Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Zifa yang menyebalkan


__ADS_3

Dapat 50 like, aku up besok.


kalau enggak, tergantung mood up-nya kapan.


Zifa mengikuti langkah Bima memasuki sebuah Cafe. Zifa celingukan ke sana ke mari, biasanya setiap ia lewat sini, ia melihat Cafe ini ramai. Namun kali ini berbeda, kenapa suasananya sangat sunyi? pikir gadis itu.


"Aku ngajak kamu ke sini untuk masuk, bukan untuk jadi patung selamat datang di depan pintu sini" ucapan Bima membuat Zifa tersentak kaget, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena tanpa sengaja melamun di depan pintu.


"Bim, kok sepi yah?" tanya Zifa menyuarakan pemikiran yang mengganggunya tadi.


"Aku boking hari ini untuk kita" jawab Bima santai.


"What?! Bim, kamu gila yah?"


Bima memilih tak menjawab, cowok itu malah menarik tangan Zifa memasuki pintu Cafe.


"Bim, jangan bikin aku takut deh Bim. Jangan bilang setelah ini, kamu nyuruh aku nambahin uang kamu untuk bokingannya, makanya kamu ajak aku" tuduh Zifa, namun sayangnya Bima masih tetap tak menjawab.


Zifa memperhatikan ruangan Cafe tersebut yang berbeda dari biasanya. Zifa memang beberapa kali makan di sini, jadi dia ingat dekorasinya.


"Ini kok dekornya makin keren gini, tapi kok sepi yah? Kamu benaran Bim,nyewa ni Cafe?"


"Iya Zifa. Udah, diam dulu deh! Entar baru aku jelasin"


Zifa menurut saat Bima membimbing dirinya menuju sebuah meja dengan dua kursi saling berhadapan. Zifa semakin heran saat di atas meja tersebut penuh dengan makanan kesukaannya. Ia menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Kenapa ia jadi deg-degan?


Zifa berusaha menebak apa yang akan terjadi hari ini. Bima boking cafe, Bima mengajak dirinya, di atas meja semuanya makanan kesukaannya, apa Bima...

__ADS_1


"Zi, duduk! malah melamun" lamunan Zifa buyar seketika.


"Eh, Iy..iya Bim!" ucapnya gagap.


"Bim, ini sebenarnya ada apa yah? bisa kamu jelasin sekarang sama aku?" tanya Zifa.


Bima tersenyum kecil membuat Zifa terkesima sesaat. Kenapa senyum Bima semanis ini? Maksud Zifa, ia memang sering melihat Bima tersenyum dan tertawa saat bersama orang tuanya, tapi tersenyum karena dirinya kenapa efeknya bisa seluar biasa ini bagi Zifa?


"Bim, jangan senyum deh!" larangnya membuat Bima menatapnya heran. "emang kenapa?" tanya cowok itu bingung.


"Eh? Enggak. Enggak apa-apa kok. Aku salah ngomong aja tadi" Zifa memukul pelan bibirnya karena tanpa sadar menyuarakan isi hatinya langsung ke Bima. Zifa menghela nafas legah saat Bima mengangguk percaya. Ternyata cowok kutub itu bisa ia bodohi juga, pikirnya.


"Eh Bim, kamu belum jelasin loh!" Ujar Zifa mengingatkan.


"Kita makan dulu. Biar kamu pas kaget nanti udah ada tenaganya. Sama kalau jawab pertanyaan aku nanti nggak loading"


"ucapan kamu nggak masuk akal!" cibir cowok itu.


"Bim, please yah! Jelasin sekarang!" bujuk Zifa.


"Sekarang banget?"


Zifa mengangguk semangat. "Banget!"


"Yakin?" Bima kembali memastikan.


"Yakin seyakin-yakinnya. Udah, sekarang jelasin tentang ini semua!" Zifa mulai jengah.

__ADS_1


"Ok, tapi janji dulu setelah dengar semuanya nggak ada alasan kabur-kaburan. Cukup diam, dan nikmatin makanannya!"


Karena dirundung rasa penasaran yang teramat sangat, Zifa akhirnya mengangguk. "Ok. Janji deh nggak bakalan kabur. Lagiankan mubazir entar, kalau makanan ini aku tinggalin"


"Oke"


Ehmm. Bima berdehem sebentar, membersihkan tenggorokannya. Pria itu juga menegakkan tubuhnya dan memandang Zifa serius tepat di mata gadis itu. Zifa yang dipandang seperti itu mulai merasakan gugup, kenapa ia merasa menyesal yah menyuruh Bima menjelaskan di awal. Zifa rasa ini tak akan berakhir bagus untuknya.


"Mungkin selama ini kamu bingung akan sikap aku. Aku tau, aku selama ini mungkin terlihat aneh karena selalu berusaha mendekati kamu. Aku akan jujur Zi, sebenarnya aku mulai tertarik sama kamu sejak pertama kita ketemu"


Zifa mulai berkeringat dingin di tempatnya. Ia duduk dengan gelisah, terlebih Bima belum melepaskan tatapannya pada mata Zifa.


"Aku nggak mau terlalu lama kita kayak gini. Aku nggak mau membuat kamu kebingungan sendirian. Jadi, aku akan jujur. Aku.....cinta sama kamu. Kamu maukan nerima aku jadi pacar kamu?" ujarnya memandang Zifa penuh harap.


Walau sudah memperkirakan sejak awal tadi, namun Zifa tetap terkejut mendengarnya. Wajahnya seketika memerah, jantungnya semakin berdegup kencang.


"Zi, jawab pertanyaan aku. Kamu....maukan?"


Zifa kebingungan di tempatnya. Ia meneguk ludahnya kasar. "Bim, udah kan jelasinnya? Kita makan yuk sekarang, perut aku udah bunyi"


Bima mendengus geli saat menyadari Zifa mengalihkan pembicaraan. "Kenapa nggak jawab dulu?"


"Jawab apaan? kan kamu bilang di awal, kalau udah selesai penjelasannya cukup nikmatin makanannya kan? Ya udah, ayo kita nikmatin makanannya sekarang"


Bima menepuk jidatnya pelan. Ternyata tingkat menyebalkan Zifa makin bertambah tiap hari. Tapi kok hatinya tetap memilih Zifa yah?


Kecewa ya, Zifa belum jawab pertanyaan Bima? Ya udah ayo, bantu Zia mikir. Kira-kira jawabannya apa yah? Vote, like dan komennya jangan lupa.

__ADS_1


__ADS_2