
"Masalah Lia sudah terselesaikan, dia juga sudah kembali. Lalu, gimana dengan janji kamu?" tanya Bima membuat Zifa mengerutkan alisnya.
"Janji? Janji apa?"
Bima mendengus sebal karena wanita itu melupakan ucapannya tempo hari. Padahal Bima sudah merasa sangat antusias. "Masa kamu lupa sendiri sama janji kamu, yang?"
Zifa masih kebingungan, namun ia juga merasa lucu akan wajah Bima yang sedang merajuk. Padahal Bima dulunya begitu datar, bahkan sampai sekarangpun tetap begitu jika bersama orang lain. Tapi kenapa berubah imut seperti anak kecil kayak gini jika bersama Zifa? Entah Zifa harus bersyukur atau bergidik ngeri.
"Aku benaran lupa. Emang aku janji apaan sih, sayang?" tanya Zifa gemas. Sengaja ia memanggil Bima dengan panggilan 'sayang' agar pria itu langsung menjelaskan saja. Pasalnya Zifa benar-benar tak merasa berjanji apapun, atau mungkin ia benaran sudah lupa?
"Kamu berjanji kita akan ke tahap lebih lanjut jika masalah Lia selesai!" ucap Bima masih dengan cemberut. Bisa-bisanya Zifa melupakan janjinya sendiri, apalagi Bima sudah tak sabar menanti hari ini tiba. Bagaimana Bima tidak merajuk coba?
Zifa meringis pelan "Oh, yang itu"
Bima menatap Zifa curiga saat melihat wajah Zifa yang terlihat aneh "Kenapa? Jangan bilang kamu mau nunda lagi?"
__ADS_1
Zifa melambaikan kedua tangannya di depan wajahnya sebagai tanda menyalahkan ucapan Bima.
"Bukan itu. Bukannya aku mau nunda lagi, tapi Bim. Aku kan baru beberapa bulan kerja di perusahaan kamu. Emang kamu bakal ngizinin aku kerja kalau udah nikah nanti?"
Bima terdiam sebentar. Sejujurnya Bima tak akan membiarkan istrinya bekerja saat mereka berumah tangga nanti. Ia hanya ingin istrinya fokus untuk mengurus rumah tangga. Tapi mengingat sang istri adalah pewaris satu-satunya di keluarga Arjuna, tentu saja ia harus mempertimbangkan itu.
"Kalau kamu, apa kamu mau tetap kerja setelah menikah?" tanya Bima balik tanpa menjawab pertanyaan Zifa.
"Ya. Aku akan tetap bekerja sampai aku akan dikarunia anugerah dari tuhan" jawab Zifa tegas.
Astaga, bahkan keduanya sudah membahas sampai ke tahap itu. Sepertinya mereka tidak sadar akan pembahasan tersebut.
"Ciee, yang udah bahas hamil-hamil aja!" ledekan Rey membuat keduanya tersadar. Sontak wajah mereka memerah malu.
"Ngapain di sini?!" ketus Bima setelah berhasil menguasai diri.
__ADS_1
"Ada yang mau aku omongin, tentang proyek kita yang ada di kota P" ujar Rey. Pria itu memang baru masuk kantor setelah beberapa hari pergi menangani proyek di luar kota.
"Kan ini jam makan siang Rey, bukan jam kerja" pekik Bima kesal karena Rey mengganggu waktu berduanya dengan Zifa.
Rey menyengir lebar, sebenarnya ia sengaja. Karena ia tahu kalau Bima dan Zifa pasti sedang berduaan di ruangan Bima. Akhir-akhir ini Zifa memang sudah jarang makan di kantin. Itu semua karena berita ia adalah calon istri Bima sudah tersebar ke seluruh penjuru kantor. Makanya ia tak mau membuat kehebohan jika ia ke kantin dan Bima pasti akan ikut dengannya.
"Ya kan aku mau nyampein memang. Nantilah setelah istirahat baru kita bicarakan" jawab Rey tanpa dosa.
Kalau saja Bima tak mengingat istri Rey sedang mengandung, ia pasti akan membunuh asistennya itu saat ini juga.
Zifa sudah tak heran lagi melihat kelakuan dua orang itu. Pasalnya, semenjak ia tahu kalau Rey dan Bima bersahabat, keduanya tak pernah lagi berbicara formal di depannya. Zifa benar-benar merasa dikerjai oleh mereka di awal-awal.
"Keluar atau nyawa melayang!" ancam Bima. Bukannya takut, Rey malah menatap Bima geli. "Yakin? Paling kamu masuk penjara dan angan-angan membuat Zifa hamil sampai kapanpun nggak akan terwujud"
Wajah Bima memerah dengan urat lehernya menegang "KELUAR REY!" teriaknya membuat Zifa terlonjak kaget. Sementara Rey sudah lari terbirit sambil tertawa kencang karena berhasil menggoda bosnya itu. Benar-benar anak buah kurang asem!
__ADS_1
Jejak...jejak....jejak😊