
Jangan lupa Like, vote dan komentarnya yah😊
Akad sekaligus resepsi pernikahan Nara berlangsung Khidmat dan ramai. Semua wajah orang-orang yang berada di sana tampak bahagia menyaksikan dua sejoli yang kini tengah menyalami para tamu undangan.
Sementara di sudut kiri ruangan tersebut, terlihat seorang gadis yang memakai gaun berwarna biru langit sedang duduk dengan wajah tertekuk. Tadi saat mendampingi pengantin wanita, ia berusaha mati-matian mempertahankan senyuman di wajahnya. Bukan karena ia tak bahagia dengan pernikahan ini, namun ada sesuatu yang membuatnya seperti itu.
Dia Zifa, sedang duduk sendirian sambil menggerutu di dalam hati. Bagaimana dia tidak kesal, semua keluarga dan kerabat baik dari pihak laki-laki maupun perempuan mengenakan seragam batik yang sama, namun ia tidak. Bukan masalah itu sebenarnya, karena Zifa sadar dia menjadi pengiring Nara makanya ia mengenakan gaun. Yang menjadi masalah adalah, seseorang yang berasal dari pihak pria. Dia juga tidak mengenakan batik, melainkan setelan Jas yang berwarna senada dengan gaun milik Zifa. Yang lebih menyebalkannya lagi, pria itulah yang mengiringi Azraf.
Zifa tak habis pikir dengan Nara dan Azraf. Sebenarnya apa maksud kedua mempelai itu sampai mempertemukan mereka di sini? Bahkan tadi mereka memaksa Zifa dan pria itu berfoto bersama mereka. Tunggu saja, Zifa ingin mencari kesempatan untuk mengomeli Nara hari ini juga. Zifa akan menculik gadis itu dan menceramahinya.
Zifa melotot saat terlihat dua orang sedang berjalan ke arahnya. Ia mengenal pria itu, sedangkan wanita itu ia tak mengenal namanya, yang Zifa tahu wanita itu adalah pacar ataupun mungkin sudah menjadi istri dari si pria tadi.
"Hai! kamu, sahabatnya Kak Narakan?" sapa wanita tersebut pada Zifa. 'sok kenal banget sih' batin Zifa.
Zifa mengeluarkan senyum terpaksa, ia melirik pria yang berada di samping wanita itu sedang menatapnya tajam. Zifa mendengus pelan, kenapa dia menatap Zifa seolah Zifa punya kesalahan sama dia?
"hmm, iya!" jawab Zifa seadanya. Ia bergerak gelisah di tempatnya, sebenarnya ia merasa tak nyaman berada di sini. Lebih tepatnya merasa tak nyaman berdiri di antara dua orang ini.
"Kenalin, aku Sarah" wanita tadi mengulurkan tangannya, mengajak Zifa berkenalan.
__ADS_1
Zifa membalas uluran tersebut dengan sedikit terpaksa. "Zifa" hanya itu. Kemudian, Zifa langsung berpamitan untuk mendekat pada Nara yang terlihat sedang celingukan entah mencari siapa.
"Nyari siapa Nar?" Tanya Zifa pada sahabatnya yang kini telah berstatus menjadi istri dari seorang Azraf, Pria yang ia cap playboy unta di masa sekolah dulu.
"Eh, ini ternyata anaknya. Dicariin juga. Aku pikir kamu tadi udah depresi dan bunuh diri gara-gara ketemu mantan yang terlihat semakin mempesona" ucap Nara membuat Zifa mendelik.
"Kamu dari mana aja?" tanya Nara.
"Daru ujung sana!" jawab Zifa malas. Mata Nara terlihat membola "habis ngobrol sama mantan yah?"goda gadis itu.
'Ya kali ngobrol sama mantan. Orang dia liat aku kayak liatin penjahat gitu' batin Zifa.
"Ya ampun Zi, kan kamu nggak nanya siapa yang ngiringin Azraf. Dan masalah baju, kan nggak mungkin kamu ngiringin aku pakai gaun warna biru dan Bima ngiringin Azraf pakai jas warna Ungu. Bakalan nggak nyambung jadinya" jelas Nara menepis pemikiran Zifa.
"Lagian yah Zi, Kan gaun aku warna biru juga, Azraf juga sama. Jadi mana mungkin Bima beda sama kita bertiga?" tambah Nara.
Justru itu! Mereka saat disandingkan sudah seperti dua pasang pengantin, jadi mana Zifa nggak merasa jengkel? Apalagi saat sesi foto mereka tadi.
Zifa memilih mengalah saja. Ia tak ingin berdebat dulu dengan Nara, biarlah nanti saat acara ini selesai barulah ia akan menceramahi Nara sekalian sama Azraf juga.
__ADS_1
"Oh yah, emang kenapa kamu nggak keliatan nggak suka banget gitu?" tanya Nara seolah tak tahu apa-apa.
"Nggak usah pura-pura deh Nar. Kamu jelas tahu kenapa!" kesal Zifa. Niatnya ingin mengalah, Nara malah bertanya hal yang membuatnya semakin kesal.
"Gara-gara Bima mantan kamu? Jangan-jangan kamu belum move on dari dia?" selidik Nara.
Zifa memutar bola matanya malas "Ini bukan perkara Move on atau belum Nar. Aku udah move on, bahkan sejak hari itu. Aku itu cuma malas aja ketemu dia. Bahkan dengar nama dia aja bawaannya sensi mulu"
"Itu tandanya kamu belum ikhlas ngelupain dia Zi. gini yah Zi. Move on itu bukan berarti kita melupakan, tapi artinya kita mengikhlaskan. Hingga saat kita bertemu dia nanti, hati kita itu udah nggak ngerasain sakit, bahkan kita udah nganggap biasa aja kejadian yang menyakitkan dulu. Kalau seperti kamu yang marah-marah mulu kayak gini gara-gara ketemu dia, itu berarti kamu belum mengikhlaskan kisah kalian. Atau mungkin, hati kamu masih berharap sama dia!"
Zifa hanya mampu terdiam mendengar perkataan Nara. Tidak, dia sudah tidak mengharapkan Bima. Tapi mengingat bagaimana pria itu dengan mudahnya mempermainkan dia dulu, rasa sakitnya tetap sama seperti hari itu.
"Udah, aku ke sana dulu. Udah terlalu lama aku ninggalin panggung. Bisa-bisa aku dikira kabur. Oh yah, satu lagi Zi. Mendingan kamu bersikaplah biasa saja. Kamu lihat di ujung sana!" Nara menunjuk ke tempat Zifa tadi. Terlihat Bima dan gadis tadi sedang bercanda bersama.
"Bima bahkan bisa tertawa bahagia sekarang. Masa kamu masih gini-gini aja"
Jleb! Ucapan Nara seolah menusuk jantung Zifa.
Menurut reader gimana? Zifa itu sebenarnya udah move on apa belum? Silahkan jawab di kolom komentarnya. Awas aja kalau nggak jawab😈 Nanti digentayangin sama Bima.
__ADS_1