Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Bima yang membingungkan


__ADS_3

Zifa bingung, saat sampai di halaman sekolah, namun ia tak mendapati sosok Bima di parkiran seperti biasanya. Padahal kebiasaan pria itu adalah sudah berdiri di parkiran sebelum Zifa keluar dari sekolahnya.


"Aku temanin kamu nunggu Bima aja yah" ucap Nara. Zifa menggeleng, kasihan Azraf kalau terlalu lama menunggu Nara yang menemani Zifa. Lagipula, Bima pasti tidak lama lagi akan datang.


"Nggak perlu. Lagipula, Bima pasti sebentar lagi akan datang"


Nara akhirnya mengikuti perkataan Zifa. Kini tinggallah Zifa sendirian di parkiran, menunggu kedatangan Bima. Sejam berlalu, parkiran bahkan nyaris kosong namun sosok Bima tidak juga muncul. Zifa mulai gelisah, ia kemudian menghubungi kekasihnya itu. Takut terjadi apa-apa.


Panggilan pertama tak dijawab, kedua, ketiga, bahkan sampai ke tujuh pun tak kunjung di angkat. Zifa mendesah kasar, ada apa sebenarnya? Ia khawatir terjadi sesuatu pada Bima.


Karena hari sudah mulai sore, Zifa akhirnya memesan taksi online untuk ia pulang. Sepanjang jalan, pikirannya hanya ada Bima, Bima dan Bima. Ada apa sebenarnya dengan cowok itu?


Sesampainya di rumah, Zifa langsung mandi. Ia berendam untuk mengalihkan pikirannya sejenak.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, namun Bima sama sekali belum juga menghubunginya balik. Dan saat ia menelpon, Bima malah tak kunjung menjawab panggilannya seperti tadi siang.


"Apa aku telepon Azraf aja yah?" Gumamnya. Ia kemudian memutuskan untuk menghubungi Azraf, setidaknya agar ia tahu kalau Bima sedang baik-baik saja.

__ADS_1


"Halo"


"Halo, Azraf"


"Tumben kamu hubungin aku? Ada apa?" Tanya Azraf penasaran.


"Bima ada?" Tanya Zifa. Azraf mengernyitkan alisnya. Kenapa Zifa menanyakan Bima padanya? Jangan bilang Zifa gengsi menghubungi Bima duluan.


"Ada. Dia di kamarnya kok. Kenapa nggak langsung nelfon ke dia aja? Kamu gengsi yah?" Goda Azraf.


"Oh, ya udah kalau gitu. Aku cuma nanyain itu aja" Zifa kemudian memutuskan panggilannya.


Zifa berusaha memikirkan, apa ia ada salah pada Bima? Tapi setahunya, tadi pagi mereka baik-baik saja. Bahkan, Bima berjanji akan menjemputnya sepulang sekolah.


"Apa jangan-jangan ponsel Bima jatuh"


Zifa kembali menghubungi nomor Azraf.

__ADS_1


"Kenapa lagi Zi?" Tanya Azraf bingung.


"Kamu liat Bima megang ponselnya apa enggak?" Zifa yakin Azraf heran akan tingkahnya. Tapi masa bodohlah, daripada ia penasaran.


"Iya. Sekarang aja dia lagi main game di kamarnya"


Tenggorokan Zifa rasanya tercekat. Sebenarnya ada apa dengan Bima? Kenapa pria itu tiba-tiba bertingkah seperti ini? Bahkan pesan-pesan manis yang biasa ia kirimkan hari ini tak masuk di ponsel Zifa.


"Kamu.....yakin itu ponselnya?" Tanya Zifa terbata. Hatinya gelisah saat ini, apa mungkin ia punya salah? Tapi apa?


"Ya iyalah. Orang dia cuma punya satu ponsel"


Tanpa mengatakan apapun lagi, Zifa mematikan sambungan panggilan tersebut. Hatinya berdenyut nyeri. Kenapa Bima tega mengabaikannya? Kemana Bima yang romantis dan selalu bersikap manis padanya? Apa semua kata-kata cinta pria itu hanya bualan belaka? Apa pria itu hanya mempermainkannya? Apa dia dendam pada Zifa karena di awal pertemuan mereka Zifa mulai mengibarkan bendera permusuhan? Tapi, bukankah Bima mengatakan ia sangat mencintai Zifa? Bukankah Bima juga mengatakan kalau ia jatuh cinta pada Zifa pada pandangan pertama? Atau semua ucapannya hanya untuk memperdayai Zifa? Ketakutan mulai menghantui pemikiran Zifa.


"Kenapa kamu buat aku bingung, Bim!" Gumamnya lemah. Air mata seketika membanjiri wajahnya.


Stop dulu yah, manis-manisnya. kita mulai masuk ke permasalahan utama nih. like, vote dan komentarnya jangan lupa😊

__ADS_1


__ADS_2