
"Makasih Bim" ucap Zifa saat menuruni Motor Bima. Zifa tadi sebenarnya terkejut saat mendapati Bima sudah berada di parkiran sekolahnya.
"Hmm!" balas Bima. Zifa dalam hati mencibir, apa susahnya cuma bilang 'sama-sama'. Sudah terhitung berapa kali ucapan terima kasihnya hanya dibalas kalimat 'hmm' dari Bima.
"Oh yah, besok kamu nggak perlu jemput aku" ujarnya saat Bima sudah memutar kunci dan bersiap kembali menghidupkan motornya.
"Ge-er!" cibir Bima. Cowok itu kemudian menghidupkan motornya dan pergi meninggalkan Zifa yang menahan kesal.
Zifa mengelus dadanya seolah menyuruh dirinya sendiri untuk bersabar menghadapi tingkah menyebalkan Bima. "Sumpah yah, tu cowok tingkahnya benar-benar nguji iman" ujarnya sambil menggelengkan kepalanya.
Zifa memasuki rumah, tak lupa mengucapkan salam.
Ningsih yang tengah menonton Tv menoleh saat mendengar suara sang anak.
"Udah pulang sayang?! Sini, ada yang mau Mama omongin" ujarnya menarik tangan Zifa untuk duduk di sofa. Zifa mendengus, ia sudah tahu apa yang sebenarnya ingin dibicarakan sang Mama.
"Nggak bisa nunggu Zi ganti baju dulu Ma?" tanya Zifa seolah menyindir.
Ningsih menggeleng. "enggak! entar kamu ngurung diri di kamar dan membuat Mama penasaran" jawab Ningsih seolah tahu apa yang dipikirkan anaknya. Zifa akhirnya hanya pasrah saja.
__ADS_1
"Bima itu siapa kamu sayang?" tanya Ningsih.
"cuma teman aku Ma" jawab Zifa jujur.
"Oh yah? Tapi bukannya Sekolah kalian berbeda yah? kamu kenal dia di mana?"
Zifa terdiam, bingung ingin menjawab apa. "Dia sepupu pacarnya Nara, Ma" jawab Zifa akhirnya.
"Oh yah? Bukannya kamu bilang Nara baru putus?"
"Iya. Ini yang lain lagi!" Zifa berusaha bersabar menjawab satu persatu pertanyaan sang Mama.
Zifa mendengus pelan. "Udah yah Ma, Zifa ganti baju dulu. Udah gerah" Zifa kemudian melangkah menuju kamarnya tanpa menunggu jawaban Ningsih. Ningsih tersenyum di tempatnya "Hahahaha. Anak aku yang jahil itu ternyata bisa salting juga"
Zifa mengambil ponselnya yang berdering. Sebuah pesan yang baru masuk menyita perhatiannya.
Mahluk Narnia
Aku sudah sampai
__ADS_1
Zifa menganga, ngapain juga tuh cowok harus ngabarin dia? Zifa kok merasa ngeri yah? Tapi....bukannya ini dapat membantu memperlancar misinya?
Zifa buru-buru membalas. Ia harus bertindak seolah biasa saja akan sikap Bima, namun ia juga berusaha agar komunikasinya dengan Bima akan lancar. Intinya, Zifa akan membuat Bima jatuh cinta tapi bukan dengan cara bersikap agresif dan mengejar-ngejar cowok itu.
Zizi
Nggak nanya!
Zifa mendengus kesal saat melihat pesannya hanya dibaca Bima. Gimana komunikasinya lancar kalau gini? Orang tuh cowok cuma nge-read doang pesannya. Bima itu benar-benar membingungkan bagi Zifa. Kadang manis, kadang baik, kadang nyebelin. Dengan kesal, Zifa melempar ponselnya ke atas ranjang dan lebih memilih mengganti seragamnya.
Selesai mengganti pakaian, Zifa membaringkan dirinya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya. Bunyi ponselnya membuat ia mengambil benda tersebut dengan cepat.
Mahluk Narnia
Sory baru balas. Tadi aku mandi dulu karena gerah, jadi baru lihat balasan kamu. Udah makan?
Mata Zifa melotot nyaris keluar melihat deretan kalimat yang terdapat di pesan Bima. "Ya Allah! Ini Bima kerasukan apa gimana sih? Kok aku jadi takut yah? Atau...ponselnya dibajak kali yah? Ya udah deh, mending nggak usah dibalas! jangan sampai kalau ponselnya benar-benar dibajak" ujarnya lalu kembali meletakkan ponselnya tanpa membalas pesan Bima. Zifa tak tahu saja di seberang sana, ada seseorang yang tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari ponsel karena menanti balasan pesan darinya.
Gimana menurut kalian tentang Bima? Ayo berikan dukungan pada karya ini berupa like, vote dan komennya😆
__ADS_1