
Dua remaja berjenis kelamin berbeda itu makan hanya ditemani kesunyian. Zifa tak tahu harus bersikap bagaimana, sedangkan Bima memang sudah kodratnya cowok itu terlahir jarang berbicara.
Zifa pikir Bima akan memaksanya untuk menjawab pertanyaannya tadi, ternyata cowok itu mengikuti kemauannya untuk langsung menyantap makanan yang ada di atas meja tersebut. Bahkan sampai mereka pulangpun, Bima sama sekali tak menyinggung masalah di Cafe tadi, membuat Zifa kebingungan sendiri.
Zifa turun dari mobil milik Bima, cowok itu memang sengaja membawa mobil, entah apa alasannya Zifa tak tahu. Ia kemudian berpamitan masuk ke dalam rumahnya, Bima hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Sesampainya di kamar, Zifa merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil memandangi langit-langit kamar. Ningsih yang melintas di depan kamar Zifa, tak sengaja melirik ke dalam dan mengernyit heran karena Zifa sudah kembali.
Ningsih mendekati sang anak "Kok cepat banget pulangnya? Bukannya seharusnya kencan itu menghabiskan waktu yang lama yah?"
Zifa bangun dari posisinya. "Siapa yang kencan sih Ma! Zi sama Bima nggak kencan" elaknya.
"Lah, terus?"
"Nggak tahu. Tanya aja sama Bima. Bilangnya nggak mau bikin aku kebingungan sendiri, nyatanya aku malah makin bingung sama sikapnya setelah tadi. Emang dasar mahluk kutub!" Zifa mengeluarkan segala kekesalannya pada sang Mama.
__ADS_1
"kalian berantem?" tanya Ningsih menyelidik.
Zifa menggeleng. "Enggak! Tapi dia bikin Zifa bingung Ma. Udahlah, bahas Bima bikin Zi malas" ujarnya sembari kembali membaringkan tubuhnya.
Ningsih mendudukkan diri di atas ranjang Zifa, kemudian mengelus rambut anaknya itu dengan lembut.
"Emang Bima bersikap kayak gimana?" tanya Ningsih lembut. Zifa bimbang ingin menceritakan pada Mamanya atau tidak, namun sepertinya ini harus. Siapa tahu saja Mamanya punya solusi.
"Bima bilang dia suka sama Zifa. Katanya dia nggak mau bikin Zi kebingungan sendiri sama sikap dia yang aneh itu, makanya dia cepat-cepat ngungkapin. Dia minta Zifa untuk jadi pacarnya dia" jelasnya.
"Terus kamu udah jawab?"
Ningsih tersenyum kecil mendengarnya. Jadi benar dugaannya dan Juna selama ini? kalau di antara Bima dan Zifa ada sesuatu.
"Apa yang kamu rasain saat Bima bilang suka sama kamu?"
__ADS_1
Zifa bangun dari tidurnya. Ia menghadap sang Mama dan menaruh telunjuknya di pelipis tanda berpikir. "Emmmm.....rasanya jantung Zifa mau loncat dari tempatnya. Perut Zifa juga melilit, terus....pokoknya Zifa sulit mendefinisikannya Ma"
Ningsih terkekeh pelan, karena lucu akan ekspresi anaknya itu. "Kamu aja yang ditembak bisa kayak gitu, gimana sama Bima? Dan kamu malah mengalihkan topik"
Zifa menggeleng pelan. "Tapikan Bima cowok Ma. Jadi beda dong perasaannya sama aku" sangkal Zifa membela diri.
"Mau dia cowok ataupun cewek, tetap aja perasaannya sama saat bersama orang yang ia cintai, sayang! Hanya saja, cowok memang harus lebih berani mengungkapkan lebih dulu. Ia harus berusaha melawan kegugupannya, agar bisa mengungkapkan perasaannya. Begitupun Bima, dia pasti berusaha melawan rasa gugup itu. Dan kamu malah mengalihkan topik"
Zifa terdiam. Apa benar seperti itu? "Bima nggak menyinggung lagi masalah itu bukan karena ingin buat kamu kebingungan atau karena dia nggak serius. Tapi mungkin saja ia merasa takut akan jawaban kamu nggak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Kamu sudah mengalihkan topi sejak awal, bukankah itu artinya kamu mengisyaratkan kamu butuh waktu. Jadi Bima jangan bilang Bima nggak peka, karena menurut Mama dia sangat peka"
"Terus kenapa dia langsung ngajak pulang? Bukannya kalau kita jatuh cinta, kita rasanya ingin selalu menghabiskan waktu dengan orang yang kita cintai?" Ningsih kembali tersenyum memdengar pertanyaan Zifa.
"Mama sudah bilang bukan, kalau Bima itu sangat peka sama perasaan kamu. Memangnya kamu bisa berpikir kalau ada bersama Bima? Paling-paling kalau kalian menghabiskan waktu sampai sore nanti, yang ada hanya diisi dengan kecanggungan kan?"
Zifa kembali mencerna ucapan Mamanya. "Ya sudah, Mama ke bawah dulu. Kamu kayaknya butuh waktu sendiri untuk berpikir" ujar Ningsih, wanita itu kemudian pergi meninggalkan kamar Zifa setelah anaknya itu mengangguk.
__ADS_1
"Apa ia Bima seperti yang dikatakan Mama? Masa sih, si manusia Kutub itu sangat peka sama aku? Tapi.....semua yang dikatakan Mama semuanya benar. Tau ah, pusing lama-lama mikirin Bima"
Like, vote dan komentarnya selalu ditunggu😊