Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Perasaan Bima


__ADS_3

Jangan lupa baca ceritaku yang lain😊


"Aku kira kamu nggak masuk" ucap Nara saat melihat Zifa sudah duduk di bangkunya saat ia kembali ke kelas, Nara baru selesai mengunjungi kelas Azraf karena bosan sendirian di kelas tanpa Zifa.


"Ya masuklah. Emang kenapa kamu ngira gitu?" tanya Zifa bingung.


"Ya....tadi aku nggak liat motor kamu di parkiran dan kamu datangnya lambat banget. Makanya aku kira kamu nggak masuk" jelas Nara. Zifa hanya mengangguk saja sebagai respon kalau dia paham.


"Emang kamu berangkat sama siapa tadi?" pertanyaan Nara membuat Zifa yang bermaksud membuka ponselnya untuk membaca novel di sebuah aplikasi terhenti.


Zifa menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu menghadapkan diri sepenuhnya ke arah Nara.


"Kamu benaran nggak tahu atau cuma pura-pura nggak tahu sih Nar?" selidiknya. Nara menatap sahabatnya itu heran "Tau apaan? Emang kenapa sih? Aneh banget perasaan. Aku nanya apa kamu malah jawabnya apa"


"Jadi......benaran bukan kamu yang nyuruh dia yah?"


Nara menjitak kepala Zifa yang omongannya benar-benar membuat ia kebingungan.


"Emang kenapa sih Zi? bikin orang penasaran aja" tanyanya kesal. Zifa menggeleng pelan, "Istirahat nanti baru aku cerita. Bentar lagi guru datang!" ucapnya kemudian memperbaiki kembali posisi duduknya. Nara hanya mampu menghela nafas kesal karena sikap menyebalkan sahabatnya itu.


"Jadi, tadi Bima jemput kamu?" tanya Nara terkejut saat Zifa menceritakan tentang Bima padanya.Mereka kini tengah menikmati makanan di kantin sekolah. Azraf ada rapat ekskul makanya ia tak menemani sang kekasih untuk makan.


"Iya. Tuh anak benar-benar bikin bingung deh sikapnya. Nggak ada yang bisa menebak hal-hal yang ia akan lakuin"


Nara mengangguk membenarkan perkataan Zifa. Nara yakin, kalau ia menceritakan tentang ini pada Azraf, pacarnya itu pasti akan ikutan kaget.


"Apa Azraf yah, yang nyuruh? Dia nggak cerita-cerita apapun gitu ke kamu?" tanya Zifa penasaran.


Nara menggeleng. "Kalau Azraf yang nyuruh dia pasti bakalan bilang sama aku. Apa jangan-jangan....." Nara menggantung ucapannya membuat Zifa menunggu.

__ADS_1


"Jangan-jangan apa?" tanya Zifa.


"Jangan-jangan, dia tertarik yah sama kamu?" lanjutnya.


Zifa berdecak "Mana mungkin. Orang sikapnya nyebelin banget sama aku. Mana ada orang naksir kayak gitu" elaknya tak percaya.


"Siapa bilang?"


"Aku"


"Astaga Nara! Gini yah, biar aku jelasin sama kamu. Nggak semua orang itu memiliki sifat yang sama. Semua orang itu menunjukkan rasa tertariknya dengan cara yang berbeda-beda. Seperti yang kamu lihat, sikap Bima ke kamu itu berbeda. Dia bahkan sering becandain kamu, padahal yang kita tahukan dia itu manusia dengan sifat sedingin es" ujar Nara dengan gemas.


Zifa mencibir. "Bercandain gimana? Orang sikapnya selalu menyebalkan tiap kali kita ketemu"


Nara menghela nafas kasar. Percuma menjelaskannya pada Zifa, gadis itu pasti akan sulit mengerti. Biarin aja semuanya berjalan sabagaimana semestinya. Dia hanya perlu membantu dari belakang saja. Tapi sepertinya, tanpa bantuannya Bima ternyata sudah bergerak duluan, dan itu tentu saja membuatnya senang.


Sepulang sekolah, Nara langsung menghubungi Azraf untuk menceritakan masalah itu. Ia dengan semangat menuju kantin yang terlihat sepi, hanya ada beberapa orang penjual di sana. Mereka sudah sepakat untuk bertemu di tempat itu untuk membahas Zifa dan Bima.


Azraf tersenyum lalu mengelus rambut Nara "Aku juga ada yang mau aku ceritain" ujarnya.


"Kalau gitu kamu aja dulu. Cowok kan harus duluan mengungkapkan"


Azraf terkekeh pelan mendengar ucapan Nara. "Oke. Kemarin Bima buat aku terkejut" ujarnya memulai.


"Kenapa?" tanya Nara.


"Dia minta nomor ponsel Zifa"


Nara terdiam sebentar. Pantas saja kata Zifa Bima mengiriminya pesan. Nara pikir Azraf yang memberikan sendiri nomor Zifa pada Bima. Ternyata cowok itu yang memintanya. Wah....! Sepertinya yang ia pikirkan memang benar.

__ADS_1


"Hei! Kamu nggak kaget?" tanya Azraf membuyarkan lamunan Nara.


Nara tersenyum kecil. "Kaget sih, tapi.....aku bawa berita yang lebih mengagetkan untuk kamu"


"Apa itu?"


"Bima ngirimin Zifa pesan, dia juga menjemput Zifa untuk berangkat bersama ke sekolah. Dan bahkan....dia juga akan mengantarkan Zifa untuk pulang"


"Apa?! Wah....ternyata dia benaran naksir Zifa" ujar Azraf tertawa pelan.


"Hah?!"


"Iya. Kemarin dia bilang sama aku kalau dia tertarik sama Zifa"


Nara terlihat antusias mendengarkan cerita Azraf. "benaran?"


"Hmm. Pas aku tanya alasan dia tertarik, katanya gini 'Karena Zifa nggak suka kamu, maka aku menyukai dia' aneh kan alasannya?"


Nara mengangguk. Aneh sih, aneh banget malah. "Tapi aku yakin bukan itu alasan sebenarnya"


Ucapan Azraf membuat Nara mengerutkan alis tak mengerti. "Aku rasa dia jatuh cinta sama Zifa sejak pertama kali ketemu"


"Kenapa kamu bisa nyimpulin gitu?


Azraf tertawa kecil. "Aku tahu betul bagaimana seorang Bima. Dia itu bukanlah orang yang suka memusingkan perkataan orang tentang dia. Kamu tahu? aku kaget pas dia mencibir sikap Zifa saat di Mall waktu itu. Dia juga seolah sengaja membuat Zifa kesal dan menggerutu karenanya sepanjang hari itu. Dan kamu tahu? saat Zifa mengomel, aku selalu menangkap senyum kecil tersungging di bibirnya"


Nara mencerna semua yang dikatakan kekasihnya itu. Iya juga sih, Bima waktu itu keliatan banget membuat Zifa kesal dengan sikapnya.


"Dan jangan lupakan waktu kamu nelfon aku kalau Zifa minta tumpangan ke sekolah karena ban motornya bocor, Bima ngedengar dan dia langsung nawarin diri untuk menjemput Zifa"

__ADS_1


Aah, iya! Nara ingat waktu itu dia menelfon Azraf dan mengatakan akan berangkat bareng Zifa. Bima yang berada di rumah Azraf tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. dengan mengejutkan, cowok itu malah menawarkan diri untuk membonceng Zifa. Azraf dan Narapun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Namun, karena mereka belum terlalu yakin, makanya Nara bilang pada Zifa kalau itu bagian dari misi.


Like, Vote dan komentarnya jangan lupa😊


__ADS_2