
Zifa mengucek matanya karena Ningsih membangunkannya yang sedang asik tidur siang. Matanya benar-benar mengantuk, maklum saja semalam ia bergadang karena penasaran dengan perasaan Bima yang sesungguhnya.
"Kenapa Ma? Zi masih ngantuk" ujarnya dengan suara parau.
"Ada Bima di bawah. Mandi dulu sana! Baru temuin Bima" suruh Ningsih sambil menarik tangan Zifa agar segera bangkit dari atas kasur.
Mata Zifa membulat. "Bima? Ngapain dia di sini?" tanya Zifa.
"Ya mau ketemu kamulah. Masa ketemu Mama" dengus Ningsih.
Zifa menurut untuk mandi, lagipula hari sudah sore. Dan dia sangat jarang mandi malam.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Zifa langsung turun menemui Bima. Gadis itu mendekat dan duduk di hadapan Bima yang tengah memainkan ponselnya. Ningsih pergi entah ke mana.
"Ngapain ke sini?" tanya Zifa.
Bima mendongak, pria itu tersenyum tipis karena Zifa yang langsung bertanya to the point.
"Kenapa nggak balas pesan aku?" tanya Bima tanpa memberi jawaban pertanyaan Zifa sebelumnya.
__ADS_1
"malas balas pesan orang yang nggak pasti" jawab Zifa dengan ketus.
Bima menghela nafas pelan. "Kita bicarain ini di luar yuk. Nggak enak kalau bicara di sini" ajaknya. Zifa menurut saja, tapi sebelum itu keduanya berpamitan dulu pada Ningsih yang ternyata sedang memasak di dapur.
"ehm" Bima berdehem pelan sebelum memulai pembicaraan. Saat ini keduanya sedang berada di sebuah taman yang tak jauh dari komplek perumahan Zifa. Menuju ke sini saja mereka hanya berjalan kaki.
"Zi, kamu.......salah paham yah, sama sikap aku?" tanya Bima.
Zifa menoleh, menatap Bima yang duduk di sampingnya.
"Maksud kamu?"
"Maksud aku, sikap aku setelah nembak kamu. Kamu pasti mikir kalau aku nggak serius yah?"
"Zi, aku kayak gitu bukan karena nggak serius. Aku benar-benar serius malah. Hanya saja, aku nggak mau terlalu maksain kamu untuk jawab. Aku tahu kamu perlu waktu, bagaimanapun juga kebersamaan kita belum terlalu lama. Aku ingin kamu terbiasa dengan aku, aku ingin kamu menikmati kebersamaan kita secara perlahan. Dengan begitu kamu bakalan mengerti, bagaimana perasaan kamu ke aku yang sebenarnya" jelas Bima panjang lebar. Zifa terperangah, si es batu kalau dengannya kok jadi banyak omong yah?
"Tapi ternyata sikap aku kayak gitu malah bikin kamu salah paham. Bahkan kamu seperti menjauh dari aku"
Zifa gelagapan, "B...bukan gitu Bim. Aku cuma...."
__ADS_1
"Dan aku udah pikirin ini. Ternyata aku salah ngasih kamu waktu, hingga menimbulkan kesalah pahaman di hati kamu. Lagipula, percuma jugakan kalau aku kasih waktu lama. Aku rasa jawabannya bakalan tetap sama nanti. Nggak akan ada yang berubah"
Zifa menatap tak mengerti ke arah Bima. "Maksud kamu?"
"Aku akan meminta jawaban kamu sekarang juga. Aku nggak mau ada kesalah pahaman lagi di antara kita. aku sadar Semakin banyak waktu yang aku beri, bakal semakin banyak pertanyaan yang menimbulkan keraguan di hati kamu. Jadi....." Bima menjeda ucapannya sejenak.
Ia menatap Zifa dengan intens, membuat Zifa ketar-ketir sendiri. "Kamu mau nerima aku jadi pacar kamu? Jawab saja, iya atau enggak"
Zifa melotot. Apa-apaan si Bima ini? Kenapa jadi tiba-tiba? Tapi....Bukannya ini suatu kepastian untuknya tentang perasaan Bima. Zifa merasa hatinya serbah salah. Bima memberinya waktu ia malah kebingungan. Bima meminta jawaban langsung, ia malah nggak suka.
"Zifa? Iya, atau enggak. Kamu ingin kepastian, dan aku juga butuh itu. Kalau memang kamu menolak, aku bakalan berhenti mulai sekarang sebelum perasaan aku makin berkembang"
"Oke! Iya, aku mau kita pacaran" ujar Zifa dengan cepat. Sesaat setelahnya, Zifa memaki-maki mulutnya sendiri di dalam hati. Kenapa ia jadi kayak orang yang sangat ketakutan dijauhi Bima?
"Benaran Zi? Kamu.....bukan karena takut aku menjauh dan hubungan pertemanan kita renggang kan?" tanya Bima.
Zifa mendengus. Kenapa pikiran Bima sejelek itu? Lagian, mana sempat ia memikirkan pertemanan tadi saat Bima mendesak jawabannya. Itu jawaban refleks loh, dan 99% jawaban refleks itu adalah jawaban yang mengandung......kebenaran.
"Zi? Kok diam?"
__ADS_1
"Udah deh, Bim. Aku malu bilang ini, tapi....aku benaran nggak mau kamu jauhin aku. Aku nyaman sama kamu. Dan bisa dibilang, aku s....ss..uk.kka sama kamu" Zifa langsung menutupi wajahnya karena malu. Baginya, mengakui perasaannya pada Bima dan di hadapan cowok itu langsung benar-benar membuatnya malu.
Tuh, tuh, tuh! Ada yang baru jadian. Please kasih hadia ke mereka. Nggak udah pakai duit, pakai jempol aja. Cukup like, vote dan komen udah bikin mereka senang kok😊