Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Makan Malam Keluarga


__ADS_3

Wajib baca author note!!


Malam ini Zifa terlihat sangat cantik dengan gaun selutut berwarna ungu putih yang ia kenakan. Juna dan keluarga berniat akan malam bersama keluarga Agung di sebuah restoran yang sudah mereka sepakati. Agung dan Widya memang berada di Indonesia sejak kemarin. Zifa sebenarnya terlalu malas untuk ikut, namun karena tak ingin Ningsih dan Juna mengomelinya akhirnya Zifa memutuskan untuk ikut. Bahkan Ningsih dan Juna mengancam akan mendiami Zifa jika ia tak mau pergi dengan mereka.


Zifa mengikuti langkah Juna dan Ningsih dengan lesuh. Gaunnya yang cantik berbanding terbalik dengan wajahnya yang masam.


"Itu bibir dilengukkan sedikit ke atas nggak bisa?" sindir Ningsih sambil menatap Zifa.


"Hmm" Zifa memaksakan senyumnya. Ia menghela nafas pelan, 'ini hanya Om Agung dan Tante Widya bukan?'


'Kenapa juga aku harus bete seperti ini?'


'Tapikan mereka orang tua Bima'


'Tenang Zifa, Bima mana mungkin ikut makan malam kayak gini. Cowok itu pasti memilih kabur'


Semua suara-suara itu berkecamuk di pikiran Zifa.

__ADS_1


"Gitu dong senyum. Tapi nanti di dalam senyumnya dibuat lebih natural yah" ujar Ningsih sedikit meledek sang anak. Zifa hanya menatap sang Mama datar.


Keluarga Juna langsung menuju ruangan VIP yang memang sudah disewa Agung.


Sesampainya di sana, Agung dan Widya menyambut mereka dengan hangat. Zifa menghela nafas legah karena ia tak menemukan keberadaan Bima. Ternyata pasangan itu hanya datang berdua.


Setelah saling bersapa ria dengan Juna dan Ningsih, kini mata Widya dan Agung teralihkan pada gadis yang berdiri canggung di belakang pasangan itu.


"Zifa! Kamu Zifakan? Ya ampun, udah besar yah ternyata kamu sekarang. Aduh!! Tante kangen banget sama kamu tau nggak, udah lama banget kita nggak ketemu!" cerocos Widya sambil mendekati Zifa. Ia kemudian membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


Zifa membalas pelukan Widya dengan kaku. "Zi...Zifa juga kangen sama Tante!" balasnya canggung.


Widya dan Zifa melepaskan pelukan mereka. Zifa beralih pada Agung dan mencium tangan pria itu. "Zifa juga kangen kok sama Om" Agung mengelus rambut Zifa dengan lembut.


"Ayo kita ngobrol sambil duduk!" ajak Agung setelah Zifa melepaskan jabatan mereka.


"Anak Mbak nggak ada yang ikut?" tanya Ningsih.

__ADS_1


Widya menggeleng. "Enggak. Si sulung kan udah nikah, jadi dia nggak ikut ke Indonesia. Sedangkan Bima yah, kamu tahu sendiri kalau anak itu dari dulu nggak suka ikut acara kayak gini" jelas Widya.


Ningsih akan menyahuti perkataan Widya namun tertahan karena seseorang yang baru saja memasuki ruangan.


"Sepertinya Mbak salah kalau Bima nggak datang! Itu dia baru datang!" tunjuk Ningsib dengan dagunya membuat semua orang seketika menoleh pada Bima. Memang kedatangan Bima hanya Ningsih yang menyadari karena dia tepat menghadap pintu. Yang lain juga asik sendiri. Agung asik berbicara dengan Juna, Zifa asik sendiri dengan ponselnya, dan Widya duduk di sofa yanh membelakangi pintu sedang mengobrol dengannya.


"Loh, katanya tadi nggak bisa datang?" Widya bertanya bingung. Bima memang tadi mengatakan ia tak akan datang karena ada pekerjaan, yang Widya tahu itu memang hanya alasannya saja. Tapi kenapa pria itu tiba-tiba berubah pikiran?


Agung tersenyum kecil. Ia sudah menduga putranya itu akan menyusul mereka. Pasalnya, Agung tadi mengirimkan pesan pada Bima kalau Juna dan Ningsih berhasil membujuk Zifa untuk ikut.


"Udahlah sayang. Nggak usah ditanya alasannya apa. Yang penting sekarang si bungsu kita ini datang. Seharusnya kita merayakan ini karena ini pertama kali Bima ikut makan malam keluarga kita. Bukan begitu Jun?" Agung meminta pendapat Juna.


"Benar. Kita harus rayain ini karena kita berhasil membawa anak-anak kita yang biasanya sangat susah diajak!" Juna berujar setuju. Widya dan Ningsih mengangguk senang. Sementara Zifa, sedari tadi hanya diam. Ia tak tahu akan melakukan apa. Padahal sudah seminggu lebih ia berusaha menghindar berinteraksi dengan Bima berlebihan selain urusan kantor. Tapi kenapa malam ini mereka malah dipertemukan di sini sih? Tapi ngomong-ngomong kenapa Bima bisa menyusul ke sini yah? Zifa merasa pria itu aneh. Dia kan sama sekali nggak pernah mau mengikuti acara kayak gini dari dulu.


Like, vote dan komentarnya jangan lupa😊


Ayo dong reader pleas jangan komen 'ayo thor lanjut' atau 'kok cuma sedikt banget thor' atau 'thor kapan lanjut?'

__ADS_1


Nih yah, reeaders. akukan udah jelasin di part sebelumnya kalau aku beberapa hari ke depan hanya bisa up satu bab karena kesibukan aku yang bahkan kadang ngeharusin aku lembur. Dan yang bilang ayo thor lanjut, iya. aku bakalan tetap lanjut kok. Dan yang tanya kapan lanjut, jawabannya aku kan ngelanjutinnya tiap hari.


Readers, aku nggak minta kalian komentar yang gimana-gimana. Aku cuma mau kalian komentar tentang isi ceritanya atau paling nggak ngasih semangat aja. Hanya itu. Maaf yah kalau aku terkesan kayak gimana gitu. Aku cuma butuh disemangatin guys. Aku juga nulisnya nggak sambil marah-marah kok. Jadi kalau kalian baca biasa aja yah, jangan ngegas😂


__ADS_2