
Like, komen dan votenya selalu dinanti😊
Zifa kini tengah menikmati segelas minuman pesanannya dan juga cake coklat yang dipesannya di cafe itu. Ia berusaha menghilangkan kekesalannya akan kejadian tadi.
"Boleh saya duduk di sini?" tanya seseorang, namun Zifa memilih tetap menikmati hidangan di hadapannya di banding merespon pertanyaan tersebut.
Dalam hati Zifa mengutuk si pemilik pertanyaan tadi. Andai itu orang baru mungkin Zifa akan sedikit beramah tamah. Namun Zifa mengenal suara itu, siapa lagi pemiliknya kalau bukan pria yang membuatnya kesal tadi?!
"Saya tadi nggak sengaja melihat Cafe ini dan seketika ingin singgah. Nggak nyangka ketemu kamu di sini" jelas Bima yang sebenarnya tak perlu. Lagipula, penjelasannya itu begitu tak masuk akal. Zifa tahu pria itu pasti mengikutinya.
Zifa langsung berdiri setelah menghabiskan makanan dan minumannya. Ia menuju kasir dan segera membayar.
Zifa dapat merasakan kalau Bima mengikuti langkahnya juga. "Karena kita searah, ayo pulang bareng" ujar Bima, pria itu kini sudah berjalan bersisian dengan Zifa.
__ADS_1
Zifa menghentikan langkahnya dan menatap Bima tajam. "Kali ini bukan karena paksaan Nara. Tapi ininsiatif saya sendiri. Ayo pulang bareng!"
'konyol!' batin Zifa. Apa pria ini sudah hilang akal? Bagaimana bisa ia bertingkah konyol dengan wajah datarnya itu?
"Saya bisa naik Taksi"
"Ini sudah tengah malam. Pasti susah cari kendaaan umum. Ayo, lebih baik kamu saya antar saja. Anggap saja kita kebetulan bertemu dan saya menawarkan tumpangan pada teman lama saya" Bima masih berkeras mengajak Zifa.
Zifa memijit pelipisnya karena ulah Bima yang begitu membingungkan sekaligus menyebalkan. Kenapa pria ini membuatnya sakit kepala sih?
"Lagipula, kita nggak pernah berteman. Saya tidak merasa pernah menjalin pertemanan dengan Bapak!" lanjutnya. Walaupun Bima bosnya, Zifa tak peduli lagi. Toh ini di luar jam kantor. Lagipula meski Bima memecatnya, Zifa tak akan pusing. Ia bisa melamar di perusahaan Papanya menjadi karyawan di sana. Atau enggak di perusahaan lain yang sesuai dengan kemampuannya.
"Tapi kita pernah menjalin hubungan pacaran. Bahkan belum putus sampai sekarang!" balas Bima dengan santai seolah yang ia ucapkan adalah masalah biasa.
__ADS_1
Zifa melotot seketika, menatap tak percaya ke arah Bima. "Lebih baik Bapak segera pulang. Sepertinya Bapak mengantuk makanya bicaranya ngawur gini" ucap Zifa dengan nada dingin.
"Ya udah kalau gitu, ayo kita pulang!"
Andai Bima bukan manusia, Zifa akan mencekik pria itu kemudian menendangnya sejauh-jauhnya. Kalau perlu Zifa akan membuangnya di tempat sampah agar bisa dimuat mobil pengangkut sampah.
"Ayolah Zifa. Mari sejenak lupakan permasalahan di antara kita, termasuk yang tadi. Hanya malam ini saja. Saya janji nggak akan membuka mulut selama perjalanan" Bujuk Bima. Pria itu seolah sudah kehabisan cara mengajak gadis itu pulang bersama.
Zifa menghela nafas kasar. "Oke! Awas saja kalau Bapak sampai berbicara pada saya lagi!" Bima membalasnya dengan anggukan. Sepertinya perjanjian mereka sudah berlaku mulai detik ini makanya Bima tak lagi bersuara.
Seperti halnya tadi, Bima kembali membukakan pintu untuk Zifa dan gadis itu tak lagi memprotes. Sepanjang perjalanan pun mereka hanya diam, Bima menepati ucapannya.
Bima mengantarkan Zifa sampai di rumahnya. Meski kesal, namun Zifa tetap mengucapkan terimakasih pada Bima. Ia bukan orang yang tak tahu diri saat ditolong.
__ADS_1
"Terimakasih!" ucapnya dan hanya dibalas anggukan Bima. Zifa mendengus geli. Kenapa mereka bisa bertingkah aneh seperti ini sih?
Lucu nggak sih tingkah pasangan mantan ini?