Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Bersyukur


__ADS_3

Hari masih sangat pagi, namun sudah terlihat dua pria sedang berdiri di depan pagar kediaman keluarga Arjuna. Siapa lagi kalau bukan Azraf dan Bima. Dua pria itu sudah berdiri di sana sejak selesai subuh, benar-benar terlihat seperti orang yang kekurangan pekerjaan.


Juna yang baru pulang dari Masjid karena tadi ia masih mengobrol sejenak dengan Bapak-bapak komplek mengerutkan alisnya mendapati dua pria yang sangat tak asing lagi baginya.


"Kalian berdua? Ngapain kalian di sini?" tanya Juna heran.


"Saya berencana menjemput Istri saya Om" jawab Azraf. Juna mengangguk, karena ia ingat semalam Nara memang menginap di sini bersama Zifa. "Sepagi ini?" tanyanya.


Azraf menyengir pelan "Om kayak nggak tahu aja gimana rasanya ditinggal istri nginap di tempat lain aja" balas Azraf bercanda membuat Juna terkekeh pelan. Benar juga sih, bahkan kalau dia di posisi Azraf sudah dipastikan ikut menginap di sini bersama Istrinya.


Kali ini tatapannya jatuh pada Bima "Kamu ngapain Bim?" tanyanya heran. Kalau Azraf kan alasannya menjemput istrinya, kalau Bima? Masa menjemput Zifa sih? Ini kan masih sangat pagi.


Bima yang mendapat pertanyaan serupa dengan sepupunya tadi menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Anu Om, aku...."


"kamu..?" desak Juna.


"Aku hanya diajak Azraf Om" akhirnya kalimat itulah yang dijadikannya alasan. Tentu saja hal itu bohong, ia hanya ingin bertemu Zifa dan menyelesaikan permasalahan mereka yang semalam. Tak peduli meski ini masih terlalu pagi. Bahkan semalam ia berpikir untuk tak akan pulang menunggu gadis itu di depan pagar sampai pagi. Benar-benar konyol. Untung saja Azraf menyadarkannya, dan berakhir keduanya menginap di apartemen Bima.

__ADS_1


Azraf melotot tak terima karena namanya dibawa-bawa "Siapa bi...."


"Ya udah, ayo masuk kalau gitu. Nara sama Zifa pasti lagi tidur tuh! Nanti suru Istri Om yang bangunin mereka" ucapan Azraf terpotong dengan ajakan Juna untuk memasuki rumah, membuat Bima menghela nafas legah karena sang sepupu tak mengacaukan kebohongannya.


"Kamu gimana sih nggak bisa diajak kerja sama Zraf!" bisik Bima kesal saat Juna sudah melangkah terlebih dahulu.


Azraf menatap Bima dengan raut sok polos "Kan kamu nggak bilang dulu tadi. Udah ah, yang pentingkan nggak ketahuan!" ia kemudian mengikuti langkah Juna sambil tersenyum geli. Ia tak menyangka sepupunya itu bisa berbohong karena gugup.


"Dasar sepupu laknat! semoga aja Nara nggak maafin kamu" umpat Bima sambil mendahului langkah Azraf.


"Kalian duduk dulu, Om mau nemuin Tante Sisi sekalian nyuruh untuk bangunin Nara sama Zi" Bima dan Azraf mengangguk.


Selang beberapa menit, Juna dan Ningsih muncul dari arah dapur. Di tangan Ningsih terdapat dua cangkir kopi. Ningsih mendekat ke arah mereka, sementara Juna menuju kamarnya untuk berganti pakaian.


"Kalian belum minum Kopi kan? Ini Tante bikinin" ujarnya sambil meletakkan di atas meja yang terdapat di depan Bima dan Azraf. Ningsih memang tahu kebiasaan mengopi Bima dan Azraf dipagi hari dari cerita-cerita Zifa dan Nara.


"Maaf yah Tante, jadi ngerepotin" ujar Bima sungkan. Azraf ikut mengangguk.

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok!" kata Ningsih sambil tersenyum.


"Tante mau ke atas dulu yah, bangunin Zi sama Nara. Anak dua itu pasti tidur lagi selesai sholat tadi" pamitnya.


"Iya Tante" jawab keduanya bersamaan.


"Kamu rasanya enak banget Bim, Orang tua Zifa udah akrab banget sama kamu" ujar Azraf tiba-tiba.


"Maksudnya?" tanya Bima bingung.


"Ya maksud aku beda sama aku dulu. Meski Orang tua Nara dengan Mama Papa temanan, tapi diawal-awal orang tua Nara keliatan nggak suka banget sama aku" jelas Azraf.


"Kenapa? Bukannya mereka juga akrab dengan kamu yah?" tanya Bima.


Azraf mengangguk "Iya. Kita memang akrab, sebelum aku jadian sama Nara tentunya. Mereka tahu bagaimana tabiat aku dulu yang suka gonta-ganti pacar, dan itu dijadikan alasan untuk aku menjauhi Nara. Beruntungnya Nara mau diajak berjuang bersama, dan hasilnya yah seperti sekarang ini!" ucapnya sambil tersenyum kecil saat mengingat perjuangannya dulu. Mungkin melihat ia dan Nara semua orang tak akan mengira kalau mereka dulu menghadapi rumitnya meminta restu orang tua.


"Yah, aku memang beruntung. Bahkan dengan semua yang aku dan Zifa lalui selama lima tahun belakangan ini mereka nggak ikut memusuhi aku" ujarnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2