Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Berubah


__ADS_3

Target komentar nggak nyampe, tapi aku tetap up. Baik kan akunya nggak biarin kalian nunggu lama-lama. Btw, baca author note di bawah yah. Aku butuh pendapat kalian🥰


Bima tertawa kecil melihat Zifa yang sedang berbaring dengan posisi membelakanginya dengan wajah cemberut. Istrinya itu ternyata orang yang penasarannya sangat tinggi. Ah, Bima lupa kalau Zifa dulu juga mau dekat dengan dia karena penasaran apakah Bima pria normal atau tidak. Mengingat hal itu, otak Bima menerawang jauh ke belakang, di mana masa-masa pedekate-Nya dengan Zifa layaknya pasangan remaja pada umumnya.


"Kamu kok malah ngetawain aku!" Zifa membalik badannya menghadap Bima yang kini sedang bersandar di kepala ranjang.


Bima tak menjawab, pria itu malah membaringkan tubuhnya di samping Zifa dan membawa tubuh sang istri ke dalam lingkungan lengannya.


Zifa yang salah tingkah karena perbuatan Bima mendorong tubuh pria itu. "Ih, malah dekat-dekat lagi!" ketusnya. Ia memalingkan wajahnya agar Bima tak dapat menyaksikan rona merah di pipinya yang terasa panas itu.


Bukannya menjauh, Bima malah semakin mengeratkan pelukannya dan membawa wajah cantik itu kembali menatapnya.


"Kok nggak mau natap suaminya sih? Malah disuruh jauh-jauh lagi" ujarnya menggoda Zifa.


Wajah Zifa semakin memerah, "Apaan sih, Bim. Malu tau"

__ADS_1


Tawa Bima pecah karena ucapan Zifa. Astaga! Istri galaknya ini kalau malu-malu gini benar-benar menggemaskan.


"Kita kan udah suami istri, masa begitu aja malu. Gimana mau lebih kalau aku peluk aja kamu malu-malu?"


Zifa terdiam kaku. Lebih? Astaga! Kenapa Zifa melupakan kewajiban yang satu itu yah? Jangan bilang Bima mau meminta haknya?


"Jangan natap aku kayak aku mau maksain kamu! Asal kamu tau aja, aku menikahi kamu itu karena aku benar-benar ingin membuktikan cinta aku ke kamu. Aku ingin membuktikan kalau cinta yang selama ini aku perjuangin akan berujung di pelaminan seperti harapan aku selama ini" Bima tersenyum pelan sebelum melanjutkan ucapannya.


"Untuk masalah kewajiban yang satu itu, aku akan melakukan jika kita sudah sama-sama siap. Nggak ada salahnya kan, kita menikmati hari-hari kita seperti orang pacaran pada umumnya tapi dalam ikatan yang sudah sah. Intinya, kamu sudah menjadi milik aku itu saja sudah membuat aku senang. Untuk masalah syahwat, anggap aja itu bonusnya karena aku berusaha menjaga agar tidak merusak kamu selama kita pacaran! Jadi, kita nggak perlu terburu-buru dulu kalau kamu memang belum siap!" jelas Bima.


"Aku nggak tahu kebaikan apa yang aku perbuat sampai Allah begitu baik menakdirkan pria seperti kamu sebagai jodoh aku! Aku......nggak tahu harus dengan cara bagaimana lagi untuk mengungkapkan kebahagiaan aku!" ucap Zifa sambil membalas pelukan Bima.


"Mungkin saja itu bukan karena kebaikan kamu, tapi karena rasa benci ke aku saat pertama ketemu dulu makanya Allah membalikkan hati kamu, dari benci jadi cinta!" ujar Bima dengan pedenya.


Zifa mendengus "Rusak suasana aja ih! Lagi romantis-romantisnya juga"

__ADS_1


Bima hanya tertawa mendengar kekesalan Zifa, Zifa yang melihat tawa Bima ikut terhanyut sehingga keduanya tertawa bersama.


"Tapi ngomong-ngomong tentang awal pertemuan kita, kamu benar-benar nyebelin banget sih waktu itu, sumpah!. Sampai-sampai pas pulangnya Nara aku omelin habis-habisan karena saat itu dia biarin aku duduk sama kamu dan dia sama Azraf di tempat lain" cerita Zifa mengingat saat ia mengomeli Nara karena sikap nyebelin Bima ketika mereka sedang di Bioskop.


"Ckk! Padahal waktu itu aku hanya mau nyari perhatian aja sama kamu. Kamu Taukan, kalau aku itu tipe orang yang susah ngelakuin apa yang hati aku inginkan?"


Zifa mengangguk. "Benar juga sih. Tapi kok sekarang beda yah? Semua sikap kamu jadi manis banget. Apa jangan-jangan kamu hanya pura-pura manis aja?" tanya Zifa curiga.


"Enak aja! Itu karena Anaknya Papa Arjuna ini sudah mengubah aku jadi bucin akut!" ujar Bima sambil menarik lembut hidung mungil milik Zifa. Keduanya kemudian kembali tertawa, benar juga sih. Hanya dengan Zifa Bima bisa seperti ini. Kalau bersama orang lain, meski akrab tetap aja aura datar dan dinginnya masih terasa. Apalagi kalau di hadapan orang tak dikenal.


Lanjut? Atau udahan?


Kalau kalian mau lanjut, kasih aku sedikit saran cerita ini mau alurnya kayak gimana biar nggak ngebosenin. Kalau udahan, berarti aku namatinnya di part selanjutnya, jadi siap-siap aja berpisah sama mereka.


Dukungannya jangan lupa🥰☺️

__ADS_1


__ADS_2