
Bima menatap wajah Zifa yang masih tertidur pulas di sampingnya dengan senyum mengembang sempurna. Ini adalah impiannya sejak dulu, memperistri gadis yang mencuri hatinya sejak pertama kali pertemuan. Bahkan ia bisa merubah Bima dari yang sedingin es menjadi hangat layaknya mentari pagi.
Entah harus bagaimana lagi mengungkapkan rasa syukurnya akan kebaikan Allah padanya. Bima hanya berharap, rumah tangganya itu akan berlangsung bahagia, sakinah, mawaddah, warahmah. Ia juga berharap, apapun ujian yang akan diberikan di dalam pernikahan mereka, keduanya akan menghadapinya bersama-sama sehingga semuanya terlewati begitu saja.
Bertahun-tahun berpisah dengan Gadis yang kini sudah menjadi Istrinya itu, namun tak mampu menghapus rasa cintanya pada Zifa. Padahal jika dipikir-pikir, ia mencintai Zifa di umur yang masih remaja. Kalau kata orang, itu adalah umur di mana kita masih labil-labilnya. Sepertinya benar kalimat kalau cinta pertama itu susah dilupakan.
Bima mengingat bagaimana pertemuan awal mereka. Ia jatuh cinta pada Zifa bukan karena wajah cantiknya. Cantik itu mungkin hanya bonus saja. Ia menyukai Zifa karena gadis itu tidak seperti gadis lain, yang akan berusaha mencari perhatian Bima. Zifa malah terkesan tak suka akan kehadirannya.
Mata Zifa terbuka, sayup-sayup gadis itu menemukan wajah Bima yang begitu dekat dengannya. Bima yang melihat hal tersebut bukannya menjauh, malah makin melebarkan senyumnya. Saling pandang dengan pujaan hati yang sudah halal saat baru bangun, bukankah itu nikmat yang patut untuk disyukuri?
"Kenapa liatin aku?" tanya Zifa sedikit menjauhkan wajahnya. Ia mengucek matanya karena masih merasa ngantuk.
"Emang nggak boleh liatin Istri sendiri?" balas Bima.
__ADS_1
Zifa menggeleng pelan "Ini jam berapa?" tanya Zifa mengalihkan perhatian.
"Jam empat pagi. Jangan tidur ulang, bentar lagi waktunya sholat"
Zifa hanya mengangguk. Keduanya kemudian bersiap-siap untuk melaksanakan shalat Subuh.
Zifa menyiapkan sarapan untuk Bima di meja makan, sementara Bima asik memperhatikan kegiatan sang Istri dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
"Kenapa sih, dari tadi liatin Mulu! Aku risih tau nggak sih" protes Zifa.
Zifa mendengus. Suka-suka Bimalah. Mau dilarang juga dia pasti nggak mau mendengarkan Zifa.
Bima memakan masakan buatan Zifa dengan lahap, makanan itu terasa begitu nikmat. Bima mengatakan Ini bukan cuma karena naluri seorang suami, tapi karena memang masakan Zifa benaran enak. Bahkan nasi goreng buatan Zifa selalu menjadi menu favoritnya karena masakan itulah yang sering dibawa Zifa untuk mereka makan saat masih pacaran dulu.
__ADS_1
"Kayaknya aku bakal gendut deh, setelah ini" ucap Bima, membuat Zifa yang akan mengarahkan sendok berisi makanan ke mulutnya terhenti. Ia mengerutkan alisnya bingung akan perkataan Bima. "Kenapa?" tanya Zifa.
"Karena aku kalau makan masakan kamu lahap banget" jawab Bima.
Zifa tersenyum geli "Ya kamu harus rajin olahraga dong. Entar kalau kamu gendut, terus perut kamu buncit aku mau cari cowok yang badannya atletis loh" canda Zifa.
Bima mengerucutkan bibirnya. "Jahat banget sih, jadi Istri"
Zifa tertawa melihat wajah masam suaminya itu. "Ya enggaklah, Sayang. Mau bagaimanapun bentuk kamu aku akan tetap Nerima kamu. Karena kamu adalah Bima. Satu-satunya pria yang buat aku jatuh cinta" Sepertinya dunia memang sudah terbalik. Buktinya saat ini, Zifalah yang menggombali Bima yang tengah ngambek.
"Jadi ceritanya, Istri aku ini mulai bucin yah?" ledek Bima dengan wajah tengil. Entah kemana ekspresi masamnya tadi. Ia benar-benar senang karena Zifa mulai menunjukkan sikapnya terang-terangan.
Dukungannya jangan lupa yah zeyenk-Zeyengq☺️
__ADS_1
Sun online untuk kalian😘😘