
"Pagi-pagi wajahnya udah masam aja!" teguran Wika yang sedang berjalan di sampingnya membuat Zifa tersentak kaget. Ia menoleh lalu memaksakan senyumnya pada gadis yang sudah sangat akrab dengannya itu. Apalagi semenjak kepergian Bima ke Kota S, Zifa sering menghabiskan waktu makan siang bersama Wika.
"Masih mikirin Pak Bima yah? Positif thinking aja Zi, dia pasti sibuk banget di sana. Apalagi yang bermasalah ini kan ini termasuk salah satu proyek besar Perusahaan" hibur Wika, berharap agar Zifa tidak terlalu memikirkan Bima, meski ia tahu itu sia-sia. Zifa memang curhat dengan Wika tentang Bima.
"Hmm" gumam Zifa. Bagaimana bisa ia tidak khawatir dan berpikiran negatif, malam ini adalah malam acar lamaran dilaksanakan, dan Bima sama sekali belum datang, bahkan mengabarinya pun tidak. Sudah seminggu lebih Bima di sana, dan pria itu sama sekali tak bisa meluangkan waktu sedetik saja untuk mengabarinya, bukankah itu aneh?
"Aku duluan yah" pamit Wika saat perempuan itu sudah akan berbelok menuju ruangannya. Zifa mengangguk pelan sebagai jawaban. Saat ini ia benar-benar lagi banyak pikiran. Bahkan sebenarnya Ningsih sudah melarangnya untuk datang ke Kantor hari ini, ia mengatakan lebih baik Zifa di rumah dan ikut bantu-bantu persiapan sebentar malam. Namun Zifa memilih menolak, karena jika ia di rumah ia pasti akan semakin kepikiran Bima. Lebih baik ia ke Kantor saja, setidaknya dengan menyibukkan diri bersama kertas-kertas dan sejenisnya ia akan melupakan Bima meski hanya sejenak.
Waktu makan siang sudah tiba, Zifa menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil menghela nafas kasar. Kali ini Bima benar-benar membuat emosinya serasa diaduk. Banyak kemungkinan-kemungkinan yang melayang-layang di kepala Zifa, membuat gadis itu ketakutan sendiri.
__ADS_1
Sekali lagi, Zifa menghela nafasnya dengan kasar lalu bangkit berdiri dari tempatnya. Ia berencana akan mengunjungi Ruangan Rey untuk menanyakan apakah Bima pernah memberi kabar padanya atau tidak. Karena mana mungkin Bima tidak akan bertanya tentang keadaan perusahaan di sini kan? Zifa berharap bisa memaksa Rey untuk bicara, agar hatinya sedikit tenang.
Zifa kini sudah berdiri di depan pintu ruangan Rey yang sedikit terbuka. Ia mengetuk pintu itu pelan namun tak mendapat jawaban, Zifa melongok ke dalam dan melihat Rey sedang menerima telepon dengan raut tegang dan Nadin yang terlihat sangat penasaran akan pembicaraan sang suami dengan si penelpon. Gadis itu memilih tak melanjutkan langkahnya, namun juga tidak keluar dari sana.
"Jadi itu alasan kamu nggak ngabarin dia?" tanya Rey dengan nada frustasi. Zifa menegang, ia yakin pasti si lawan bicara adalah pria yang sudah membuatnya kepikiran seminggu ini.
"Dan kamu akan melakukan hal itu? Hah? Jangan bodoh Bima! Ngapain kamu bertanggung jawab jika semua tuduhan itu nggak benar!" nada bicara Rey meninggi, semakin membuat Zifa penasaran.
"Jangan gila Bima! Malam ini acara pelamaran kalian, kamu tega buat dia sakit hati untuk yang kedua kalinya? Pokoknya aku nggak mau tau Bima. Kamu harus hubungin Zifa setelah ini agar kalian nggak ada kesalah pahaman"
__ADS_1
"Bima! Halo! Bim!....Sial!" umpat Rey karena sambungan telepon diputuskan sepihak.
"Ada apa dengan Bima Mas? Apa ada masalah serius?" tanya Nadin, keduanya masih belum menyadari keberadaan Zifa, mungkin karena terlalu fokus dengan panggilan dari Bima tadi.
"Yah, sangat serius. Dan berakibat fatal jika Bima bertindak bodoh" jawab Rey sambil menyugar rambutnya dengan kasar.
"kenapa?" tanya Nadin khawatir.
"Bima dijebak dengan anak Pak Lurah, dan harus menikahi gadis tersebut karena jebakan itu!"
__ADS_1
Nadin yang mendengarnya memekik tertahan karena tak menyangka, sementara Zifa lututnya langsung terasa lemas. Tubuh yang sudah terasa tak bertenaga itu terduduk di lantai, bahkan lengannya terbentur pintu yang membuat Nadin dan Rey tersadar kalau ada orang lain di ruangan itu selain mereka. Dan orang itu adalah Zifa.
Aduhhh!!!!! Kok Bima tega yah? Masa udah mau lamaran nikahin wanita lain sih? Oh yah, gimana menurut kalian part ini? Feel-nya dapat enggak?