
Makan siang bersama teman-teman sekantor Zifa berjalan dengan lancar. Dan tentu saja mereka menjadi saksi tingkah bucin sang Bos dingin. Bima tak segan-segan memperlihatkan kemesraan dan perhatiannya pada sang kekasih di hadapan anak buahnya, bahkan di hadapan seluruh penghuni kantin. Gosip tentu saja setelah ini bakal banyak beredar, namun Zifa dan Bima tak peduli. Asal pekerjaan mereka baik-baik saja itu sudah cukup. Memangnya apa yang ditakutkan Bima? Ketahuan orang tuanya? Tentu saja tidak. Karena Bima tahu mereka pasti bakal senang mendengar kabar jika ia dan Zifa berpacaran.
"Makasih yah Yang, udah ngenalin aku tadi ke teman-teman aku" ucap Bima di saat mereka sedang berada di jalan menuju ke rumah Zifa.
Zifa menatap Bima "Kenapa harus makasih? Seharusnya dari awal aku ngenalin kamu ke mereka. Hanya karena takut dengan hal-hal yang belum tentu terjadi aku malah menyembunyikan hubungan kita dan membuat kamu mungkin tersakiti" ungkap Zifa merasa bersalah.
Bima mengelus rambut Zifa dengan tangannya yang bebas, kemudian menurunkan tangannya untuk mengait tangan milik Zifa. Dibawanya tangan mungil tersebut ke bibirnya untuk ia kecup "Aku berharap banget masalah kita dengan Lia segera selesai yang. Aku benar-benar nggak sabar milikin kamu" Zifa terkekeh dengan wajah memerah mendengar ucapan penuh harap Bima.
"Yah makanya kita buruan selesaiin. Tapi Yang, menurut kamu Kak Lia tertarik nggak sih ke kamu?" tanya Zifa tiba-tiba.
Bima mengangkat bahunya "Aku juga nggak tahu. Tapi kayaknya enggak deh, soalnya dia nggak pernah keliatan merhatiin aku atau apapun itu sejak dulu. Dia kayak biasa aja gitu. Apalagi yah, dia kan belum move on dari mantannya" jawab Bima. "Iya juga sih Terus kamu nggak tertarik ke Kak Lia?" tanya Zifa menyelidik.
Bima menggeleng tegas "Kan udah dari awal aku bilang kalau aku tertarik sama dia, udah dari dulu kali aku ngejar dia. Bukan nungguin kamu yang nggak pasti" Zifa tersenyum kecil menyadari jawaban Bima mengandung sindiran untuknya di akhir kalimat.
__ADS_1
"Tapi ngomong-ngomong, kamu kok manggil dia Kakak?"
"Iya. Ternyata dia lebih tua dari aku, hampir seumuran sama Kak Bita gitu loh! Kamu ingat Kak Bitakan?"
Bima mengangguk "Iya. Yang aku kira pacar kamu itukan? Ternyata pas aku cari tahu bukan"
Tak terasa mobil Bima sudah sampai di depan pagar rumah Zifa. "Aku turun yah! Nggak mau mampir dulu?" tawar Zifa, Bima menggeleng "Enggak usah. Udah mau maghrib, entar malah kemaleman"
"Ya udah. Jangan lupa ngabarin yah kalau udah sampai"
"Salam aja sama Om Juna dan Tante Sisi"
"Siip! Sama Kak Lia nggak nitip salam juga?" tanya Zifa menggoda. Bima terkekeh pelan "Enggak! Entar ada yang ngamuk karena cemburu" balasnya tak ingin kalah.
__ADS_1
"Dasar! Udah sana pergi!" usir Zifa, Bima mengangguk lalu mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Eh! Kak Lia?!" pekik Zifa kaget saat berbalik langsung mendapati Lia di belakangnya dengan senyum menggoda.
"Aduh!! Adem banget yah rasanya ngeliat wajah adik aku yang lagi berbunga-bunga" godanya. Zifa tersenyum malu "Apaan sih Kak! Ayo masuk, nggak baik dekat waktu maghrib gini lama-lama di luar" ajaknya sambil berjalan memasuki rumah.
Lia tertawa "Loh, bukannya kamu yah yang tadi lama berdiri di sini?" Lia masih belum berhenti menggoda Zifa.
"Issh?! Kak! nggak usah ledekin aku deh!" rajuk Zifa. Gadis itu tiba-tiba menghentikan langkahnya "Kak, gimana kalau malam nanti kita jalan-jalan ke rumah Mami Tania? Sekalian aku ngenalin Kakak ke sepupu aku. Yang aku bilang satu almamater sama Kakak waktu SMP itu loh"
Lia menatap Zifa tak yakin "Kamu yakin? Emang nggak capek, kamu kan baru pulang kerja sore. Nggak lelah apa kalau malam jalan lagi?" tanyanya penuh perhatian. Gadis ini benar-benar baik. Setidaknya Zifa bisa legah karena ia sama sekali tak menangkap ketertarikan Lia pada kekasihnya begitupun sebaliknya.
"Enggak kok. Gabut juga kalau cuma diam-diam di rumah"
__ADS_1
"Yakin gabut? Bukannya tiap malam kamu selalu ngapel melalui hp yah sama yayang kamu?" ledek Lia saat mengingat kebiasaan berteleponan Zifa dan Bima tiap malam.
"Udah ah! Nggak usah ledekin aku mulu. Mending kita siap-siap memang sekarang, habis maghrib kita berangkat"