
"Apa salahnya sih Nad, ngetuk pintu dulu!" Dengus Bima saat melihat Nadin memasuki ruangannya sambil menggandeng Zifa.
"Bodoh amat Bim! Oh yah, aku mau ngajak Zifa nemanin aku ngobrol di kantin bisa kan Bim?" Bukannya mengucapkan kata maaf, Nadin malah meminta izin untuk membawa sekertaris Bima.
"Tapi ini masih jam kerja Nad!" Ujar Bima malas. "Lagian emang mau ngobrolin apa sih sampai nggak bisa ditunda dulu?"
"Yah nggak bisa ditundalah, orang sekertaris kamu udah penasaran pakai banget"
Bima mengernyitkan alis bingung. Ia menatap Zifa meminta jawaban, sayangnya gadis itu sedang tak menatap ke arahnya. Bima tersenyum geli, pasti gadis itu masih malu karena kejadian di parkiran tadi.
"Kasih tahu dulu mau ngobrolin apa, baru aku kasih izin!" Ujarnya tegas.
"Ckk! Aku mau bongkar rahasia kamu, jadi kamu pilih aja. Aku ceritain semua rahasia kamu ke Zifa di kantin, atau di sini tepat di depan kamu?" Ancam Nadin.
__ADS_1
Mata Zifa dan Bima seketika melotot mendengar ucapan Nadin. Zifa sejujurnya merasa malu karena secara tak langsung Nadin mengatakan kalau dia penasaran dengan kehidupan Bima, sedangkan Bima. Tak usah di tanya bagaimana. Apa pilihan dari Nadin ini yang disebut orang seperti buah simalakama? Dimakan mati tak dimakanpun mati.
"Nad....jangan ngaco deh!" Peringat Bima.
"Terserah. Aku nyuruh kamu pilih loh Bim, bukan protes. Ooh, ya udah Zifa. Aku ceritain semuanya di sofa itu aja!" Tunjuk Nadin ke arah sofa yang ada di ruangan tersebut.
Bima melotot, lebih baik Nadin membicarakannya di tempat lain saja. Bisa dipastikan ia tak akan punya muka lagi menghadapi Zifa kalau wanita itu benar-benar membuka rahasianya di sini.
"Ya udah, sana! Tapi jangan menjelek-jelekan aku yah Nad!" Pasrah Bima.
"Nadin..." geram Bima. Tawa Nadin pecah seketika. Apalagi melihat wajah Zifa dan Bima yang memerah bagaikan kepiting rebus, wanita yang tengah mengandung itu malah semakin ngakak.
"Benaran takut ternyata! Ya udah ayo Zi, biar aku ceritain semua rahasia Bima. Kalau kamu ilfil langsung bilang yah, biar aku bantu kamu menjauh dari dia dan cari cowok baru" godanya pada Bima.
__ADS_1
Bima memijit pelipisnya karena tingkah Nadin. Ingin marah tapi tak tega, ia tahu Nadin hanya menggodanya. Tapi kenapa membayangkan Zifa bersama orang lain kok Bima malah kepanasan yah? Alih-alih takut rahasianya dibongkar, pria itu malah membayangkan perkataan Nadin yang membuatnya emosi.
"Zi, kamu percaya yang baik-baik aja yah. Kalau yang jelek jangan. Dan satu lagi, kamu jangan sampai ilfil yah ke aku!" Teriak Bima saat Zifa dan Nadin sudah mencapai pintu. Zifa sebenarnya masih sedikit ling-lung, kenapa ia bisa terjebak bersama Bima dan Nadin yang begitu aneh! Nadin yang suka membuka rahasia orang, dan Bima yang fine-fine saja rahasia dibongkar. Kurang aneh apalagi coba dua orang itu?
"Nah, kamu lihat kan Zifa. Dia itu nggak mau kalau kamu jauhin dia. Makanya kalau dia macam-macam ancam aja kayak aku tadi!" Ujar Nadin sambil menutup pintu ruangan Bima. Wanita itu kemudian mengajak Zifa untuk ke kantin padahal jam makan siang masih sangat lama.
"Kamu mau dengar kelanjutan cerita aku tadi nggak Zi?" Tanya Nadin saat mereka sudah duduk.
Zifa mendengus dalam hati, kalau nggak ingin dengar kelanjutannya mana mungkin di ada di sini?
"Eh, tapi kita pesan makanan dulu deh! Soalnya aku lapar! Kamu mau pesan apa?"
Zifa menggeleng "Nggak usah! Aku tadi udah sarapan dari rumah!" Nadin mengangguk. Namun wanita itu tetap memesankan Zifa meski hanya sebuah minuman.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komentarnya jangan pelit-pelit yah😊
Ingat, orang pelit kuburannya sempit😂