Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Tak lagi menjadi robot


__ADS_3

Bima menatap Zifa yang tengah melamun di mejanya. Ia pikir tadi Zifa dan Nadin belum kembali, makanya ia berniat mencari keduanya karena jam makan siang sudah tiba.


"Zifa! Kenapa melamun?" tanya Bima, pria itu menepuk pelan pundak Zifa membuat gadis itu tersentak kaget.


"Eh?! Pak Bima! Enggak apa-apa kok Pak!" jawab Zifa berusaha menyembunyikan kegalauan hatinya. Apalagi jantungnya kembali berdebar kencang, entah karena Bima yang mengagetkannya atau karena orang yang ia pikirkan tadi sudah berada di depannya.


"Kamu sudah makan siang?" tanya Bima.


Zifa menggeleng "Belum. Tadi saya hanya pesan minum karena masih merasa kenyang" jawab Zifa jujur.


"Kalau begitu ayo kita makan!" ajak Bima sambil menarik pergelangan tangan Zifa. Namun bukannya menurut, Zifa malah diam di tempatnya.


"kenapa?"


"Mau makan di mana Pak?" balas Zifa balik bertanya. "Ya di kantinlah!"


Zifa menghela nafas pelan "Kalau begitu Bapak duluan saja. Masa kita makan di kantin bersama, apa kata yang lain kalau melihat kita makan berdua?" tolak Zifa.

__ADS_1


Bima menautkan alisnya bingung. Bukankah Bima dan Zifa selama ini sering makan siang bersama saat akan menemui klien di luar? Terus kenapa harus memikirkan perkataan orang lain tentang mereka? Meski beda tempat makan, tapikan mereka sama-sama makan. Lalu bagian mananya yang akan membuat orang heran?


"Kalau gitu aku nyuruh Rey aja bawain kita makanan. Kita makan di ruanganku aja" ujar Bima mengalah meski alasan Zifa tak masuk di akalnya.


Zifa kembali menghela nafas sabar "Bapak bisa langsung makan di kantin, tapi Bapak duluan aja! Saya juga akan makan di sana tapi tidak bersama dengan Bapak! Lagian, masa Bapak mau ganggu Pak Rey, pasti dia lagi menikmati makan siang dengan istrinya!"


Bima menggeleng tak setuju. "Nah, karena itu! Itu nggak adil bagi aku. Masa Rey bisa makan sama istrinya sedangkan aku makan sendirian di kantin, kayak jomblo ngenes aja!" ujar Bima tak terima.


Zifa memutar bola matanya malas "Terima kenyataan aja kali kalau Bapak emang jomblo ngenes. Nggak usah iri sama orang dan nggak usah gangguin kesenangan orang!" balas Zifa.


Bima melotot. "Aku bukan jomblo ngenes Yah Zi"


Blush! Pipi Zifa memerah. Ia seolah tahu siapa yang dimaksud Bima.


"Pokoknya kita nyuruh Rey pesanin makanan atau kita makan di kantin, hanya itu pilihannya!" tegas Bima. Zifa akhirnya memilih mengalah, daripada ia membantah Bima dan berakhir blushing lagi kan gawat.


"Okey! Kita makan di ruangan Bapak aja!"

__ADS_1


Bima menyembunyikan senyum gelinya, apalagi pria itu menangkap rona kemerahan di wajah sekertarisnya itu. Setelahnya ia menghubungi Rey agar membawakan makanan untuknya dan Zifa.


"Kita tunggu di ruangan aku aja, ayo!" Zifa hanya menurut.


"Oisshhh!! Kayaknya ada kemajuan nih!" goda Rey smabil meletakkan plastik bungkusan makanan yang ia bawa di atas meja.


Bima yang duduk di sofa tepat berada di depan meja tersebut salah tingkah, sementara Bima menatap Rey dengan wajah pongahnya.


"Iya dong! Secara, siapa yang bisa menolak pesona seorang Bima!"


Rey mencibir "Cih! Udah nggak jadi robot lagi yah sekarang, bahkan udah bisa nyombongin diri!"


"Udah sana pergi! Temui Nadin, jangan ganggu aku sama Zifa" usir Bima membuat Rey berdecak kesal. Apa Bima tak bisa berkaca? Sebenarnya di sini siapa yang mengganggu kesenangan siapa? Namun pria itu tetap menurut. Ya iyalah! Bimakan bosnya.


"Apa yang dikatakan Nadin sama kamu tadi? Ceritakan semuanya!" ucap Bima pada Zifa yang tengah menyalin makanan ke piring.


Kegiatan Zifa terhenti, wajahnya kembali memerah mengingat semua ucapan Nadin. Masa dia harus jujur sama Bima sih?

__ADS_1


Aku kasih bonus deh! Senang nggak aku up dua bab? Jangan lupa like, komen dan votenya yah😊


__ADS_2