
Terakhir kali kami bertemu, dia berjanji akan menyusulku ke negara ini. Aku menunggu, selalu. Bahkan hingga dua tahun lamanya, dia tak juga menepati janjinya, lalu sampai kapan aku harus menunggu seperti ini?
..................................................................................
Sudah sangat lama aku memperhatikannya. Lebih tepatnya sejak hari pertama MOS, dia sudah menarik perhatianku.
Namanya Bintang Putra Arsena, teman-temannya memanggilnya Bintang. Dia adalah Siswa yang terkenal pintar. Ke mana-mana selalu ada buku di tangannya. Walaupun begitu, ia pandai dalam bergaul. Meski ia hanya bersikap ramah pada teman laki-lakinya saja sih, berbeda dengan yang berlawanan jenis. Mungkin itulah sebabnya Bintang terkenal sebagai pria yang dingin di kalangan kami para perempuan.
Karena seringnya memperhatikan Bintang, aku mulai merasakan keanehan saat menatapnya meski dari jauh. Jantungku berdebar kencang, bahkan hanya dengan melihatnya tersenyum bersama teman-temannya pipiku memerah sendiri. Katakanlah reaksiku terlalu lebay, karena nyatanya senyuman itu bukanlah ditujukan untukku.
"Aku liat kamu sering merhatiin Bintang" ujar Nadia, teman dekatku sejak masuk Sekolah Menengah ini.
Wajahku seketika memerah karena ketahuan. Padahal sebisa mungkin aku menatapnya secara sembunyi-sembunyi. Namun ternyata sahabatku ini terlalu peka.
"Aku... Aku cuma, penasaran aja karena liat dia ke mana-mana bawa buku" ujarku beralasan.
Namun sepertinya Nadia adalah orang yang susah untuk dibohongi.
"Masa sih hanya karena itu? Jangan bohong deh Tha. Bahkan aku tahu kamu merhatiin dia dari kita kelas Satu"
Aku menunduk, dan menghela nafas pelan. Rasanya percuma membohongi Nadia.
"Iya. Aku cuma kagum aja sama dia" jawabku. Pipiku rasanya memanas mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Ya, siapa sih Siswi sini yang nggak akan kagum sama Bintang. Bahkan yang sudah punya pacar aja aku yakin pasti mereka kalau liat Bintang akan oleng hatinya" ujar Nadia sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jadi kamu juga?" Tanyaku penasaran.
Nadia mengangguk. "Kalau kagum sih iya. Dia memang mengagumkan kan? Selain pintar dia juga tampan"
Hatiku seperti tercubit mendengar ucapan Nadia. Apa dia juga menyukai Bintang sepertiku? Akan sangat aneh kalau kami menyukai pria yang sama. Oke, aku akui kalau rasa kagumku sudah berkembang menjadi rasa suka. Atau bahkan bisa dikatakan kalau saat ini, aku tengah merasakan yang namanya jatuh cinta untuk pertama kalinya.
"Kenapa kamu jadi murung?" Tanya Nadia. Aku tersentak kaget, namun aku melihat Nadia tertawa. Apa yang lucu?
"Aku tahu nih! Kamu pasti takut aku suka sama Bintang yah? Biar aku tebak, kamu sebenarnya bukan cuma sekedar kagum sama dia"
Nadia kembali tertawa sambil menunjuk pipiku "Pipi kamu merah, Tha" godanya. Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal, kenapa Nadia begitu pintar menebak semua pikiranku sih?
"Tenang aja, aku cuma kagum aja kok. Nggak lebih. Lagian, kamu tahu kan kalau aku itu naksir anak pak Ustad yang tetanggaku itu" dia menepuk pundak ku pelan. Ngomong-ngomong, kami saat ini sedang berada di depan kelas. Teman-temanku yang lain sedang ke Kantin, jadi kami bebas berbicara tanpa takut ada yang mencuri dengar. Terlebih lagi, kelas kami ada di lantai dua. Jadi tak akan terlalu kentara kalau kami sedang memperhatikan Bintang yang saat ini tengah bermain Basket dengan teman-temannya di bawah sana.
"Kamu jangan bilang siapa-siapa yah, kalau aku suka Bintang. Aku malu" ujarku pada Nadia.
"Tenang aja!" Janjinya.
"Tapi ngomong-ngomong...." aku penasaran apa yang akan dikatakan Nadia selanjutnya.
"Apa?" Tanyaku.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak ungkapin aja?" Tanya Nadia.
Aku menggeleng lemah "aku mana berani Nad"
"Loh! Kenapa?" Ujar Nadia seakan tak percaya alasanku.
"Karena dia terlalu tinggi untuk aku gapai. Layaknya Bintang di langit, seindah apapun, dan sejauh manapun usaha yang aku lakukan tetap aja nggak akan aku miliki" aku menjawab jujur.
Nadia malah berdecak sebal. "Emang kamu udah coba?"
Aku menggeleng membuat Nadia menyentil dahiku.
"Kalau gitu kenapa ngucapin kalimat sepuitis tadi, pinterr!?" Geramnya.
Aku meringis pelan, ini hanya firasatku saja. Lagian, mana mau Bintang nerima cewek macam aku? Cewek manja, terus cengeng. Dia pasti bakal ilfill.
"Kamu itu cantik, Tha. Pintar juga, rebutan anak cowok sini, setaralah sama Bintang. Tinggal percaya diri kamu aja ditambahin dikit, maka akan sempurna" ucap Nadia.
Aku menggeleng tak setuju dengan ucapannya. Dia terlalu berlebihan menurutku.
"Udah ah! Ayo kita masuk. Bentar lagi Bel" ujarku mengalihkan pembicaraan. Untung saja Nadia menurut.
Jadi, aku udah bilang kan, kalau cerita ini bakal sedikit berbeda. Dan yah, salah satunya aku memakai POV si perempuan.
__ADS_1
Oh yah, aku mau tanya. Seberapa antusias kalian pada cerita Bita? Jawab di kolom komentar yah☺️😘
jangan lupa dukungannya☺️🤗