
"Yang, pesanan kita masih di proses. Bentar lagi diantarkan ke sini"
Ponsel di tangan Wika nyaris jatuh saat mendengar suara itu. Ia menoleh ke arah pemilik suara dengan ekspresi yang sulit ditebak. Entah kenapa suara yang baru kali ini ia dengar tak bernada dingin terdengar begitu horor di telinganya.
Zifa yang melihat wajah syok Wika berusaha menahan tawanya. "Yang, hari ini kamu traktir teman-teman aku yah. Aku kangen banget makan bareng mereka, sekalian juga aku kenalin kamu ke mereka" ujar Zifa menatap Bima. Bima tersadar kalau ada orang selain dirinya dan Zifa di meja tersebut. Ia ingat wanita di hadapannya itu, teman Zifa yang dulu ia suruh menyebar gosip tentangnya. Bima tentu saja senang mendengar ucapan Zifa, berarti gadis itu tak keberatan lagi jika mereka mempublikasikan hubungan keduanya. Ia tak masalah mentraktir teman-teman Zifa, bahkan selama seminggu ke depan pun Bima tak masalah. Anggap saja syukuran.
"Ya udah kalau gitu, tapi.....kata kamu teman-teman, kok cuma satu?" tanya Bima bingung.
"Masih sementara disuruh ke sini" jawab Zifa. Ia kemudian menatap Wika yang sedari tadi mematung. Dan sepertinya bukan cuma Wika, tapi juga dua meja yang terletak di sebelah kiri dan kanan meja yanh ditempati Zifa penghuninya juga ikut syok seperti Wika. Tapi mereka hanya berani mencuri-curi pandang saja, mungkin takut Bima marah kali.
"Kamu udah hubungin mereka kan Wik?' tanya Zifa. Wika tersadar dan buru-buru menormalkan ekspresinya. "Eh...I....ini, masih sementara" jawabya gagap. Ia kemudian segera mengetikkan pesan pada teman-temannya yang tadi tertunda karena kedatangan Bima yang membuatnya syok berat. Bahkan tangannya ikut bergetar saat mengetik pesan.
"Sambil nunggu teman-teman kamu, aku ke toilet dulu yah bentar. Nanti kalau mereka datang suru pesan aja sesuka mereka" Zifa mengangguk "Oke" Bima kemudian meninggalkan tempat tersebut, namun sebelum itu ia menepuk lembut puncak kepala Zifa.
__ADS_1
Sepeninggal Bima, Wika bernafas legah. "Zi, jadi....."
"hmm" Zifa mengangguk membenarkan ucapan Wika yang tak mampu keluar dari bibir gadis itu.
"Kamu bilang Pak Bima udah punya calon istri, jangan bilang kamu jadi selingkuhannya Zi" tanya Wika menyelidik. Zifa mendelik "Enak aja! Ya enggaklah!"
"Jadi calon istri yang dimaksud Pak Bima itu kamu?" Zifa mengangguk "Yap! benar sekali"
"ZIFA!!!" teriak Amira sambil mendekati meja yang di tempati oleh Zifa dan Wika. Tari yang di sampingnya mendengus "Nggak usah teriak kali Ra" namun Amira hanya melengos tak peduli.
"Hai Zi" sapa ke empat orang yang baru datang itu.
"Pacar kamu ke mana Zi?" tanya Tri sambil mencari keberadaan pacar Zifa.
__ADS_1
"lagi ke toilet"
"Jangan-jangan dia kabur lagi Zi, gara-gara kamu minta dia nraktir kita?" kata Amira asal. "Pacar Zifa nggak bakal kabur, karena aku yakin walau dia tiap hari traktir kita nggak bakal abis duitnya" bukan Zifa yang menjawab, namun Wika. Gadis itu menjawabnya dengan nada tak bersemangat, hilang sudah hasratnya untuk makan gratis. Niat hati ingin buat dompet pacar Zifa kosong, sayangnya pacar Zifa malah bos mereka.
"Widih!! Sultan dong" ujar Tari, Zifa lagi-lagi menanggapi dengan kekehan pelan.
"Kenapa Naren keliatan nggak semangat gitu?" tanya Zifa sambil mengedikkan dagunya ke arah Naren yang terlihat cemberut.
Tawa Tari seketika pecah karena pertanyaan Zifa. Naren memelototinya, tapi gadis itu sama sekali tak peduli. "Gimana nggak cemberut Zi, baru aja semalam dia curhat ke aku ingin dekatin kamu, tapi hari ini dia malah ditampar kenyataan kalau kamu udah punya pacar" ucapan Tari sontak membuat Zifa, Amira, Tri dan Wika terkejut. Jadi Naren tertarik pada Zifa?
Wika menatap Naren kasihan, ia tak dapat membayangkan bagaimana jika Naren mengetahui siapa sebenarnya pacar Zifa. Semoga aja perasaan cowok itu hanya tertarik semata, biar nggak saki-sakit amat rasanya.
Like, vote dan komentarnya jangan lupa
__ADS_1