
Nara yang baru saja turun dari lantai dua langsung mendekat pada Azraf, wanita itu menyuruh Bima bergeser menjauh membuat Bima mendengus kesal. Sementara Zifa yang berada di belakang Nara malah melengos ke dapur seolah tak melihat keberadaan sang pacar. Kurang apes apalagi coba nasib Bima. Sudah disuruh Nara menyingkir, dianggap tak ada lagi oleh sang kekasih. Benar-benar menyedihkan.
"Susul sana!" suruh Nara sambil mengedikkan dagunya ke arah dapur. Wanita itu kini sudah menyandar di bahu sang suami, tak peduli meski Azraf sudah memasang wajah keheranan. Perasaan semalam istrinya itu lagi marah, kesambet apaan dia tiba-tiba malah jadi manja gini?
"Ckk! Malah diliatin! Cepatan sana susulin" decaknya kesal karena Bima hanya menatapnya bingung.
Bima mengangguk dan menyusul Zifa ke dapur. Sesampainya di sana, ia melihat Zifa sedang membuka kulkas dan mengambil satu buah apel dari dalam sana.
"Yang!" panggilnya pelan. Zifa menoleh dan tersenyum membuat Bima seketika tertegun. Kenapa Zifa tak kalah aneh sama Nara? Bukannya semalam gadis itu sangat marah? Bahkan Azraf pun dibuat tak berkutik dan menurut saat ia mengusir mereka. Bima benar-benar tak menyangka kalau Azraf setakut itu pada kemarahan Zifa.
"Yang, kamu udah nggak marah?" tanya Bima sedikit ragu.
Zifa mengangguk masih dengan senyuman yang setia terukir di bibirnya. "Udah enggak!" jawab Zifa seadanya.
__ADS_1
Zifa kemudian duduk di meja makan disusul oleh Bima. "Kok cepat banget?"
Zifa menatap Bima tajam "Jadi kamu mau aku marahnya lama? Oke kalau gitu, aku bak..."
"Ya bukan gitu juga Sayang!" potong Bima.
"Terus apa?"
"Maksud aku, semalamkan kamu keliatan marah banget tuh. Kan aku jadi ngerasa aneh pas tiba-tiba kamu udah nggak nagmbek lagi. Nara juga sama, gimana aku nggak heran coba?" jelas Bima.
Bima mengangguk mengerti "Si Azraf juga, apa coba yang di pikirannya dia sampai macarin cabe-cabean kayak gitu! Ckk! Dasar laki-laki kerdus!" sepertinya gadis itu masih merasa kesal pada Sindrila. Dan Bima hanya mampu diam mendengarkan omelan kekasihnya.
"Kamu juga, ngapain dulu nyuri-nyuri pandang ke dia? Tergoda sama paha putihnya? Jadi laki-laki kok matanya nggak bisa dijaga! Ternyata kamu sama aja sama sepupu kamu, liat yang seksi dikit matanya langsung kunang-kunang!" lanjutnya. Bima meringis pelan "Aku liatin dia bukan karena itu Yang, Astaga!"
__ADS_1
Zifa mendengus tak percaya "Udahlah ngaku aja! Ckk! Jangan-jangan sekarang kamu juga masih suka gitu yah? suka ngelirik-lirik kalau ada cewek seksi?"
Bima menggeleng semangat "Sumpah, ya Allah! kamukan tahu aku gimana?!"
"Ckk! Terserah!" ujarnya kesal. Zifa tiba-tiba bingung juga dengan dirinya, kenapa ia jadi malah marah-marah gini? Perasaan semalam baik-baik aja, hanya pura-pura ngambek, meski memang sedikit jengkel juga paada kelakuan Sindrila. Tapi kok sekarang kekesalannya malah bertambah entah karena apa yah?
"Yang, aku mau tanya sesuatu deh! Tapi kamu jangan marah yah?!" ujar Bima saat melihat Zifa mengerutkan alisnya seolah bingung sendiri.
"Apaan?!" Nah kan, perasaan ia ingin balas baik-baik ucapan Bima, kenapa malah jadi ketus gini?
"Janji jangan marah tapi" pinta Bima. Zifa memutar bola matanya malas. "Cepatan, apaan sih!"
"Kamu lagi datang bulan yah?" pertanyaan Bima membuat Zifa melongo karena syok. Ia tak menyangka pertanyaan sesensitif itu keluar dari mulut kekasihnya.
__ADS_1
"Ehm...jangan salah paham yang. Anu, aku baca di buku kalau cewek yang lagi dapet itukan suka marah-marah, sensi, moodnya berubah-ubah" jelas Bima karena takut Zifa salah paham.
Wajah Zifa memerah karena malu, "Ehmmm...., itu. Kayaknya iya deh, soalnya perut aku agak sakit gitu. Ini juga tanggal aku dapet biasanya" jawabnya pelan. Sumpah, Zifa sangat malu. Kenapa coba Bina bisa sepeka itu? malah pake nanya langsung lagi ke Zifa.