Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Makan


__ADS_3

Zifa menghela nafas kasar saat ia menduduki tempatnya kembali setelah pulang dari Restoran tadi. Zifa sebenarnya benar-benar kesal dengan Bima sampai rasanya ia ingin menangis. Namun Zifa berpikir, jika ia menangis berarti ia kalah. Dan Bima akan sangat puas karena membuatnya tersiksa. Zifa bertekad, ia akan mengikuti semua permainan Bima. Ia akan terus menurut sampai pria itu bosan dan capek hingga merasa kalah dengan sendirinya. Zifa rasa, ini adalah rencana licik tapi halus yang paling bagus ia terapkan melawan Bima.


Tak berapa lama ia duduk, Bima sudah terlihat melangkah menuju ruangannya. Zifa berdiri dan membungkukkan badannya sebagai rasa hormat pada atasannya itu, seolah tidak keberatan dengan sikap Bima di restoran tadi. Bima hanya melirik Zifa sekilas dan langsung memasuki ruangannya seperti biasa, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Kita liat saja Bima, di sini siapa yang akan keluar menjadi pemenangnya" gumam Zifa dengan seringaian sinis sambil menatap pintu ruangan Bima yang sudah tertutup.


Interkom di mejanya berbunyi, terdengar suara Bima menyuruhnya untuk memasuki ruangan.


Zifa mengetuk pintu ruangan Bima, setelah terdengar suaa Bima mempersilahkan ia masuk barulah ia masuk ke dalam.


Pria itu kini tengah duduk sambil menekuri berkas yang ada di mejanya. Zifa berdehem pelan agar Bima menyadari kalau dia sudah berdiri di depan meja pria itu.


"Ada apa Bapak manggil saya?" Tanya Zifa sesopan mungkin. Ia juga tersenyum formal pada Bima.


Bima mendongak menatap Zifa. Ia kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah menuju sofa yang ada di ruangan tersebut.


Zifa menatap Bima bingung, ia masih berdiri di tempatnya.


"Ke sini, mendekat" ujar Bima. Zifa masih menatap pria itu bingung.

__ADS_1


"Saya bilang mendekat ke sini Zifa!" Ujar Bima geram. Zifa buru-buru mendekat.


"Bukakan rantang itu" suruh Bima sambil menunjuk rantang susun yang ada di meja di depannya. Entah sejak kapan rantang tersebut ada di sana.


Zifa menurut. Ia membuka satu persatu bagian rantang tersebut. Saat Zifa membukanya, tercium aroma masakan yang sangat menggugah selera.


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. "Buka pintunya. Itu pasti Rey yang datang" suruh Bima lagi. Zifa hanya menurut tanpa berkata apapun.


"Ini piring, sendok, gelas sama air yang di suruh Pak Bos" ucap Rey sambil menyodorkannya pada Zifa.


"Ya sudah, Pak Rey langsung kasih ke Bos saja"


Rey menggeleng. "Enggak. Saya masih ada yang harus saya urus. Kamu silahkan berikan pada Bos"


Zifa meletakkan semuanya di atas meja. Ia kemudian berdiri dan berpamitan pada Bima.


"Siapa yang mengizinkan kamu pergi? Kamu tidak lihat kalau semua yang di bawa Rey ada dua?"


Zifa menautkan alisnya. Lalu kenapa?

__ADS_1


"Kamu juga harus makan dengan saya. Saya tahu kamu tidak makan tadi!"


Zifa menggeleng cepat. Mana mau ia berlama-lama satu ruangan dengan Bima.


"Jangan salah paham. Ini bukan bentuk perhatian dari saya"


Zifa masih diam, membuat Bima berdecak kesal.


"Mama saya yang membuat semua ini. Entah dari mana dia tahu kamu bekerja di sini dan dia membawakan saya bekal lebih biar bisa berbagi dengan kamu!"


Zifa terkejut. Ini pasti ulah Papa atau Mamanya yang memberi tahu Widya.


"Tapi..."


"Kamu tidak menghargai pemberian Mama saya?" Tanya Bima sambil menatapnya tajam.


Zifa akhirnya memilih mengalah. Gadis itu menghela nafas kasar sebelum mengambil piring dan mengisinya dengan masakan buatan Widya.


"Apa saya bisa makan di luar?" Tanya Zifa hati-hati.

__ADS_1


Bima kembali melayangkan tatapan menusuknya. "Kamu mau Karyawan lain melihat kamu makan di jam kerja?"


Like, vote dan komentarnya jangan lupa😊


__ADS_2