Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Akhir dari Bima dan Zifa


__ADS_3

Paginya, Zifa datang ke sekolah dengan tak bersemangat. Bima tak menjemputnya seperti biasa, hingga Zifa harus kembali membawa motornya sendiri.


"Tumben berangkat sendiri, Zi" sapa Nara saat melihat Zifa. Zifa hanya mengangkat bahunya saja sebagai jawaban.


"Kamu marahan sama Bima? Keliatannya kamu nggak bersemangat banget" lagi-lagi Nara bertanya.


"Aku enggak tahu, Nar" jawabnya lemah. Nara menautkan alisnya "maksud kamu?"


"Aku juga bingung. Udahlah, mending kita langsung masuk aja" Zifa menarik lengan Nara, mengajak gadis itu agar segera memasuki kelas. Nara hanya menurut, mungkin Zifa belum siap untuk bercerita.


Tak terasa, bel pulang pun kini sudah berbunyi. Zifa masih sama tak bersemangatnya seperti tadi pagi. Nara sebenarnya tak tega melihat wajah sahabatnya itu.


"Zi, kenapa sih? Apa perlu aku samperin Bima buat labrak tuh cowok? Berani-beraninya dia buat sahabat aku jadi kayak gini" Nara mulai emosi karena Zifa tak mau membuka mulutnya untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Sejak kemarin Bima mengabaikan aku. Bahkan, kemarin dia nggak jemput aku"


Nara terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa? Bukannya pagi itu si Bima masih tetap romantis pada Zifa?


"Kamu udah nelpon dia?" Tanya Nara. Zifa mengangguk. "Hmm. Dan dia nggak menjawab semua panggilan aku"


Nara semakin emosi mendengarnya. Sebenarnya apa maunya Bima?

__ADS_1


"Ya udah, kamu tenang aja. Nanti aku akan cari tahu dari Azraf" Nara mengelus pundak Zifa.


"Nggak usah Nar. Nanti aku sendiri yang akan tanya ke Bima. Rencananya, pulang dari sini aku akan pergi ke sekolah dia" ujar Zifa tak setuju.


"Gimana kalau dia udah pulang duluan?" Tanya Nara ragu.


"Yah besok baru aku ke sana lagi" jawab Zifa. Nara akhirnya setuju saja. "Aku temanin yah" pintanya.


"Enggak usah. Kan kamu bareng sama Azraf. Lagian, Bima itukan sepupu Azraf, jadi aku enggak enak sama Azraf kalau tau aku sama Bima marahan" Nara menghela nafas pelan. Akhirnya ia memilih mengalah.


Zifa melajukan motornya ke sekolah Bima. Banyak ketakutan-ketakutan yang bersarang di kepalanya. Bagaimana kalau Bima mengusirnya? Bagaimana kalau Bima mempermalukannya di sana?


Zifa akhirnya sampai di depan gerbang SMA tempat Bima menuntut ilmu. Ia melirik ke arah parkiran, dan syukurnya ia melihat motor Bima masih di sana bersama beberapa motor yang tersisa.


Sepanjang perjalanan, pikiran Zifa begitu kacau. Ternyata Bima memiliki gadis lain di hatinya. Lalu, untuk apa ia memacari Zifa? Apa Bima benar-benar ingin mempermainkannya? Jadi, semua sikap Bima selama ini hanya kepura-puraan? Kenapa ia tega? Bahkan, hubungan mereka baru beberapa hari saja. Cinta Zifa pada Bima baru masa-masa berseminya, dan langsung disirami racun kekecewaan oleh pria itu.


Zifa menghentikan motornya di tempat yang sepi. Ia menangis sendirian di sana. Rasanya dadanya begitu sesak. Hatinya seperti di tusuk paku. Sakit! Ia sudah menggangtungkan harapannya begitu tinggi pada Bima, karena ia yakin Bima bisa dipercaya. Tapi apa yang Bima lakukan padanya? Bima menyakitinya sangat dalam.


Semenjak hari itu, Zifa berusaha tak lagi memikirkan Bima. Baginya, penghianat harus dilupakan. Bahkan tak pantas hinggap di otak cantiknya. Beberapa kali Nara berusaha membahas tentang Bima, namun Zifa selalu mengalihkan pembicaraan. Ia sama sekali tak ingin tahu tentang pria itu lagi. Begitupun dengan orang tuanya, mereka sering menanyakan Bima. Namun karena selalu diabaikan Zifa, akhirnya mereka tak pernah membahas Bima lagi. Bahkan hingga lima tahun berlalu.


......Tamat......

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Engggak deh, canda😀

__ADS_1


maksud aku tamat kisah cinta mereka saat SMA. Dan nanti episode selanjutnya kita masuk pada kisa saat mereka dewasa nanti😊


__ADS_2