
"Jadi sekarang kita balikan?" tanya Zifa yang masih belum mau melepaskan pelukannya pada Bima.
Bima tertawa kecil di atas kepala gadis itu "Ya enggak lah!"
Mendengar ucapan Bima, Zifa segera melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Bima. Apa Bima hanya mempermainkannya?
Bima lagi-lagi terkekeh dan kembali menarik tangan Zifa untuk melingkar di pinggangnya. Ia kemudian mengecup puncak kepala Zifa. "Ngapain balikan sih sayang, kan kita nggak pernah putus!"
Wajah Zifa memerah saat mendengar kata 'sayang' keluar dari mulut pria dingin yang hanya bersikap hangat kepadanya itu. Ia semakin mengeratkan pelukannya, namun tiba-tiba gadis itu tersadar.
"Astaga Bima, jam makan siang udah selesai!" pekiknya sambil menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Nggak apa-apa, anggap aja kamu lagi kerja. Kan kamu saat ini lagi nyenangin hati bos" ujar Bima enggan mengakhiri kemesraan mereka.
Zifa memukul dada Bima pelan "Mana bisa gitu! Udah ah, kita kerja dulu. Meski kamu bos dan aku pacarnya bos, kerja yah tetap kerja. Nggak boleh seenaknya"
Bima meringis pelan mendengar omelan Zifa. Dengan berat hati ia melepaskan pelukannya, namun sebelum itu ia sempatnya mengecup puncak kepala Zifa.
__ADS_1
"Ya udah, sana kembali ke meja kamu!" ujarnya tak ikhlas.
Zifa menatapnya tajam "ngusir?" tanyanya.
Bima menggeleng "Enggak sayang, aku nyuruh kamu segera pergi sebelum aku berubah pikiran untuk ngurung kamu di sini sampai sore!"
Zifa melotot kesal dan segera pergi dari sana dengan cepat. Saat menutup pintu, wajahnya kembali memerah mengingat momen-momennya tadi bersama Bima. Dengan senyum yang terus merekah Zifa mendudukkan dirinya kembali ke tempatnya dan mulai mengerjakan beberapa tugasnya.
Tak terasa, jam pulang sudah tiba. Bima sudah berdiri di depan meja Zifa.
"Ayo yang, kita pulang!" ajaknya.
"Kamu ke bawah duluan aja. Nanti aku nyusul seperti biasa" ucap Zifa.
"Kok gitu?" protes Bima. "Yah kalau diliat orang-orang gimana? Entar mereka gosipin kita!" jelas Zifa.
"Yah bagus dong, agar mereka tahu kalau kamu adalah pacar sekaligus calon istri aku!" ujar Bima sedikit nyolot. Kenapa? Karena ia memang ingin karyawannya tahu kalau Zifa adalah miliknya. Jangan disangka selama ini Bima tak memperhatikan banyak karyawannya yang laki-laki sering mencuri pandang ke arah Zifa saat mereka berpapasan dengan gadisnya. Zifanya saja yang tak sadar akan hal itu.
__ADS_1
Zifa memutar bola matanya malas, ia lupa kalau bosnya itu begitu tak keberatan jika menjadi bahan gosip.
"Lagipula kamu lupa, kalau gosip tentang calon istri aku itu udah menyebar?!" Zifa ingat, jelas saja. karena Ponselnya banyak kali berbunyi menampilkan spam chat dari Wika yang menanyakan siapa calon istri Bima, namun Zifa memilih tak membalas.
"Ya karena itu Bim, entar aku dibilang dekatin kamu yang sudah punya calon istri gimana? Kan kamu tahu kalau imej sekertaris itu banyak yang memandang buruk?"
Bima menghela nafas pelan "Tinggal jelasin aja kalau kamu yang calon istri aku bisa kan?"
"Kamu gimana sih, kan kamu tahu kalau punya hubungan saat bekerja di sebuah perusahaan yang sama itu nggak bisa?" Zifa kembali mengingatkan pada Bima.
"Tapi di perusahaan aku nggak berlaku tuh peraturan kayak gitu. Mereka punya hubungan kan itu bukan urusan kita, asal jangan sampai mengurangi kualitas kerja mereka!" Memang benar kok nggak ada peraturan seperti itu di perusahaan Bima. Karena tidak semua perusahaan memberlakukan peraturan seperti yang Zifa sebutkan tadi.
Zifa akhirnya hanya mampu mengalah, mana bisa menang dia jika berdebat melawan Bima. Sudah pernah Zifa katakan kan sebelumnya kalau Bima itu tak pernah mau mengalah.
"Ya udah deh, ayo!" pasrahnya.
Bima tersenyum senang, ia segera menarik Zifa agar berjalan lebih dekat dengannya dengan tangan sebelah kirinya yang melingkar di pinggang gadis itu.
__ADS_1
Like, vote dan komentarnya jangan lupa😊
Oh yah reader, mau tanya. Tulisan yang benar itu image atau imej sih? Soalnya aku sedikit bingung makanya hanya aku tulis imej aja. Please jawab yah bagi yang tahu agar jika ada kata yang sama di capter selanjutnya bisa aku perbaiki.