Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Bapak-bapak


__ADS_3

Ingat! Like, vote dan komentarnya okey?


Zifa menghampiri Nara yang kini tengah menunggunya di sebuah meja restoran dengan langkah cepat. Nara tadi mengirimkannya pesan, mengajak Zifa ketemuan sepulang gadis itu dari kantor dan Zifa menyetujuinya.


"Sorry Nar, buat kamu nunggu lama" ucap Zifa dengan raut menyesal sambil mendudukkan diri di kursi yang berhadapan dengan Nara.


"Nggak apa-apa kok. Aku juga belum terlalu lama di sini"


Mereka janjian untuk bertemu sekaligus makan malam bersama. Hal itu disebabkan pekerjaan Zifa yang mengharuskannya pulang setelah magrib. Tadi memang pekerjaannya sebelumnya hanya beberapa berkas saja. Namun saat Miss Nadin pergi dari ruangan Bima, Bosnya itu menghampiri Zifa. Bima menyuruhnya mengambil berkas yang sedang dikerjakan Rey untuk gadis itu kerjakan. Katanya itu adalah hukuman karena Zifa tadi sempat membuat Miss Nadin menunggu bukan langsung menyuruhnya masuk. Zifa ingin protes, namun apa daya dia hanyalah bawahan. Mau protespun Bima tak akan mau mendengarkan.


"Kamu udah sholat tadi?" tanya Nara. Zifa mengangguk "Iya. Udah tadi, di Mushala Kantor" Nara menanggapinya dengan anggukan.


"Oh yah, kamu belum pesan?"


Nara menggeleng "Belum. Kita tunggu Mas Azraf dulu yah, baru pesan"

__ADS_1


"Mas?" tanya Zifa sambil menatap Nara dengan tatapan geli mungkin?


Wajah Nara memerah "Iya. Kita nggak mungkin kan hanya saling menyebut nama masing-masing padahal udah nikah? Meski awalnya agak gimana gitu sih, tapi yah mau nggak mau harus terbiasa dengan panggilan itu"


Zifa mengangguk mengerti. "Terus Azraf manggil kamu apa? Mbak?"


Nara menatap Zifa kesal, "ya enggaklah. Dia manggil aku adek, atau nggak sayang. Manis nggak sih?"


Zifa hanya mengangguk saja. "Eh, itu mereka" tunjuk Nara ke belakang Zifa karena gadis itu membelakangi pintu.


"Eh, jangan salah paham Zi. Tadi Bima nyamperin Mas Azraf di kantornya, katanya ada yang mau ia bahas sama Mas Azraf malam ini. Ya udah, sekalian aja mereka bahas di sini setelah makan nanti" jawab Nara dengan suara pelan agar tak terdengar dua pria yang kini semakin mendekat ke meja mereka.


"Kamu udah nunggu lama Dek?" tanya Azraf. Nara mengangguk "Lumayan. Tapi tadi ada Zifa yang nemanin jadi nggak kerasa"


Azraf mendekat ke arah Nara dan menyodorkan tangannya. Nara mencium punggung tangan suaminya itu dan dibalas Azraf dengan mencium keningnya.

__ADS_1


Zifa yang melihat hal tersebut hanya menggeleng pelan. Setidaknya mereka mengerti suasana kek. Bukan malah bermesraan saat bersama dengan dua orang yang mantanan.


"Kenapa kamu natap mereka gitu? kamu iri?" suara Bima memasuki gendang telinganya. Zifa menoleh pada pria itu yang kini tengah menarik kursi di samping Zifa untuk ia duduki.


Zifa hanya menatap Bima malas tanpa menjawab ucapan pria itu.


"Kamu nggak menjawab pertanyaan saya. Kamu lupa kalau saya bos kamu Zifa?"


Zifa mendengus pelan. "Biar saya ingatkan pada Bapak. Ini di luar kantor, jadi saya bebas tanpa harus terikat peraturan Bapak. Meskipun Bapak ngoceh sebanyak apapun dan saya nggak mendengarkan itu hak saya" ujar Zifa.


"Lalu kalau menurut kamu begitu, kenapa kamu masih manggil aku Bapak?" Tanya Bima sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Karena wajah datar anda sudah terlihat seperti Bapak-bapak!" balas Zifa membuat Nara dan Azraf yang kini sedang serius menonton dua orang tersebut berdebat menjadi tertawa ngakak.


"Gila Bim, kamu dibilang Bapak-bapak sama mantan" ucap Azraf di tengah tawanya.

__ADS_1


__ADS_2