
"Sebelum aku lanjut cerita tentang Bima, aku mau tanya sama kamu. Menurut kamu Bima itu bagaimana?" Tanya Nadin. Wanita itu sudah menghabiskan makanan pesanannya, dan kini ia berencana akan sedikit membantu Bima. Agar gadis yang pria itu kejar tak meragukan dirinya.
"Bima, dia......membingungkan. dia kadang baik, kadang dingin dan galak, kadang cerewet, juga kadang menyebalkan" jawab Zifa sejujurnya. Memang kenyataannya seperti itukan Bima selama ini saat bersamanya.
Nadin tersenyum kecil. "Kamu tahu Zi, sebelum kamu masuk di sini, Bima paling lama hanya dua sampai tiga hari saja masuk kantor. Sisanya dia akan sibuk ke luar kota untuk bertemu klien, pergi ke acara klien, dan juga menangani proyek"
Zifa mengangguk "teman aku juga bilang gitu Kak!"
"Menurutmu kenapa dia nggak pernah lagi pergi-pergi dan malah mengutus suami aku? Padahal selama ini dia lebih suka pergi sendiri dibanding diwakili?"
Zifa menggeleng "karena capek mungkin?" Jawab Zifa lebih ke pertanyaan.
__ADS_1
Nadin menggeleng "Itu karena adanya kamu Zi! Dia nggak mau jauh lagi dari kamu itulah yang ia katakan pada aku dan Mas Rey. Bima tahu, kamu nggak bakalan nyaman jika ia mengajak kamu menemaninya ke luar kota. Makanya dia nyuruh Mas Rey yang mewakili dirinya untuk pergi"
Zifa terperangah, benarkah? Tapi Zifa masih ragu. "Terus Kakak nggak protes jika Pak Rey selalu meninggalkan Kakak pergi?" Tanya Zifa.
Nadin menggeleng. "Enggak! Semenjak menikah, aku memutuskan untuk berhenti dari profesiku sebagai dosen. Jadi aku nggak keberatan menemani Mas Rey ke manapun. Anggap aja kami pergi sekalian bulan madu" jawab Nadin tersenyum geli.
Zifa manautkan alisnya "Dosen? Tapi kok waktu itu Kakak sama Pak Bima bertemu untuk membahas masalah kantor?"
Ooh, Zifa sekarang mengerti. "Oh yah, kembali ke masalah Bima. Aku tahu kamu selalu meragukan sikap Bima!" Ucapan Nadin membuat Zifa tersentak.
"Bima itu tulus sama kamu Zi. Matanya tak pernah seberbinar itu saat menceritakan seseorang selain kamu"
__ADS_1
Zifa tertegun, ia ingin percaya tapi ia takut. Walau bagaimanapun, dulu Bima membuatnya merasakan patah hati untuk pertama kalinya. Meski masalah Sarah hanyalah salah paham, tapi Zifa juga penasaran kenapa Bima tak datang menjemputnya waktu itu. Bahkan pria itu sama sekali tak menghubunginya lagi. Zifa hanya takut kalau Bima sebenarnya hanya mempermainkan perasaannya.
"Aku tahu aku nggak punya hak untuk mengurusi hubungan kalian. Tapi Zi, aku udah nganggap kamu dan Bima adik aku sendiri. Melihat Bima yang berbeda jika menyangkut masalah kamu, aku dan Rey ikut senang. Pria itu akhirnya terlihat seperti manusia pada umumnya, bukan robot yang terlihat sempurna namun tak punya hati dan perasaan. Semenjak ada kamu, Bima menjadi lebih ekspresif"
"Dia memang tidak menceritakan lebih detail tentang kedekatan kalian di masa lalu. Dia hanya mengatakan kalau kamu adalah gadis yang ia cintai sejak dulu"
Zifa mencerna semua yang dikatakan Nadin. Sejujurnya, sejak mendengarkan ucapan Nadin tentang Bima, jantung gadis itu berdebar semakin kencang. Apa iya Bima setulus itu padanya? Lalu jika pria itu begitu mencintainya, bukankah sangat menyakitkan ketika ia selalu bersikap ketus pada Bima?
"Ayo kita kembali. Sepertinya kita sudah terlalu lama pergi!" Ajak Nadin menyadarkan Zifa dari lamunannya. Kedua gadis itu kemudian melangkah meninggalkan kantin, dan sepanjang perjalanan mereka kembali ke tempat Zifa hanya diisi dengan keheningan.
Like, vote dan komentarnya jangan lupa😊
__ADS_1