
"Makasih yah Bim!" ujar Zifa saat turun dari motor milik Bima dan hanya dibalas anggukan cowok itu. Ia kembali menyerahkan Helmnya pada Bima, lalu berbalik menuju gerbang Sekolahnya.
"Tunggu!" cegah Bima membuat langkah Zifa terhenti. Ia berbalik, menatap heran pada pria itu.
"Kenapa?" tanya Zifa.
"Pulangnya aku tunggu di sini lagi!"
"Emang kamu mau jemput aku lagi?" Tanya Zifa memastikan. Bima tak menjawab, cowok itu malah menghidupkan motornya dan berlalu meninggalkan Zifa.
"Emang yah, kalau dasarnya es batu selamanya bakalan kayak gitu" gerutu Zifa. Ia melihat Nara yang baru datang dengan Azraf, buru-buru Zifa mendekati keduanya untuk mengomeli pasangan itu.
"Kalian berdua itu yah, benar-benar...." omel Zifa geram.
"Iya, emang kita benar kok" potong Nara.
"Issh, bukan itu maksud aku. Kalau aku tau Bima yang jemput aku, mending aku bareng sama Papaku aja tadi" kesalnya.
"Nikmatin aja kenapa sih, Zi? lagian kan ini gratis, apalagi yang boncengnya itu cogan"
Zifa baru akan kembali membuka mulutnya, namun Nara buru-buru menarik tangan gadis itu. Ia hanya melambaikan tangannya pada Azraf sebagai isyarat berpamitan. Azraf terkekeh di tempatnya melihat sang pacar sedang menyeret singa cerewet itu.
"Terus gimana Zi, rasanya dijemput cogan? berasa nggak jomblo lagi yah, pastinya?" goda Nara.
__ADS_1
"Please yah Nar, aku lagi kesal bukannya kamu hibur malah kamu godain" dengus Zifa membuat Nara terkekeh.
"Emang kesalnya kenapa Zifa sayang? Kan lebih kejam lagi kalau aku ninggalin kamu tanpa nyuruh Bima ngejemput"
"Gimana nggak kesal, aku tadi bilangnya sama Papa Mama kalau aku berangkat bareng kamu. Tapi ternyata malah Bima yang jemput dan gilanya, orang tua aku lihat" jelas Zifa berapi-api.
"Oh yah? bagus dong! Biar nanti secepatnya kamu kenalin Bima sama mereka" jawab Nara santai.
"APA?! yang benar aja Nar. Emang Bima siapa aku sampai harus aku kenalin?"pekik Zifa.
"Calon pacar"
"Terserah deh Nar! Kayaknya tingkat gila kamu semakin bertambah saat pacaran sama si Playboy Unta" cibir Zifa, bukannya tersinggung Nara hanya menertawakan kekesalan Zifa.
Sepulang sekolah, Zifa sengaja menyuruh Nara duluan. Ia berpura-pura pamit ke toilet, agar Nara berhenti menggodanya tentang Bima.
Baru saja ia akan memesan taksi, seorang siswa yang berjalan dari arah depannya mengatakan sesuatu yang membuat ia mengurungkan niatnya.
"Di parkiran ada yang nungguin kamu sejak tadi, Zi" ucap Eza.
"Siapa?" tanya Zifa.
"nggak tahu. Anak Sekolah lain kayaknya. Oh yah, aku duluan yah. Rapat Osis sebentar lagi mulai" Eza meninggalkan Zifa.
__ADS_1
Zifa memicingkan matanya saat netranya menemukan sosok Bima yang tengah duduk di atas motornya. Berarti Bima yang dimaksud Eza tadi.
"Ssoo...ssorry! Kamu udah lama nunggu yah?" tanya Zifa merasa bersalah.
"Nggak! Naik!" jawab Bima.
Di perjalanan, Bima kembali membelokkan motornya ke arah warung bakso yang dulu pernah mereka singgahi. Mata Zifa berbinar, sepertinya lidahnya sebentar lagi akan dimanjakan.
"Kamu mau traktir aku lagi?" tanya Zifa sambil menuruni motor milik Bima.
"Siapa bilang? Aku cuma mau beliin pesanan Mama aku. Kamu tunggu di sini aja" jawaban Bima sontak membuat binar di mata Zifa meredup. Bibir gadis itu sudah maju, memperlihatkan kalau dia tengah cemberut.
Bima menyembunyikan senyumnya, dan melangkah memasuki warung meninggalkan Zifa.
"Jahat banget sih! Dasar es batu rasa kecut!" gerutu Zifa. "Mana dia dengan tega meninggalkan aku di sini lagi, panas-panasan kayak gini!" gerutuan Zifa terus berlanjut sampai ia merasakan sesuatu yang hangat menempel di pipinya.
"Apaan, panas banget sih! Orang lagi kesal malah dibikin nambah kesalnya" Zifa berbalik ingin memarahi si pelaku.
"Semua cewek itu hobinya menggerutu yah?" tanya Bima sarkatik.
"Cckk! Udah deh. Ayo pulang!" Bima tersenyum kecil saat mendengar kekesalan Zifa. Ia kemudian menyuruh Zifa membawa dua plastik yang berisi bakso yang dibelinya tadi. Dengan kesal, Zifa menerima plastik tersebut.
"Nih!" Zifa menyerahkan kantong plastik tadi pada Bima saat mereka sudah sampai di depan rumahnya. Bima mengambil satu kantong plastik dan membiarkan yang satunya tetap di tangan Zifa. Zifa mengerutkan alisnya bingung "ini untuk apa?" tanya Zifa.
__ADS_1
" Gaji kamu yang panas-panasan tadi dan udah megangin tuh bakso sampai sini" ujar Bima sebelum pergi meninggalkan Zifa yang melongo. Ternyata sikap Bima penuh kejutan.
Like, Vote, dan komennya jangan lupa😊