Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Menolong Bima


__ADS_3

"Sayang, kalau kamu pulang kamu mampir beliin Mama bahan-bahan untuk buat kue yah. Soalnya rencananya besok Mama sama Mami kamu mau bereksperimen" ujar Ningsih melalui sambungan telepon.


Zifa yang kini tengah mengemasi barangnya mengangguk. "Oke, Ma! Apa aja Ma yang harus Zi beli?"


"Nanti daftar bahannya Mama kirim di chat aja, oke!"


"Siip, Ma"


Selesai berbicara dengan sang Mama, Zifa melangkahkan kakinya untuk pulang. Sampai di parkiran, ia melihat Bima yang sudah lebih dulu keluar dari kantor masih berada di parkiran sambil memperhatikan ban mobilnya. Sepertinya salah satu bannya bocor.


Zifa menimbang-nimbang antara ingin mendekat atau membiarkan saja. Kemudian gadis itu menggeleng pelan, jika ia berniat menolong tak boleh pilih-pilih.


"Mobil Bapak kenapa?" tanya Zifa saat sudah berada di samping Bima.


Bima menoleh dengan wajah datarnya. "Bannya bocor kayaknya. Mana nggak bawa ban serep lagi"


Zifa mengangguk "Bapak sudah menghubungi orang bengkel?"


"Sudah"


Zifa mengangguk lagi. Ia terdiam sebentar. Apa dia tawarkan Bima untuk bareng dia saja yah? Kasian juga liatnya kalau orang bengkel lama. Tapi Zifa sedikit ragu.


"Kamu kok masih di sini? nggak pulang?"

__ADS_1


Zifa tersentak. "Eh, iya. Ini mau pulang kok" ia segera berbalik dengan cepat. Baru beberapa langkah, ia berhenti dan kembali menoleh pada Bima.


"Bapak mau bareng saya saja? Nanti saya antarkan Bapak pulang. Kalau Bapak nunggu orang bengkel pasti kemaleman" tawarnya.


Zifa memperhatikan Bima yang terdiam. Ia tidak tahu pria itu sedang menimbang-nimbang atau sedang bingung karena tawarannya.


"Ehm, saya cuma menawarkan pertolongan kok. Kalau Bapak nggak mau saya duluan" ia kembali berbalik. Namun langkahnya kembali terhenti, kali ini karena ucapan Bima.


"Kamu itu labil banget sih! Tadi nawarin, sekarang main ninggalin saya saja!"


Zifa menoleh dengan wajah bodohnya. "Eh?!"


"Ayo! Mana kunci mobil kamu? biar saya yang nyetir" Bima mengadahkan tangannya pada Zifa. Zifa kemudian mengeluarkan kunci mobil dari tasnya dan langsung memberikan pada Bima.


"Kamu..."


"Bapak.." Ujar keduanya bersamaan. Zifa kemudian menghadapkan wajahnya ke arah jendela sementara Bima kembali fokus menyetir.


"Bapak duluan. Bapak mau bilang apa?" ucapnya masih dengan memandang ke arah samping.


"Kamu duluan" tolak Bima.


"Emm, saya cuma mau tanya aja. Bapak masih tinggal dengan keluarganya Azraf?" setelah itu Zifa merutuki mulutnya dalam hati kenapa mengeluarkan pertanyaan yang bersifat pribadi seperti itu.

__ADS_1


"Enggak. Saya sudah tinggal di rumah saya sendiri"


"Ooh. Di mana?"


"Di jalan xxx" jawab Bima sambil menyebutkan alamatnya. Zifa menoleh cepat. Itukan berlawanan arah dengan rumahnya. Berarti saat beberapa waktu lalu Bima mengantarnya, pria itu juga harus kembali putar arah dong saat pulang?


"Kenapa ekspresi kamu gitu?" tanya Bima sambil melirik Zifa sebentar.


Zifa menggeleng cepat, kalau dia bertanya entar Bima malah mengira ia berpikir macam-macam.


"Terus, ini Bapa mau ke mana?" tanya Zifa.


"Saya nanti suruh jemput teman di rumah kamu saja. Lagian, saya ingin mampir ke rumah kamu sebentar. Sudah lama saya tidak bertemu Papa dan Mama kamu!" Zifa tak tahu lagi ingin mengatakan apa. Ia sedikit salah tingkah karena perkataan Bima. Pasti pria itu tak pernah menemui Orang tuanya karena permasalahan mereka dulu. Sama seperti dirinya yang tak mau bertemu orang tua Bima.


"Emmm, sekarang giliran Bapak. apa yang ingin Bapak katakan sebelumnya tadi?" tanya Zifa mengalihkan pembicaraan.


"Enggak terlalu penting sih! Aku tadi tiba-tiba aja teringat saat mampir ke rumah kamu dulu minta numpang ke sekolah dan bilang motor aku kempes padahal enggak. Itu hanya modus aku dan kamu yang gampang dibohongin malah langsung percaya" ujar Bima sambil tertawa kecil.


Zifa menatap Bima tak percaya. Bagaimana bisa cowok itu mengatakan hal tersebut dengan santainya? Dia sadar nggak sih kalau hubungan mereka saat ini tidak baik, kenapa malah dia mengingat hal semacam itu?


"Pak, nanti kita mampir dulu ke Supermarket. Ada yang mau saya beli" Zifa sekali lagi mengalihkan pembicaraan karena ia kembali salah tingkah.


Like, vote dan komentarnya jangan lupa😊

__ADS_1


__ADS_2