
Zifa tak tahu bagaimana hubungan Bita dan Lia sebenarnya. Setahunya, Bita beberapa kali mengajak Lia jalan-jalan mengelilingi kota yang mereka tinggali. Keduanya terlihat begitu dekat, namun Zifa sangat terkejut saat Bita dan Lia mengatakan padanya kalau keduanya berencana untuk menikah.
Tentu saja Zifa terkejut, apalagi setahunya Lia bertahun-tahun tak bisa melupakan mantan kekasihnya itu. Namun ternyata Bita begitu mudah meluluhkan hati wanita berhijab tersebut. Zifa tentu saja juga merasa senang, karena Lia akan resmi menjadi keluarganya. Bagaimanapun, ia sudah menyayangi Lia seperti Kakaknya sendiri.
"Jadi, bagaimana rencana kalian setelah ini?" tanya Zifa, mengingat besok Lia akan segera pulang ke Singapura.
"Aku akan biarkan Lia pulang dulu untuk besok. Nanti di sana juga ia akan mulai menceritakan aku ke keluarganya, agar mereka tak akan kaget saat aku datang nanti" jelas Bita yang diangguki Lia.
"Terus Kakak kapan akan menyusul ke sana?"
"Bulan depan mungkin. Aku juga akan kembali ke Jepang terlebih dahulu, untuk mengurus beberapa masalah perusahaan di sana. Inshaa Allah bulan depan aku akan menyusul Lia sekaligus membawa Mama dan Papa" jawabnya begitu lugas, sehingga mampu memunculkan rona merah di pipi gadis berhijab yang duduk di samping Zifa itu.
Zifa merasa tersentuh akan kesungguhan sepupunya itu untuk Lia. Ternyata di balik sikap pendiam Bita selama ini, menyimpan begitu banyak keromantisan di dalamnya.
"Ahh! Rasanya aku nggak ikhlas Kak Lia pulang besok" desah Zifa mengingat kalau Lia akan kembali besok. gadis itu menghempaskan dirinya ke sandaran sofa.
__ADS_1
"Tenang aja Zi, kan nanti setelah kami resmi kita bakal tinggal di sini bukan di Singapura lagi" hibur Bita. Ternyata pria itu benar-benar sudah menyusun rencana kehidupan mereka ke depannya.
Zifa tertawa meledek "Cieee, yang udah mikirin duluan masa depan"
"Ya harus gitu Zi. Kan umur kita makin lama makin tua, kalau nggak disusun dari sekarang ke depannya malah bakalan kacau karena nggak tahu harus apa" yah, Zifa sangat paham pemikiran cerdas Bita itu.
"Mami sama Om udah tahu kalian pacaran?" tanya Zifa.
Bita menggeleng "Enggak. Lagian kan kita nggak pacaran!"
"Kita hanya berkomitmen. Itu lebih baik dari pada kata pacaran" ujarnya sedikit menyindir Zifa. Zifa mendengus "Aku sama Bima juga pacarannya penuh komitmen kok"
Bita tertawa kecil "Aku nggak lagi nyindir kamu sama Bima loh"
"dasar ngesalin!" cibir Zifa. Lalu gadis itu mengalihkan tatapannya pada Lia "Kakak yakin mau sama Kak Bita? Dia ngesalin loh Kak" hasutnya.
__ADS_1
Bukannya terhasut, Lia malah mengangguk penuh keyakinan. "Yakin kok" jawabnya enteng, sekaligus ikutan menggoda Zifa yang tengah kesal.
Zifa yang tak mendapat dukungan akhirnya berdiri dan meninggalkan keduanya di ruang tamu. Gadis itu bermaksud menuju kamarnya untuk menelpon Bima, sekaligus memberitahukan kabar gembira itu.
"Mau ke mana kamu?" tanya Bita.
"Mau ke kamar. Malas aja jadi nyamuk pasangan kompak kayak kalian! Nggak asik" jawabnya lalu melangkah pergi dari sana.
Bita menggeleng "Dasar! Udah besar masih aja ngambekan!"
"Bodoh amat! Daripada situ pubernya datang terlambat!" ejek Zifa yang sudah berada di atas undakan tangga.
"Ya itu lebih bagus, dari pada kamu jadi manusia susah muve on" balas Bita tak mau kalah. Lia yang mendengar dua orang tersebut berdebat tertawa sendiri. Mereka terlihat sangat akrab dan saling menyayangi satu sama lain.
Apa aku harus ingatin lagi jejaknya?
__ADS_1
Oke. Jangan lupa tinggalkan jejak😊