
Like, vote dan komentarnya jangan lupa. Baca author note juga yah, soalnya ada hal penting😊
Zifa menghela nafas menenangkan dirinya saat Bima berhenti di depan meja kerjanya. "Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Zifa sok ramah padahal dalam hatinya menahan kekesalan akibat kelakuan Bima tadi.
"Ke ruangan saya sekarang!" suruh Bima dengan datar. Zifa menggerutu dalam hati 'Tadi berlaku sinting, sekarang datar banget. Jangan-jangan Bos ini punya banyak kepribadian!'
"Saya hitung sampai lima, kalau kamu nggak masuk ke dalam sini maka saya tak segan-segan akan mengatakan pada semua karyawan kalau gadis yang mereka lihat bersama saya di cafe itu adalah kamu" ancam Bima saat Zifa tengah melamun sambil mengerucutkan bibirnya. Ia yakin kalau gadis itu sedang memaki dirinya dalam hati.
Mata Zifa melotot mendengarnya, dengan buru-buru ia berlari memasuki ruangan Bima, menyusul langkah panjang pria dingin itu.
"Tutup pintunya!" suruh Bima membuat langkah Zifa terhenti. Zifa menatap Bima melongo, kenapa pintunya harus di tutup? Apalagi melihat wajah Bima saat ini, Zifa takut pria itu akan mencelakainya. Alih-alih ia berpikir kalau Bima akan melakukan hal yang iya-iya padanya. Menurutnya, mana mau Bima melakukan hal tak senonoh padanya, kalau membunuhnya mungkin saja.
"Jangan berpikir macam-macam. Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu kecuali saat kita sudah sah!" Apa Zifa tak sadar kalau Bima selalu tak akan berbicara formal jika mereka hanya berdua? Sepertinya tidak! Zifa terlalu fokus pada semua sikap menyebalkan Bima.
"S...ssah? A...apanya yang sah?" tanya Zifa gagap. Sebenarnya gadis itu sedang salah tingkah.
"Sholat sama puasa yang sah! Capek aku ngomong sama orang yang nggak peka!" ujar Bima. Nada kesal terdengar sangat kentara dari suara pria itu. Apa pria itu merajuk?
__ADS_1
"Duduk!" suruh Bima sambil menunjuk sofa yang ada di ruangannya tersebut. Zifa menurut. Namun sebelum itu ia menutup pintu seperti yang diperintahkan Bima. Lagipula Bima sudah berjanji tak akan macam-macam padanya. Bima ikut mendudukkan diri di sampingnya.
"Kamu pikir aku akan maafin begitu saja saat kamu ngatain bos kamu ini nggak waras saat di kantin tadi?" tanya Bima mengingatkan Zifa kalimatnya sebelum meninggalkan Bima di kantin.
Zifa meringis, iya juga sih! Ia yang hanya bawahan bisa-bisanya mengatai bosnya. Tepat di depannya lagi, benar-benar tak sopan. Tapikan kelakuan Bima sendiri yang membuatnya mengeluarkan kalimat itu.
"Terus Bapak mau menghukum saya? Atau mau motong gaji saya? Oooh, saya tahu. Pasti bapak mau mecat saya yah? Kalau benaran Bapak mecat saya nggak apa-apa kok, saya akan dengan senang hat....."
"Berisik Zi! Aku nggak akan ngelakuin semua yang kamu ucapkan tadi" potong Bima membuat Zifa menatapnya heran.
Bima mengangguk "Saya memang belum memaafkan kamu. Tapi tiga hal yang kamu sebutkan tadi bukan keinginan saya. Apalagi yang ke tiga, jangan berharap akan saya lakukan" ujarnya tegas.
Zifa menunduk lesuh. Niat hati ingin Bima segera memecatnya, eh malah ternyata bukan itu yang pria itu mau.
"Terus Bapak mau apa dari saya?" tanya Zifa tak bersemangat.
"Aku hanya mau kita berdamai. Aku bosan tiap waktu kita berdebat terus"
__ADS_1
Zifa melotot kaget. Apa Bima serius? "Zi, apa salahnya kita berdamai? Kalau memang di masa lalu aku ada salah, maafin kesalahan aku. Aku bahkan sudah memaafkan kesalahan kamu sejak lama!"
Zifa seketika salah tingkah. Memaafkan kesalahan Bima? Bukannya Bima nggak salah yah? yang salahkan Zifa karena sudah salah paham dan mengambil kesimpulan sendiri. Bahkan ia membenci pria itu bertahun-tahun. Terus apa katanya tadi? Salah Zifa? Yang mana? Apa dia tahu Zifa salah paham? Sepertinya enggak. Lalu salah yang mana yang Bima maksud?
"Ma...maksud Bapak sa...."
"Kita nggak usah bahas yang lalu-lalu. Aku hanya ingin kita berdamai. Kamu maukan berdamai sama aku?" ucap Bima penuh harap. Zifa menatap mata Bima dengan lekat, namun hanya pancaran kejujuran yang ia dapati di sana. Bukankah mata tak pernah bisa bohong?
"O...oke! Ayo kita berdamai" Entah karena terlalu senang atau apa, Bima malah membawa Zifa ke pelukannya.
"Sudah lama aku menantikan momen seperti ini! Makasih Zi, makasih sudah mau berdamai dengan aku! I Miss You" ujar Bima membuat tubuh Zifa seketika menegang.
Miss You Yoo Bima (Karena Zifa nggak jawab biar author aja yang jawab✌)
Ooh yah, mau bilang. Kemungkinan aku akan up nanti senin. Soalnya hari ini kuotaku akan habis. Jadi maaf yah🙏🙏
Doakan saja hari senin aku bisa double up😊
__ADS_1