
"Kalian udah pesan?" tanya seseorang yang baru saja mendekati kumpulan itu. Semuanya menoleh dan membulatkan mata tak percaya, kecuali Zifa dan Wika tentunya.
Tri mendekat ke arah Wika dan berbisik "Pacar Zifa juga mau traktir Pak Bos?" Wika mengangkat bahunya, tak ingin menjawab. Biarlah teman-temannya itu tahu sendiri.
"Belum kok, ayo! kalian pesan apa, pesan sepuasnya. Mumpung ada yang traktir" canda Zifa mencairkan suasana.
Amira yang memang sudah merasa lapar dan tak sabar ingin menghabiskan uang pacar Zifa pun langsung menyuarakan pesanannya duluan. Yang lain pun kemudian mengikut, dan akhirnya Naren lah yang kebagian memberitahukan pesanan mereka pada Ibu kantin.
Suasana di meja tersebut kini hanyalah kesunyian semenjak kedatangan Bima, membuat Zifa sedikit tak enak. "Kok kalian pada diam sih? Tadi aja heboh banget" tanya Zifa.
Semuanya menegang, merutuki Zifa. Apa Zifa tidak merasakan ketegangan seperti mereka ketika berada dekat Bima? Apalagi pria itu duduk tepat di samping Zifa. Ah, mungkin karena Zifa sudah terbiasa berinteraksi dengan Bima mengingat wanita itu adalah sekertarisnya. Kira-kira begitulah isi pemikiran teman-teman Zifa, kecuali Wika tentunya karena gadis itu sudah tahu siapa Bima di kehidupan Zifa yang sebenarnya.
"Kok pacar kamu belum keliatan Zi?" tanya Naren yang baru saja mendudukkan dirinya setelah memesankan mereka makanan.
__ADS_1
Wika menatap Naren tajam, ia takut Bima tersinggung dan mereka akan berakhir dipecat.
"Iya. Kok ke toiletnya lama banget yah? Apa jangan-jangan benar kata Amira tadi kalau dia kabur gara-gara nggak mau bayarin makanan kita?" Zifa menahan tawanya mendengar ucapan Tari, sedangkan Wika semakin tegang.
"Pacar aku udah ada di sini kok, udah dari tadi malah!" ujar Zifa.
Ke empat orang teman Zifa itu kemudian celingak-celinguk ke sana kemari "Mana?" tanya Amira.
"Jangan bercanda Zi!" ucap Tari takut-takut. Betapa bodohnya dia mengatai bosnya kabur karena tak mau membayarkan makanan mereka.
"Siapa yang bercanda sih? Tanya aja Wika!"
Mereka serentak menatap Wika, membuat gadis itu mengangguk. "Matilah kita!" pekik Amira, membuat tawa Zifa pecah. Apalagi melihat wajah pucat dua gadis itu "Tenang Tar, Mir, Pacar aku nggak suka ngebunuh orang kok" Tari dan Amira akan segera menghela nafas legah, namun batal karena mendengar kalimat Bima "Paling potong gaji doang!" Zifa kembali tertawa, ia tahu sang kekasih hanya bercanda. Bima tak sekekanakan itu kali.
__ADS_1
"Jangan dong Pak, kasihan perut saya yang sering minta diisi kalau gaji saya dipotong" melas Tari.
"Nggak! Pak Bima bercanda kok" ujar Zifa tak tega. "Apa? Pak Bima?" beo Bima menatap tajam Zifa.
Zifa meringis, Bima kemudian menatap ke arah Tari dan Amira bergantian "Benar kata Mak Zifa, saya hanya bercanda" ujarnya. Sontak semua yang di meja tersebut menahan tawa, sedangkan Zifa menatap sang kekasih kesal. Bisa-bisanya dia dipanggil Mak.
"Kalau ketawa-ketawa aja, saya nggak larang kok kalau kalian mau ketawa sengakak apapun!" ujar Bima, tawa kelima teman Zifa itu pun pecah. Kali ini, keadaan berbalik. Tadi ia begitu senang menertawakan ekspresi mereka, sekarang malah dia yang ditertawakan.
"Kalian....."
"Permisi, ini pesanannya" ucapan Zifa terpotong saat pesanan mereka datang.
Hanya mau bilang, jangan lupa jejaknya😊
__ADS_1