Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Perebut


__ADS_3

Zifa memasuki rumahnya dengan wajah memerah. Gadis itu bahkan beberapa kali menepuk-nepuk pipinya, membuat Ningsih yang berada di ruang tengah menatapnya bingung.


"Wa'alaikum salaam anak Mama" ucap Ningsih membuat Zifa terperanjat kaget.


"eh! Mama? Sejak kapan Mama di sini?" tanya Zifa bingung.


"Ya sejak tadi pagilah! Mama kan enggak ke mana-mana, gimana sih" canda Ningsih.


Zifa memutar kedua bola matanya malas, mulai lagi deh Mamanya. "Maksud Zifa, sejak kapan Mama duduk di situ?"


"Udah ah, nggak penting juga. Zi ke kamar dulu"


Ningsih menggeleng pelan akan kelakuan Zifa. Ia yakin ada sesuatu yang terjadi pada anaknya itu. Tapi setahu Ningsih, tadi Zifa baru saja pulang dari Sekolah, dan itu berarti dia bersama Bima. Dan saat anaknya itu masuk rumah, wajahnya memerah. Jangan bilang Zifa habis baper-baperan tadi sama Bima?


Zifa menatap wajahnya di cermin. "Zi, kamu benaran jatuh cinta sama Bima? Masa iya sih? Kan Bima nyebelin" gadis itu berbicara pada bayangannya sendiri. 'Bukannya kadang dia manis?' Zifa segera memundurkan tubuhnya saat bayangan tersebut seolah menjawab pertanyaannya. Apa jatuh cinta bisa membuat orang sesinting ini?

__ADS_1


....................................................


Keesokan harinya, Zifa kembali menemukan Bima di ruang tamu rumahnya untuk ke sekian kali. Zifa mendengus malas, kali ini alasan apa lagi yang akan dipakai Bima.


"Wah, Om sangat senang kalau memang seperti itu. Sebagai orang tua, kadang memang kami takut melepas anaknya menyetir kendaraan sendirian. Apalagi Zifa belum terlalu lancar mengendarai motor. Kalau bukan karena arah sekolahnya dan kantor om berlawanan, Om nggak akan mengizinkan Zifa mengendarai motornya sendiri" Ucapan Juna membuat Zifa melotot. Apa lagi ini?


"Iya Om. Saya juga senang bisa sedikit mengurangi kekhawatiran om"


"Kalian lagi ngomongin apa sih? Kok bawa-bawa kemampuan aku mengendarai motor?" Tanya Zifa langsung.


Juna mengalihkan tatapannya pada sang anak. Ia menepuk sofa yang ia duduki, mengisyaratkan Zifa untuk duduk di sampingnya.


"Begini Zi, Kamu tahukan selama ini Papa selalu khawatir setiap kamu menyetir motor sendiri? Dan hari ini, Bima nawarin diri untuk mengantar jemput kamu setiap hari. Ya udah, Papa iyakan saja. Dengan begitu kan kekhawatiran Papa jadi berkurang" ucapan Juna membuat Zifa terkejut. Kenapa takdir selalu membuatnya terlibat dengan Bima sih? Kalau di awal ia sih nggak masalah. Tapi sejak saat merasakan perasaan aneh ini, Zifa menjadi ragu.


"Pa, kemampuan menyetir Zifa kan udah meningkat" ujar Zifa beralasan.

__ADS_1


"Menurut kamu, tapi menurut penglihatan Papa enggak" balas Juna.


Zifa menatap Bima, ia berusaha memperlihatkan wajah keberatannya pada pria itu, sayangnya Bima hanya membalas tatapannya dengan wajah datar.


"Pa, Zifa nggak mau ngerepotin Bi...."


"Aku nggak merasa direpotkan, karena aku yang nawarin diri" potong Bima. Juna terkekeh pelan, sebagai orang tua, ia paham sikap putrinya itu. Ia tahu Zifa memiliki ketertarikan pada Bima, begitupun sebaliknya. hanya saja anaknya itu masih bingung atau mungkin tak tahu bersikap bagaimana di depan Bima. Makanya semua perkataannya keluar dengan nada kasar. Semua terlihat sangat kentara di matanya.


"Terima aja tawaran Bima, Sayang. Lagian nggak ada ruginya kok di kamu. Malahan untung tiap hari diantar jemput cowok ganteng" sambung Ningsih yang baru saja berjalan dari arah dapur. Di tangannya ada dua cangkir teh.


Zifa kembali ingin membantah, namun Ningsih sudah menarik tangannya ke dapur meninggalkan Bima dan Juna yang tersenyum geli.


"Ma, kok narik tangan Zi? Zi masih mau bicara sama Papa. Zi nggak mau diantar jemput Bima" ujarnya kesal.


"Udah, sekarang lebih baik kamu sarapan daripada mengomel. Papamu sudah memutuskan, terima aja"

__ADS_1


"Kalian memangnya udah sarapan?" tanya Zifa bingung. "Udah tadi, barengan sama Bima" jawab Ningsih santai. Zifa menganga tak percaya, mereka sarapan bareng Bima dan membiarkan Zifa sarapan sendiri? ini yang anak mereka sebenarnya siapa sih? Kenapa Bima seolah merebut perhatian kedua orang tuanya?


Maaf, lama up.


__ADS_2