
Like, vote dan komentarny jangan lupa.
Juna menatap bingung pada sang anak yang melewatinya begitu saja dengan wajah yang memerah. Ia melirik penuh tanya ke arah Ningsih yang berada di belakang Zifa. Apalagi ia melihat ekspresi geli sang istri.
"Kamu apain Zi, sayang?" tanya Juna. Ningsih terkekeh pelan kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Juna. Juna seketika tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Kamu itu jahil banget sih" Ningsih hanya membalasnya dengan cengiran saja.
Sementara Zifa, ia memasuki kamar tamu dan langsung meletakkan pakaian tersebut di atas kasur yang ada di sana. Bima tidak ada di sana, mungkin pria itu sedang berada di kamar mandi. Selesai dengan tugasnya, ia langsung keluar dari sana. Zifa memutar bola matanya malas saat melihat Papa dan Mamanya sedang tertawa saat ia akan menaiki anak tangga. Ia yakin Mamanya itu sedang menceritakan tentang tadi saat mereka di kamar orang tuanya.
Kini keempat orang tersebut sedang menikmati makan malam. Juna berada di kursi yang paling ujung, Ningsih di samping kirinya. Sementara Zifa di samping kanan Juna, dan di sebelah Zifa ada Bima. Selesai makan malam, mereka masih tetap duduk di sana. Zifa yang masih sedikit merasa haus kembali mengambil air untuk ia minum.
"Makasih yah Zi, kata tante Sisi tadi kamu yang nyiapin pakaian ini tadi" Ucap Bima sambil menunjuk pakaian yang melekat di tubuhnya. Yah, pria itu memang terlihat berkali-kali lebih tampan dengan pakaian santai seperti itu.
Uhukk! uhukk!!
Zifa tersedak air yang diminumnya karena Bima menyebutkan kata 'pakaian'. Tiba-tiba saja otaknya teringat benda segi tiga yang sempat menjadi perdebatan antara ia dan Mamanya. Sementara Juna dan Ningsih yang mengetahui alasan Zifa tersedak langsung terbahak. Apalagi melihat wajah Zifa yang kembali menunjukan rona kemerahan.
Bima menatap ketiganya heran, Zifa yang takut jika Mama dan Papanya akan menggodanya di depan Bima langsung menarik tangan cowok itu dari sana tanpa mengatakan apapun.
Bima kembali terbengong saat Zifa membawanya ke teras rumah. "Kenapa tiba-tiba narik aku ke sini?"
"Emm....nggak apa-apa kok. Aku cuma...." Zifa kesusahan mencari alasan. Mana mungkin dia mengatakan kalau dia cuma menghindari Juna dan Ningsih yang akan menggodanya.
__ADS_1
"Cuma apa?" tanya Bima lagi.
"Aku cuma masih mau ngobrol berdua sama kamu! Iya, emm...aku masih kangen sama kamu" wajah gadis itu lagi-lagi merona untuk yang kesekian kalinya. Betapa malunya ia mengatakan hal itu, tapi lebih baik seperti itu bukan daripada harus membahas masalah benda segitiga laknat itu?
Bima menyeringai "Jadi ceritanya masih mau berduaan? Ciee.... yang masih kangen" ledeknya.
Zifa memalingkan wajahnya berpura-pura merajuk, padahal ia hanya tak mau Bima melihat wajahnya yang terasa panas dan memerah. Zifa sadar kalau sedari tadi ia tak berhenti blushing.
"Issh, jangan diledekin Bim, aku malu!" cicitnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan karena Bima mendekatkan wajah mereka untuk melihat ekspresi malu-malu Zifa.
Bima tertawa "Masa ngomong kangen sama pacar sendiri malu, gimana sih?" Bima masih belum berhenti menggodanya membuat Zifa kembali memaki benda tak bersalah itu dalam hati. Gara-gara dia Zifa sedari tadi blushing mulu.
"Assalaamu'alaikum, Mi!"
"Wa'alaikumsalaam, kamu lagi di mana Bima?" tanya Widya.
"Aku lagi di rumah Tante Sisi Mi. Emang kenapa?"
"Kamu bawa kunci rumah nggak?"
Bima berusaha mengingat-ingat, "Enggak Mi. Kunci yang ada di Bima nggak Bima bawa. Bima tadi ganti tas, sedangkan kuncinya tertinggal di tas yang Bima nggak pakai"
__ADS_1
"Astaga! Ini Bim, Mami sama Papi mau nginap di rumah Nenek kamu. Kunci rumah ada di kita, kamu nginap aja dulu yah di rumah Om Juna. Nanti Mami yang bicara dengan mereka!"
Bima menggeleng "Bima nginap di rumah Mama Winda aja!" tolak Bima, lebih baikkan ia menginap di rumah orang tua Azraf.
"Mami lupa bilang kalau Mama Winda kamu juga di sini" Bima mendengus kesal.
"Tapi Bima nggak enak Mi, harus nginap di sini. Lebih baik Bima pulang ke apartemen aja!"
"Loh, kamu nginap sini aja Bim daripada ke apartemen. Lagian apartemen kamu kan jauh dari sini!" Juna yang sedari tadi mendengar obrolan Bima dan Widya memotong ucapan Bima. Sebenarnya ia mau mengajak Bima dan Zifa ke dalam tadi, tapi ia malah mendapati Bima sedang berdebat dengan Widya masalah tempat menginap.
"Nah, itu Om Junamu kan? Sini Mami yang ngomong sama dia!" Bima hanya pasrah saja saat Juna sudah mengambil alih ponselnya.
"Iya, tenang aja! Anak kamu aku izinin malam ini nginap di sini, lagi pula aku percaya sama dia!"
"Iya. Hajar aja kalau dia macam-macam nanti!" Ckk! Ternyata jiwa bar-bar Widya masih ada sampai sekarang.
"Kalau macam-macam yah langsung dipanggilin penghulu lah Wid. Biar mereka ngerasain gimana rasanya nikah mendadak tanpa persiapan" Juna membalasnya dengan candaan.
Bima dan Zifa saling memandang seolah pasrah dengan kelakuan orang tua mereka yang begitu Astagfirullah. Lagipula kan Bima tidurnya di kamar tamu, jadi tak ada yang perlu ditakutkan. Mana mungkin Bima macam-macam, bisa-bisa ia dihapus dari daftar calon suami Zifa.
Readers, aku mau tanya dong. Apa sebelum ini Bima pernah menyebut Maminya dengan kata Mama? Kalau ada aku mohon maaf, aku baru ingat kalau Bima memanggil ibunya dengan kata Mami yah, bukan Mama. Mama itu sebutannya untuk Mamanya Azraf.
__ADS_1