
"ZIFAAA!!!! YA AMPUN AKHIRNYA KITA KETEMU LAGI!" teriak Wika membuat Zifa yang sedang menikmati makan siangnya tersedak. Gadis itu berlari mendekat ke meja Zifa, tak peduli mereka sudah menjadi pusat perhatian karena teriakannya tadi.
"Kamu kenapa teriak-teriak Wika? Kita di tempat umum, bukan di hutan!" omela Zifa.
wika menyengir "Maaf Zi! Habis ketemu kamu itu susahnya minta ampun, udah kayak mau ketemu artis aja!" keluh wika.
"Mau gimana lagi Ka, kan aku udah pernah bilang kalau itu kewajiban" jawab Zifa.
"Iya sih. Tapi kok walau kalian ngak meeting di luar, kamu tetap nggak makan di kantin?"
Zifa kembali tersedak karena pertanyaan Wika. Ia buru-buru meminum air yang ada di depannya dan menatap Wika tajam. "Diam deh Ka, aku mau makan dulu. Nih, aku udah dua kali tersedak gara-gara kamu. Nanti selesai makan baru kita ngobrol"
Wika mengangguk dan menatap Zifa dengan wajah bersalah "Maaf deh! Oke, aku mau ambil pesananku dulu. Kayaknya udah selesai di racik si Ibu kantin" pamitnya kemudian meninggalkan Zifa.
Zifa menghela nafasnya pelan memandang kepergian Wika. Saat Wika kembali, Zifa memelototkan matanya karena Wika tidak sendirian. Dia bersama empat temannya yang lain. Perasaan Zifa menjadi tak enak, bukan karena ia tak suka dengan mereka. Tapi karena Zifa yakin kalau mereka akan banyak bertanya tentang Bima.
__ADS_1
"Kenalin Zi, ini teman-teman aku" ujar Wika sambil melirik teman-temannya.
"Aku Tari" ujar si wanita bermata sipit memperkenalkan dirinya. Ia menyodorkan tangannya pada Zifa dan dibalas gadis itu menyebutkan namanya.
"Aku Tri" kini giliran wanita berambut sedikit keriting.
"Aku Amira" sekarang si wanita yang berpenampilan seksi dan terlihat sangat modis itu yang memperkenalkan dirinya.
Terakhir satu-satunyaa lelaki yang ada di antara kumpulan wanita itu yang mendapat giliran memperkenalkan diri. "Aku Naren. Salam kenal Zifa!" Mereka menjabat tangan Zifa satu-persatu, kemudian semuanya melahap pesanan mereka. Wika sudah mengingatkan teman-temannya tadi agar tidak mengajak Zifa mengobrol saat makan.
Setelah makan, mereka mulai mengobrol banyak hal. Dari sana Zifa dapat mengetahui kalau mereka berbeda posisi di kantor ini. Naren dari divisi pemasaran, Amira sebagai Sekertaris Direktur keuangan, Tri dari divisi keuangan seperti Wika dan sedangkan Tari juga berasal dari divisi keuangan namun bedanya ia adalah ketua divisi.
"Ooh, itu. Kita akrab karena sama-sama suka gosip, Apalagi kan si Tri yang jadi sumber berita. sedangkan si Naren karena sering ngekorin si Tari yang merupakan sahabatnya makanya ia terdampar di sini" jelas Amira. Zifa mengangguk mengerti.
"Eh, ngomong-ngomong soal gosip Zi, kamu benaran kenal sama calon istrinya Pak Bima?" tanya Wika memulai gosipnya.
__ADS_1
Zifa mengangguk malas "Hmm"
"Oh yah, siapa?" tanya Amira kepo. "Padahal aku punya rencana dekatin Pak Bima loh" sambungnya.
"Intinya dia pacarnya Pak Bima dari SMA. Udahlah, nggak usah bahas masalah itu. Lagipula belum tentu mereka jodoh" ujar Zifa dengan sedikit sendu di akhir kalimatnya saat mengingat pacarnya itu ditawarkan menjadi calon menantu Dosennya sendiri.
"Maksud kamu?" kali ini Tari yang bertanya mewakili teman-temannya.
Zifa gelagapan "Ehh...emm, maksud aku itu gini. Jodoh rizki sama maut itukan hanya tuhan yang tahu. Jangankan yang masih rencana, yang pernikahannya aja tinggal beberapa jam bisa batal jika mereka ditakdirkan nggak berjodoh" alibinya berusaha menutupi kegugupan yang ia rasakan.
'Tapi semoga aja aku dan Bima nggak seperti itu' ujarnya membatin.
"Iya juga sih! Namanya sebuah hubungan pasti banyak banget cobaannya. Yang jadi Istrinya pak Bima nanti, juga harus menyiapkan mental dan harus tahan banting. Pak Bima itu begitu tampan dan perfect, jelas banyak yang iri dengan posisi istrinya nanti" ujar Wika.
Zifa tertegun karena kalimat Wika. Benar, belum jadi istri saja ia sudah diuji. Tapi Zifa berjanji akan berusaha melewati semua ujian tersebut. Anggap saja ujian itu adalah pengokoh hubungan mereka.
__ADS_1
Ke enam orang tersebut asik mengobrol tanpa terasa waktu makan siang sudah selesai. Mereka kemudian kembali ke ruangan mereka masing-masing, namun sebelum itu mereka saling bertukar nomor dengan Zifa.
Like, vote dan komentarnya jangan lupa😊