarah mengangguk dan kemudian berpamitan pulang.
__ADS_1
Baru saja Zifa ingin menutup pintu pagarnya, kedatangan dua mobil yang berhenti tepat di depannya membuat ia urung. Ia sangat hapal itu mobil siapa, ternyata Azraf dan Bima tak membiarkan mereka begitu saja. Buktinya dua pria itu sudah berada di tempat ini. Zifa mendengus pelan karena di sini tinggal ia sendiri, Nara sudah masuk lebih dulu ke dalam rumah.
"Ngapain kalian berdua di sini? Aku pikir kalian malah nemanin Sindrila makan?" sindirnya. Ia kembali memasang wajah masam, sepertinya gadis itu benar-benar berbakat menjadi Aktris.
"Yang, jangan marah dong! Aku dulu merhatiin Sindrila itu karena...."
"Tuh kan, kamu mengakui kalau kamu sering merhatiin dia!" potong Zifa. Bima semakin gelagapan, "Maksud aku itu..."
"Udah deh, mending kamu pulang aja. Ini udah malam banget, kamu juga Zraf" semprotnya.
Azraf yang sedari tadi berdiri di samping Bima sambil sesekali melirik ke dalam rumah Zifa langsung tersentak saat namanya disebut Zifa. Ia menelan ludahnya, ia kembali teringat bagaimana ekspresi sinis Zifa saat SMA dulu padanya. 'Lion Queen is back' teriaknya membatin.
__ADS_1
Jejaknya jangan lupa😊