
Jika menemukan Typo tolong beritahu agar aku bisa langsung perbaiki. Jejaknya jangan lupa juga😊
Zifa dan Bima akhirnya menceritakan bagaimana hubungan mereka yang kembali membaik, meski hanya garis besarnya saja. Tak lupa juga dengan rencana mereka yang akan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi. Azraf dan Nara yang tahu bagaimana rumitnya hubungan mereka sebelum ini hanya mampu mengeluarkan decakan kesal berkali-kali karena mereka merasa begitu ketinggalan banyak berita. Sedangkan Sarah dan Naren lebih banyak menonton ekspresi empat orang tersebut yang berubah-ubah. Namun tak urung, semuanya ikut bahagia. Meski rencana yang mereka susun berantakan sudah.
Setelah selesai, mereka memesan makanan dan menikmati makanan tersebut karena perut mereka sudah keroncongan.
Azraf mengangkat telapak tangannya memanggil pelayan untuk membereskan meja mereka setelah semuanya selesai makan. Namun enam orang tersebut belum ada yang ingin beranjak dari sana.
"Azraf? Kamu Azraf kan?" seorang wanita terlihat mendekati meja mereka sambil menatap Azraf dengan pandangan tak menyangka. "Astaga! Udah lama banget kita nggak ketemu" ujar Wanita itu semakin mendekati tempat Azraf duduk, tak peduli walau di saja terdapat teman-teman pria itu.
Azraf menatap wanita bergaun merah yang panjangnya di atas lutut juga sangat pas di badan itu bingung, sementara Nara sudah mendelik tajam pada sang suami.
"Apa kita saling kenal?" tanya Azraf sedikit tak yakin.
Wanita itu sudah berdiri di samping kursi Azraf, lebih tepatnya ia berada di tengah Nara dan Azraf.
"Jahat banget sih kamu lupain aku. Ini aku, Sindrila. Kamu ingatkan? Perempuan pertama yang kamu pacari. Kamu sendiri loh yang bilang waktu itu, kalau aku pacar pertama kamu"
Azraf menelan ludahnya saat mengingat sosok perempuan tersebut. Yah, itu adalah pacarnya yang pertama, lebih tepatnya saat ia kelas X. Ia memacari Sindrila yang dulunya menjadi tetangga di komplek perumahan orang tuanya tetapi berbeda Sekolah dengan mereka, jadi tentu saja Nara dan Zifa tak kenal. Namun gadis itu sudah lama pindah entah ke mana Azraf tak tahu, makanya mereka baru bertemu sekarang.
Sementara Nara, sudah kepanasan sendiri di tempatnya. Tangannya sudah gatal ingin menjambak perempuan ini. Apa wanita itu tidak sadar kalau ada seseorang di samping Azraf?
"Kamu Sarah kan? Dan kamu......Bima! Iya, kamu Bima kan? Ya ampun, nggak nyangka banget ketemu kalian semua di sini!" ujarnya antusias saat melihat orang-orang yang dikenalnya.
"Ya, nggak nyangka banget!" ucap Azraf pelan, ia yakin sang Istri pasti akan ngambek setelah ini.
"Aku bisa gabung dengan kalian kan? Oh yah, tiga orang ini siapa? Kenapa nggak dikenalin ke aku?" tanyanya memperhatikan tiga orang yang terlihat asing di matanya.
__ADS_1
"Maaf yah Mbak, tapi di sini udah nggak ada tempat kosong. Jadi Mbak silahkan cari meja lain aja" akhirnya Saralah yang berbicara, karena ia merasa hawa bahagia tadi sudah sirna entah ke mana semenjak kedatangan mantan pacar dari sang Kakak.
"Kok gitu? Aku bisa ambil kursi dari sebelah kok, kalian tenang aja" ucapnya memaksa. Ia kemudian menarik kursi dari meja sebelah kemudian melirik ke arah Nara "Mbak, bisa geseran dikit nggak"
Mata semua orang di meja tersebut melotot karena sikap Sindrila yang terkesan tak tahu malu. Nara mati-matian menahan emosinya karena tak ingin membuat keributan yang mempermalukan dirinya juga teman-temannya. Ia memilih mengalah dan menggeser duduknya, membiarkan Sindrila mengambil tempat di sisi Azraf.
"Oh yah, kalian bertiga! Ayo kita kenalan"
Zifa yang merasa suasana sedang tak kondusif menghela nafas pelan dan memaksakan senyumnya ke arah Sindrila. "Yang di samping Mbak itu namanya Nara, Istrinya Azraf!" terang Zifa memperkenalkan Nara lebih dulu agar Sindrila bisa sedikit tahu diri.
Mata Sindrila membulat " Istri? Ya ampun! Kenapa kamu nggak ngabarin aku kalau kamu nikah? Tega banget kamu Zraf. Padahal aku masih belum bisa lupain kamu!" ucapnya yang terdengar sangat dramatis di dengar ke enam orang tersebut. Bahkan dengan tak tahu malunya ia menggoyang-goyangkan lengan Azraf.
"Yang itu Naren, pacar Sarah. Dan saya sendiri Zifa, pacarnya Bima!" lanjut Zifa. Gadis itu ingin mengusir Sindrila dengan halus, dengan cara membuat Sindrila sadar diri kalau mereka lagi kencan bareng dan dia menjadi pengganggu di sana.
"Kamu pacar Bima?" tanyanya tak percaya. Hampir semuanya orang di meja itu mendengus karena Sindrila seolah tak sadar diri juga meski sudah disinggung. "Astaga, nggak nyangka yah Bim selera kamu itu yang kayak gini. Aku pikir kamu suka cewek berpenampilan seksi kayak aku, karena kamu dulu sering tertangkap sedang memperhatikan aku"
Sekarang bukan cuma Nara yang kepanasan, Zifa pun juga ikut kepanasan karena ucapan Sindrila. Ia menatap Bima dengan tajam, seolah bertanya apa benar yang dikatakan perempuan itu. Bima menggeleng pelan dengan raut takut.
"Mbak! Kok Mbak kayak terkesan orang nggak tahu malu yah? Mbak nggak sadar bilang gitu di depan pasangan mereka? Lagian, Mbak harus tahu satu hal. Kakak aku macarin Mbak dulu bukan karena cinta. Tapi karena Mbak hanya sekedar dijadikan uji coba sama dia untuk tahu apa pacaran itu enak atau enggak!" ujar Sarah telak, membuat wajah Sindrila memerah. Entah karena marah atau merasa malu. Apalagi dengan fakta yang baru diketahuinya itu.
"Jadi Mbak lebih baik cari meja lain aja, karena kehadiran Mbak di sini hanya bikin rusak suasana tau nggak! Kita itu mau kencan, Mbak malah menjelma jadi nyamuk pengganggu"
Dengan gerakan lemah, gadis itu meninggalkan meja mereka. Mereka semua tahu, kalau Sindrila tengah menahan tangisan. Meski merasa bersalah, tapi lebih baik begitu. Karena dengan adanya dia, bukan cuma satu hubungan yang terganggu, tapi dua sekaligus.
Sepeninggal sindrila, suasana hanya menjadi hening. Wajah Azraf dan Bima terlihat nelangsa, sementara Nara dan Zifa hanya menampilkan wajah datar tanpa ekspresi.
"Zi, kita pulang naik Taksi yah. Aku mau nginap di rumah kamu aja!" ujar Nara memecah kesunyian.
__ADS_1
Azraf mendongak dengan tatapan memohon pada Nara. "Yang,"
"Diam! Aku masih kesal yah sama kamu! Izinin aku nginap di rumah Zi, malam ini. Aku lagi mau nenangin diri"
Zifa mengangguk "Ayo!" ajaknya sambil berdiri dari sana. Bima pun ikut berdiri "Kamu mau ke mana?" tanya Zifa datar.
Bima menelan ludahnya "Aku mau ngantar..."
"Kamu nggak dengar tadi kalau kita mau naik Taksi? Pulang sana! Aku lagi malas liat wajah kamu" potong Zifa.
"Tapi...."
"Iya atau kita nggak ketemuan selama seminggu!" Bima tergugu, mana bisa ia nggak ketemu Zifa.
"Okey, okey! Tapi kalian diantar Naren yah, kalau memang nggak mau diantarin aku sama Azraf" putus Bima mengalah. Ia merutuki dalam hati kedatangan Sindrila tadi.
"Iya. Lebih baik kalian naik sama kita aja. Bahaya naik Taksi udah selarut ini" ujar Naren.
"Benar Kak. Kalian kan ngambeknya hanya sama mereka, jadi sama kita aja pulangnya" tambah Sarah. Akhirnya Nara dan Zifa mengangguk, mereka berempat kemudian pergi meninggalkan Azraf dan Bima yang sedang mengusap wajah kasar.
"Ini semua gara-gara mantan kamu Zraf! Coba aja kamu nggak macarin gadis nggak tahu malu kayak dia!" kesal Bima merutuki mantan Azraf itu.
Azraf mendelik "Ya siapa suruh juga kamu suka merhatiin dia dulu!"
"Aku merhatiin dia kan dengan tatapan nggak suka. Masa cewek suka gelendotan kayak anak monyet, mana dia suka ngedusel-dusel ke kamu kayak anak anjing. Hii!" Bima bergidik ngeri mengingat tingkah Sindrila dulu saat pacaran dengan Azraf.
"Jadi, anak monyet apa anak anjing?" tanya Azraf bingung.
__ADS_1
"Anak Gorila kali. Buktinya namanya sebelas dua belas sama Gorila"
Panjangkan? Makanya, tinggalin jejak dong😊