Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Ngidam dan Baper


__ADS_3

"Pagi Zifa! Pak Bima ada di dalam?" sapa Rey pada Zifa yang tengah merapikan beberapa map di atas mejanya.


"Pagi Pak Rey! Miss Nadin. Pak Bima ada di dalam kok, langsung masuk aja" sapanya pada Rey dan juga Nadin yang melangkah di belakang pria itu.


"Pagi Zi!" balas Miss Nadin. Zifa memang sudah jarang melihat Rey di kantor akhir-akhir ini. Yang Zifa tahu, pria itu selalu diutus Bima untuk menangani proyek mereka di luar kota. Rey juga sering disuruh Bima menggantikannya untuk pertemuan-pertemuan dengan klien perusahaan di kota lain. Zifa hanya berpikir, apa Miss Nadin tidak keberatan jika suaminya itu terus meninggalkannya untuk urusan pekerjaan? Bima memang benar-benar boss yang tak pengertian.


Rey kemudian langsung masuk ke dalam ruangan Bima, berbeda dengan Miss Nadin yang malah berdiri di depan meja Zifa.


"Ada yang bisa saya bantu Miss?" tanya Zifa bingung.


Miss Nadin menggeleng "enggak. Saya cuma mau mengobrol dengan kamu sebentar"


"Oh yah, kamu jangan manggil saya Miss Nadin lagi dong. Kesannya kayak formal banget kedengarannya" ujar wanita itu.


"Terus saya harus manggil Miss dengan sebutan apa?" tanya Zifa bingung.


Nadin meletakkan tangannya di dagu, mencari-cari panggilan yang pas untuknya. "Gimana kalau Kakak saja? Aku yakin kamu lebih muda dari aku, iyakan?"


'kakak?' Zifa merasa aneh mendengarnya. "Tapi Mis...."


"Ayolah Zifa. Aku sedang hamil loh Zifa, kalau kamu nggak nurutin permintaan aku bayiku nanti ileran bagaimana?" potong Miss Nadin membuat Zifa terkejut.

__ADS_1


"Miss Nadin ngidam ingin dipanggil Kakak?" tanya Zifa memastikan. Miss Nadin mengangguk "Iya. Soalnya aku itu anak tunggal Zi, dan aku yang paling bungsu di antara sepupu-sepupu aku. Makanya aku mau kamu jadi adik aku, yah!" pintanya dengan wajah memelas.


Zifa benar-benar dibuat heran dengan tingkah wanita ini. Astaga! Apa hamil seaneh ini? "Tapi kenapa harus saya?"


"Karena saya dari awal pengen banget dekat sama kamu. Kayaknya kamu lucu" jawab Miss Nadin santai.


"Ya, mau ya Zifa manggil aku Kakak?"


Pintu ruangan terbuka memperlihatkan Bima dan Rey yang baru keluar dari sana. Keduanya menatap heran pada Zifa dan Miss Nadin yang tengah mengobrol. Apalagi wajah memelas Miss Nadin membuat mereka bertanya-tanya.


"Kenapa sayang? Kok kamu nggak nyusul aku ke dalam?" tanya Rey sambil mendekati Nadin.


Rey menatap Zifa seolah bertanya, Zifa menggeleng. "Bukannya nggak mau Pak! Saya hanya merasa aneh saja tadi"


Rey tersenyum geli akan keinginan istrinya. Di rumah, memang Nadin sering mengungkapkan keinginannya untuk jadi kakaknya Zifa. Sebenarnya tak masalah, hanya saja kan Zifa bukan lagi anak kecil yang disuruh manggil kakak langsung nurut. Apalagi istrinya itu dan Zifa nggak akrab, jelas saja pasti Zifa terheran-heran.


"Kamu ikutin maunya aja yah Zifa! Udah lama dia pingin dipanggil Kakak sama kamu"


Zifa menghela nafas pelan. "Oke. Ka...kak. Kak Nadin!" ujarnya kaku. Mata Miss Nadin seketika berbinar, ia mendekati Zifa dan segera memeluk gadis itu. Zifa malah menampakkan wajah herannya saja, apa semua orang ngidam aneh seperti ini?


"Sudah yah sayang yah? Zifa mau bekerja lagi, kita lebih baik ke ruangan aku dulu" bujuk Rey.

__ADS_1


Miss Nadin melepas pelukannya dan mengangguk. Wajahnya terlihat sangat senang, apa dia seingin itu dipanggil Kakak?


Kedua pasangan itu kemudian berpamitan, meninggalkan Zifa yang masih merasa bingung akan ngidamnya Nadin dan Bima yang kini sedang menatap wajah kebingungan sekertarisnya itu.


"Ehmm" dehem Bima karena sepertinya Zifa tidak menyadari keberadaannya.


"Eh, Pak Bima!"


"Kamu nggak usah bingung kayak gitu liat tingkah Ibu hamil. Kalau kamu hamil nanti kamu bakal ngerasain juga gimana rasanya ngidam aneh" ujar Bima.


"Jadi kalau orang ngidam nggak diturutin anaknya bakalan ileran?"


Bima mengangguk. "Iya, banyak yang bilang gitu"


Zifa mengangguk-anggukkan kepalanya "Kalau gitu saat ngidam nanti aku mau peluk dan cium Kim Bum Oppa ah!" gumamnya sambil terkekeh geli membayangkan.


Bima mendelik "dan saya nggak bakal turutin"


Zifa menatap Bima bingung "kok gitu? emang hak Bapak apa?"


"Karena hanya sayalah yang berhak menjadi ayah dari bayi yang kamu kandung nanti!" balasnya sambil menatap Zifa tajam.

__ADS_1


__ADS_2