
Dengan langkah lesu Zifa memasuki rumahnya. Keluarga inti dari Papa dan Mamanya juga sudah ada untuk ikut menyaksikan langsung acara lamarannya nanti malam. Zifa hanya mampu menatap sendu ke depan sana, bahkan sapaan dari Neneknya tak ia dengarkan. Saat ini, pikirannya sedang tak berada di sini, melainkan sudah melanglang buana ke tempat Bima.
Zifa menutup pintunya dan langsung merebahkan diri di atas kasur. Air mata kembali mengalir di pipi mulusnya, dan membentuk anak sungai di sana. Ingin rasanya Zifa berteriak sekencang mungkin memaki-maki Bima, sayangnya pria itu tak ada di sini untuk mendengarkan semua ujaran kebenciannya.
Apa takdir mereka hanya berakhir sampai di sini? itulah pertanyaan yang bercokol di dalam otaknya. Kalau benar seperti itu, kenapa tidak dari awal saja mereka tidak ditakdirkan bertemu untuk kedua kalinya? Harapan Zifa bersama Bima begitu tinggi karena ia sudah tahu bagaimana setianya Bima menunggunya, Tapi saat ini Zifa jadi meragukan semuanya.
Ketukan di pintu kamarnya membuat Zifa buru-buru menghapus air matanya. Meski ia tahu itu percuma karena matanya pasti keliatan memerah.
"Masuk" jawabnya sambil bangun dari posisinya.
"Zi, kamu kenapa sayang?" tanya Ningsih, mendekat ke arah putrinya itu.
"Mama kenapa tanya gitu?" balas Zifa balik bertanya.
"Kata Nenek tadi saat kamu masuk penampilan kamu keliatan kacau. sapaannya saja nggak kamu balas. Ada apa sayang? Cerita sama Mama" bujuk. Ningsih.
"Aku.....aku. " Zifa menghela nafasnya sebentar menjeda, ia benar-benar tak sanggup mengeluarkannya. "Ma, lebih baik acara lamarannya nggak usah dilanjutkan lagi, Percuma" tangis Zifa kembali pecah membuat Ningsih kebingungan. Ia segera memeluk putrinya itu dan berusaha memberikan ketenangan dari seorang Ibu.
__ADS_1
"Kenapa sayang? Jangan gini. tenangin diri kamu dulu yah. Jelasin sama Mama, pelan-pelan"
Ningsih membiarkan Zifa tenang lebih dulu. "Bima....pasti nggak akan datang malam ini Ma" ujar Zifa dengan lirih selang beberapa menit kemudian. Tangisnya sudah mereda, tinggal sesegukan yang terdengar sesekali.
"Jadi masalahnya karena Bima nggak akan datang?" tanya Ningsih tersenyum geli. Namun gelengan dari Zifa melunturkan senyum itu. "Terus kenapa sayang?"
"Bima akan menikahi wanita lain Ma" jawab Zifa pelan.
"Astagfirullah! Jangan bercanda Zi!" marah Ningsih.
Zifa menatap sang Mama dengan wajah sendunya "Apa aku keliatan bercanda Ma? Aku dengar sendiri saat ia ngomong sama Pak Rey. Dan asal Mama tahu, semenjak Bima pergi ia nggak pernah ngabarin aku. sekali saja nggak pernah, Ma"
"Kita bicarakan ini dengan Papa yah sayang! Biar Papa yang ngambil keputusan" ujarnya lembut.
Zifa mengangguk "Iya, Ma"
"Kamu mandi dulu, habis itu kita turun untuk bicarain ini" lagi, Zifa hanya mengangguk dan beranjak dari atas kasur menuju kamar mandinya.
__ADS_1
Semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga, termasuk Zifa. Tinggal satu jam lagi waktu acara disepakati, pasti keluarga Bima sebentar lagi akan sampai.
"Kata Mama ada yang mau kamu sampaikan sayang?" tanya Juna. Ia memperhatikan sang anak yang sedari tadi hanya menunduk.
"Zi ingin membatalkan lamaran ini Pa" jawab Zifa pelan.
Rahang Juna terlihat mengeras, tangannya juga mengepal tanda menahan kemarahan. Namun ia berusaha untuk menjernihkan pikirannya. Sebagai kepala keluarga, ia tak boleh mengambil langkah gegabah.
"Jelasin sama Papa apa alasan kamu sehingga ingin mengambil keputusan seperti itu" ucap Juna dengan tegas. Setelah ini, ia baru akan mengambil keputusan bagaimana baiknya. Meski ia tahu ini tak akan berakhir dengan kata baik-baik saja. Cerita Zifa pun mengalir, membuat emosi Juna kian meningkat.
Zifa menangis pilu selesai menceritakan semuanya, Juna kemudian membawa sang putri ke pelukannya. Ia begitu marah, ingin rasanya ia menyusul Bima dan menghabisi pria yang sudah menyakiti anaknya itu. Namun di sisi lain, Juna sedikit bimbang. Bagaimana pun selama ini ia menyaksikan sendiri bagaimana ketulusan Bima pada sang Putri.
"Baiklah, kamu tenang yah. Kita akan menunggu keluarga Bima datang dan membicarakan masalah ini langsung dengan mereka. Karena Papa yakin mereka sudah di perjalanan saat ini" putus Juna. Walau bagaimanapun kemarahannya, namun Juna ingin menyelesaikan semuanya dengan baik-baik karena ini juga mempertaruhkan hubungan persahabatan dua keluarga. Ia tak ingin ada dendam atau apapun di kemudian hari nanti.
Buat yang kemarin marah-marah karena ada konflik aku mohon maaf yah. Ini memang sudah jalan ceritanya🙏🙏
Nggak selamanya kan hubungan manis terus? Dan untuk yang nanya kok sedih Mulu? kapan bahagianya? Kan sebelum ini banyak banget manis-manisnya, nggak sedih-sedih Mulu. masa kalian nggak sadar?
__ADS_1
Intinya, ikutin saja alurnya. Toh kalian tahu kalau aku itu pecinta happy ending. Jadi tenang saja.
note: maafin yah kalau aku baperan☺️