Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Aku Akan Mencoba


__ADS_3

setahun telah berlalu semenjak Nadia tahu perasaanku pada Bintang. Kini kami sudah duduk di kelas Tiga SMP.


"Kamu nggak berniat untuk pertimbangin saran aku?" Tanya Nadia suatu sore. Kami saat ini tengah berada di rumahku. Nadia memang sering berkunjung ke rumahku, begitu pula sebaliknya.


Gelengan kepalaku tetap menjadi jawaban untuk pertanyaan Nadia. Aku memang tak berniat mengatakan perasaanku pada Bintang. Biarlah ini akan menjadi kenangan ku semasa SMP, di mana aku merasakan dua hal tentang cinta sekaligus. Yaitu cinta pertama dan cinta dalam diam.


"Ayolah Tha. Siapa tahu ajakan Bintang juga suka sama kamu. Apa salahnya mencoba?" Bujuk Nadia. Entah kenapa, Nadialah yang paling bersemangat kalau membahas ini. Katanya ia adalah Bitashipper, alias Bintang Talia shipper. Benar-benar aneh.


"Aku tetap nggak mau. Masa aku duluan yang nyatain. Lagian, kalau Bintang suka sama aku pasti ada tanda-tanda. Nah, dia kenal aku aja enggak"


"Ini ni, tipe-tipe orang yang kalah sebelum perang" gerutunya. Aku meringis, mau bagaimana lagi. Kalau Bintang nolak aku kan akan malu. Apalagi dengan sifat cengeng yang ada di aku ini, bisa-bisa aku malah nangis di depan Bintang kalau misalnya dia nolak aku.

__ADS_1


"Thal, bentar lagi kita lulus. Kalau kamu mendam terus-terusan perasaan kamu, kamu yakin nggak menyesal? Kan setelah lulus kamu nggak akan lagi ketemu Bintang" aku terdiam, benar juga. Bagaimana kalau meski tak melihatnya, perasaanku tetap ada?


"Dan lagi nih ya, kata Kakakku. Kalau kita memendam perasaan sama lawan jenis terus-menerus, wajah kita bakal jerawatan. Emang kamu mau jerawatan?"


Aku bergidik ngeri membayangkan perkataan Nadia. Bayangkan saja, memiliki satu jerawat rasanya sangat sakit. Bahkan pertama kali tumbuh jerawat saat aku datang bulan untuk yang pertama kalinya juga, aku sempat menangis semalaman karena rasanya sangat sakit. Sampai-sampai Mama dan Papa aku kelimpungan saat itu.


"Kamu jangan nakutin aku, Nad" aku berharap ucapan Nadia hanya sekedar kalimat membuat aku takut dan akhirnya menyerah lalu mengikuti sarannya.


"Gimana? Masih mau mendam? Yang penting aku udah ngingatin yah. Kalau saat kita lulus dan kamu jadi jerawatan jangan salahin aku loh" Nadia menaik turunkan alisnya, membuatku semakin tak tenang. Masa iya sih aku harus bilang sama Bintang?


Aku rasanya ingin menangis karena takut. Apalagi aku tiba-tiba teringat dengan seorang perempuan yang waktu itu datang ke Dokter kecantikan langganan Mamaku. Waktu itu Mama ngajak aku mampir sebentar, karena Dokter perawatan kecantikan langganan Mama itu juga sahabatnya. Saat kami di sana, perempuan itu datang dan melakukan konsultasi dengan Dokter Adela--nama Dokter yang kami datangi.

__ADS_1


Ia datang untuk berkonsultasi masalah jerawat. Wajahnya memang dipenuhi jerawat, yang terlihat sangat besar. Aku saja meringis melihatnya, pasti sangat sakit. Ia juga menceritakan, kalau dia sering mendapat hinaan dan Bullyan karena wajahnya. Padahal kalau dipikir-pikir, memangnya jerawat sebanyak itu mau dia? Kan tidak. Aku merasa kasihan padanya, dalam hati aku mengutuk orang-orang yang suka membuly.


Mereka pasti tidak tahu bagaimana rasanya di posisi dia. Menanggung hinaan yang datang, bahkan juga rasa sakit di bagian yang ditumbuhi jerawat itu juga. Kalau aku di posisinya, aku nggak bakalan sekuat dia.


"Jadi, gimana? Yakin masih mau mendam?" Tanya Nadia.


Aku menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Antara takut dan juga sedih mengingat cerita Kakak perempuan itu.


"Aku....aku akan coba bilang sama Bintang" ujarku akhirnya.


Dukungannya jangan lupa☺️

__ADS_1


__ADS_2