Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Baper tanggung sendiri


__ADS_3

Zifa membungkukan badannya saat Bima datang. "Selamat pagi Pak!" Sapanya. Seperti biasa, Bima hanya melewatinya saja tanpa membalas sapaannya.


Tak berselang lama, Pak Rey datang menghampiri meja Zifa.


"Apa jadwal Pak Bos hari ini?" Tanya Rey. Zifa menyebutkan beberapa jadwal Bima.


"Oh yah, kamu ada masalah apa sama Pak Bos?" Tanya Rey.


Zifa menautkan alisnya bingung. "Ituloh, masa dia nyuruh aku aja yang berbicara dengan kamu jika ada yang dia perlukan. Katanya dia nggak mau bicara sama kamu" jelas Rey.


Zifa terlihat heran. "Tapi bukannya ia memangĀ  jarang berbicara pada saya yah Pak? Jadi wajar kan dia nyuruh Bapak mewakili?"


Rey menggeleng. "Enggak. Ini aneh! Biasanya meski jarang berbicara basa-basi, tapi Pak Bos akan langsung menanyakan jadwal sendirikan ke kamu? Kenapa kali ini semua yang ia perlukan jika menyangkut tugas kamu harus saya yang menyampaikan coba?"


Zifa menggaruk pelipisnya bingung. Mana dia tahu. "Saya juga kurang tahu Pak!"


"Dia kok kayak orang lagi ngambek yah?" Gumam Rey pelan namun masih di dengar oleh Zifa.


Tiba-tiba Zifa teringat dengan perkataannya semalam. "Awas saja kalau Bapak sampai berbicara pada saya lagi" apa gara-gara kalimat itu Bima tidak ingin berbicara dengannya? Tapi bukannya pria itu sendiri yang mengatakan hanya sampai dia mengantarkan Zifa? Kenapa malah berlanjut sampai sekarang?


"Ya sudah Zifa, kalau begitu saya masuk dulu. Mau ngingatin Pak Bos akan jadwalnya hari ini" Zifa mengangguk.

__ADS_1


Sepeninggal Rey, Zifa menggaruk peilipisnya yang tak gatal. Apa iya hanya gara-gara ucapannya semalam? Kalau benar, otak Bima pasti benar-benar bermasalah karena bertingkah sekonyol itu.


Saat ini, Zifa tengah menemani Bima bertemu seorang klien di sebuah Restoran, restoran yang sama saat mereka bertemu Miss Nadin dulu. Sejak tadi, keduanya hanya diam tak ada pembicaraan.


"Selamat siang Pak Bima!" Sapa pria paruh bayah dengan perut sedikit buncit itu menyambut kedatangan Zifa dan Bima.


"Siang Pak Hendro" balas Bima. Mereka kemudian saling menjabat. Kini mata Pak Hendro tertuju pada Zifa, mungkin karena pria paruh bayah itu baru melihatnya.


"Sekertaris baru" ucap Bima seolah mengerti pikiran Pak Hendro. Pak Hendro mengangguk. Bima menatap Zifa, kemudian melirik pada Pak Hendro. Zifa langsung mengerti, kalau pria itu menyuruhnya mengenalkan diri.


"Zifa Pak, Sekertaris baru Pak Bima" setelahnya Pak Hendro juga mengenalkan sekertarisnya pada Zifa. Ke empat orang tersebut kemudian membahas masalah perusahaan.


Selama pembicaraan, Bima tak pernah berbicara pada Zifa. Jika ada yang akan ia perlukan, ia hanya akan memberi lirikan pada gadis itu. Zifa sampai kewalahan menebak-nebak apa yang dimaksud Bima. Sepertinya pulang dari sini Zifa akan langsung menanyakan pada Bima kenapa pria itu tak mau berbicara padanya.


Bima tetap diam. Pria itu dengan santai menghidupkan mesin mobilnya dan langsung menjalankan mobil tersebut.


"Apa ini gara-gara perkataan saya semalam? Waktu saya melarang Bapak bicara sama saya?"


Bima kemudian menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia menatap Zifa, tak disangka cowok itu mengangguki perkataan Zifa membuat Zifa menganga tak percaya.


Zifa seketika tak dapat lagi menahan tawanya. Ia tak habis pikir, di mana otak cerdas seorang Bima. Apalagi melihat wajah pria itu yang menatapnya polos seolah tak tahu di mana letak kelucuan yang membuat Zifa tertawa.

__ADS_1


"Hahahaha. Oke, oke. Sekarang saya izinkan Bapak bicara pada saya!" Ujar Zifa masih dengan tawanya. Kalau dipikir-pikir, ia repot sendiri juga kalau Bima tak mau bicara padanya.


Bima terlihat menghela nafas legah, seakan pria itu benar-benar tersiksa dari tadi tak berbicara padanya. Atau lebih tepatnya tak mengomentari Zifa.


"Lagipula, kenapa Bapak tetap nggak mau bicara ke saya bahkan saat di tempat kerja sih? Mungkin aja Pak Hendro heran tadi liat tingkah Bapak!"


Bima mendengus. "Kan kamu sendiri yang nyuruh saya" ia tak terima Zifa menertawakannya. Toh semua ini gara-gara gadis itu.


"Tapikan itu hanya berlaku tadi malam saat Bapak ngantar saya. Kalau sampai di kantor kayak tadi, saya sendiri yang repot Pak!" Balas Zifa tak mau kalah.


"Tapi kamu semalam nggak bilang berlaku hanya malam itu saja!"


Zifa memilih mengalah saja. "Iya, iya. Saya yang salah!" Ujarnya menyerah.


"Kamu tahu kenapa saya ngelakuin keinginan kamu Zifa?" Tanya Bima tiba-tiba.


Zifa menatap ke arah Bima yang kini juga tengah menatapnya serius. "Memang kenapa?" Tanya Zifa bingung


"Karena saya ingin membuat kamu nyaman" jawab Bima sambil memperlihatkan senyumnya yang sangat tipis.


"Bapak mau baperin saya?" Tanya Zifa sambil menatap Bima menyelidik. Bima menggeleng dan menyeringai sinis. "Jangan ge-er. Maksud saya, membuat kamu nyaman saat bekerja jadi sekertaris saya. Kalau kamu baper tanggung sendirilah!" Ujar Bima membuat Zifa mendengus. 'Mulai lagikan!' Batinnya.

__ADS_1


Like, komen dan votenya jangan lupa😊


__ADS_2