Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Ingin menyerah


__ADS_3

pagi ini, Zifa kembali dikejutkan dengan kehadiran Bima di rumahnya. Ngapain cowok itu di sini? Bukannya kemarin Zifa bilang kalau dia nggak perlu dijemput? Dari atas undakan tangga, Zifa bisa melihat keakraban Bima dan orang tuanya membuat kepalanya pening seketika karena terkejut. Bahkan ketiga orang tersebut tak menyadari keberadaannya.


"Wah!! Ternyata dunia sesempit ini yah? nggak nyangka kalau kamu anaknya Mbak Widya" Zifa yang bermaksud melangkah turun kembali mengurungkan niatnya. Widya? Bukannya itu nama sahabat Papanya yah? tapikan mereka lagi di Belanda, jadi mana mungkin anak mereka di sini? Setahu Zifa sahabat dari orang tuanya itu memiliki dua orang anak. yang sulung itu perempuan dan sudah kuliah semester empat, sama dengan Kak Bita--sepupunya. Kalau yang bungsu itu.....astaga! Benar. Zifa ingat, kata Tante Widya anaknya yang kedua laki-laki dan hanya beda beberapa bulan dari Zifa. Apa dia Bima?


"Iya Tante. Bima juga baru tahu, kalau ternyata orang tua Bima sama Tante dan Om saling kenal" ujarnya tersenyum kecil.


Juna mengangguk "Untung tadi Om nanya nama orang tua kamu yah? kalau enggak, Om nggak bakalan tahu kalau kamu anak mereka"


"Terus gimana kabar Mama sama Papa kamu?" tanya Juna.


"Alhamdulillah mereka baik Om!" jawab Bima.


"Oh yah, mereka kan di Belanda. Kamu di sini memangnya sama siapa?" kali ini Ningsih yang bertanya. Karena setahunya, Agung dan Widya memang memilih tinggal di sana beberapa tahun lalu, karena Agung membangun sebuah perusahaan di sana. Keduanya hanya pulang sesekali ke Indonesi, dan tak lupa berkunjung ke rumah Juna dan Ningsih. Makanya Zifa mengenal keduanya. Sayangnya setiap mereka berkunjung, hanya anak perempuannya saja yang sering ikut. Kata mereka anak keduanya malas diajak jalan-jalan meski di umurnya yang masih kecil. Jadi maklum saja jika Juna dan Ningsih tak mengenal Bima.


"Sama Tante aku, Kakaknya Mami" jawab Bima.


Zifa hampir tersedak ludahnya sendiri saat mendengar panggilan Bima untuk Ibunya. Mami? Memang sudah biasa sih panggilan itu, tapi kalau si wajah datar itu menyebut panggilan itu Zifa rasa sama sekali tak cocok. Mami, kata itu Zifa rasa terlalu manja untuk ukuran patung es kayak Bima.

__ADS_1


"Ooh, gitu" ujar Juna dan Ningsih. Bima mengangguk.


"Kalau gitu sering-sering aja ke sini. Sesekali kamu juga harus makan malam dengan kami, gimana?" tawar Ningsih, membuat mata Zifa melotot.


Sebelum Bima menjawab, Zifa buru-buru turun. "Ma, pa, Zi berangkat dulu" potongnya saat Bima sudah bermaksud membuka mulut menjawab tawaran Ningsih.


"Eh, kamu kenapa? nurunin anak tangga kayak dikejar-kejar aja?" tanya Juna heran. Zifa tak menjawab, gadis itu malah langsung menyalami tangan Juna dan Ningsih.


"Heh! nggak sopan banget sih kamu! Sapa dulu itu Bimanya, dia udah daritadi nunggu kamu" omel Ningsih karena Zifa seolah menganggap Bima tak ada.


Bima hanya mengangguk "Ya sudah Om, Tante. Kami berangkat dulu. Assalaamu'alaikum" pamitnya sambil mencium tangan Juna dan Ningsih.


"Wa'alaikumussalaam! Sering-sering yah, kemari" ujar Ningsih membuat Zifa meringis di tempatnya. Ia pikir Mamanya akan lupa tawarannya pada Bima tadi.


"Pasti Tante!"


Zifa melotot. Apalagi ini? kenapa Bima jawabnya gitu? Kok cowok ini makin aneh aja?

__ADS_1


"Aku udah bilang kemarin, nggak usah jemput aku" ujar Zifa saat mereka sudah berada di teras rumah.


"Memangnya siapa juga yang jemput kamu?" cibir Bima. Zifa menatap Bima kesal. "Terus kamu ngapain di sini?"


"Motor aku tadi bannya bocor, kebetulan bocornya di dekat rumah kamu. Tuh, kalau nggak percaya!" tunjuknya pada motor yang sudah berada di garasi rumah Zifa. Sejak kapan tuh motor ada di sana? "Jadi, ya aku sekalian aja mau ngerepotin kamu hari ini, hitung-hitung....gantinya yang kemarin aku ngantar jemput kamu" Zifa semakin menatap Bima kesal.


"Maksud kamu, kamu mau numpang di aku? gitu?"


Bima mengangguk santai. "Siniin kunci motor kamu. Aku yang bawa, pulangnya nanti aku bakalan nunggu kamu lagi kayak kemarin"


Zifa meratapi nasibnya dalam hati. Kalau tahu Bima sikapnya menyebalkan kayak gini, dia nggak mau mengiyakan tantangan Nara. Walaupun ini bisa melancarkan misinya, tapi Zifa terlalu ngeri akan sisi lain Bima ini. Sepertinya Zifa akan menemui Nara untuk mengatakan kalau dia menyerah!


"Oh yah, kenapa kemarin nggak balas pesan aku?" tanya Bima sambil menghidupkan motor Zifa. Zifa berusaha mencerna pertanyaan Bima, jadi itu benaran Bima? bukan karena ponselnya dibajak?


"Bengong aja. Buruan naik!" Zifa tersentak dari lamunannya, buru-buru ia naik ke boncengan Bima.


Ayo like, vote dan komennya jangan lupa😊

__ADS_1


__ADS_2