
Budayakan satu reader, satu like, satu komentar dan satu kali vote. Mari saling menghargai😊 kalian senang, authorpun senang. Jika author senang, idepun akan lancar, dan kalian juga tentu bakal senang dong kalau upnya tiap hari😊
Bima dan Zifa malam ini tengah bersiap menuju sebuah Restoran terkenal untuk makan malam. Bukan dalam artian mereka akan kencan, tidak. Keduanya malam ini memiliki janji dengan Azraf dan Nara, juga Sarah dan Naren. Masih ingat Naren kan? Pria itu sudah berbaikan juga dengan Bima setelah aksi kepergok sedang bersama Sarah sedang makan di Restoran waktu itu. Apalagi Sarah dan Naren menjalin hubungan, bukan cuma berteman biasa.
Dan malam ini, ketiga pasang itu ingin makan malam bersama. Bima dan Zifa juga mau mengumumkan tentang hubungan mereka juga rencana pernikahan keduanya, agar semuanya tak terkejut jika tiba-tiba mendapat undangan. Apalagi belum ada yang tahu kalau ia dan Bima sudah berbaikan.
"Udah siap?" tanya Bima, Zifa mengangguk. Sengaja Bima menanyakan hal itu, pasalnya ia tahu saat sampai di sana Nara akan mengomeli mereka. Masalahnya saat beberapa hari lalu Nara mengajak mereka makan malam di rumahnya, Zifa dan Bima kompak sama-sama lupa. Apalagi Zifa waktu itu di rumahnya hanya bersama Bita dan Lia. Paginya, jangan tanya bagaimana fullnya telinga Zifa dengan omelan Nara. Bahkan sejak tadi Nara beberapa kali mengiriminya pesan mewanti-wanti agar ia datang dan tidak melupakan janjinya.
Sementara di Restoran tempat mereka janjian, sudah duduk empat orang yang sedang menunggu kedatangan keduanya.
__ADS_1
Nara berkali-kali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ini Zifa sama Bima kok kompak banget terlambatnya? Tempo hari juga sama-sama lupa waktu aku ajak ke rumah. Jangan-jangan mereka tahu rencana kita ya" tanya Nara pada ketiga orang di depannya. Ternyata benar dugaan Zifa dan Bima waktu itu, kalau mereka ingin kembali mencomblangi keduanya. Dan ajakan makan malam itu hanya alasan saja. Sayang mereka nggak tahu kalau hubungan Bima dan Zifa sudah sejauh mana.
"Aku hubungi Bima dulu kalau gitu" ujar Azraf. Nara mengangguk "Aku juga mau hubungi Zifa" keduanya lalu sibuk dengan ponsel masing-masing.
"Halo Bim, udah di mana?"
"Kamu udah sampe mana sih Zi?" tanya Nara dan Azraf bersamaan saat panggilan mereka di angkat di waktu yang sama.
Nara dan Azraf saling berpandangan penuh seolah bertanya jawaban di balik panggilan tersebut.
__ADS_1
"Bentar lagi katanya!" ujar Nara sedikit kesal. Azraf mengangguk "Sama!" lalu mereka memutuskan sambungan telepn sepihak.
"Kok bisa banget sekompak itu yah?" pekik Sarah tiba-tiba.
"Iya. Benar banget! Bahkan waktu malam di rumah kalian itu juga kan?" Naren ikut menambahkan. Ya, pasangan itu juga ikut dalam rencana Nara dan Azraf.
"Entahlah, semoga aja mereka nggak curiga!" Nara mendesah pasrah, padahal ia ingin sekali melihat Zifa dan Bima kembali bersatu. Nara sangat yakin dua manusia itu masih saling mencintai satu sama lain.
"Nanti kalau udah datang, kita interogasi mereka aja" Ia juga sama. Azraf merasa greget dengan sepupunya itu. Ia tahu Bima masih sangat mencintai Zifa. Namun melihat interaksi Bima dan Zifa terakhir kali mereka kumpul waktu itu, tangannya merasa gatal untuk menggetok kepala Bima. Sayangnya ia tak berani.
__ADS_1
"Sorry terlambat!" suara berat itu membuat keempat orang tersebut mendongak. Mereka mendapati Bima tengah memasang wajah menyesalnya dengan Zifa yang ada di sampingnya memasang ekspresi yang sama. Dan yang lebih mengejutkannya, Zifa dan Bima menggunakan pakaian yang berwarna sama, Zifa menggunakan dres selutut berwarna navy dengan tas selempang berwarna hitam dan Bima menggunakan kemeja panjang berwarna navy juga yang ia padukan dengan celana berwarna hitam. Mata mereka kemudian turun ke arah tangan Bima dan Zifa yang saling menggenggam, batin keempatnya tentu meronta-ronta penasaran.
"Kalian......?!" Nara menunjuk ke arah mereka dengan wajah bodohnya. Bahkan ia tak dapat melanjutkan kata-katanya.