Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Merasa Bodoh


__ADS_3

"Sekarang Papa bisa jelasin apa maksud Papa rekomendasiin perusahaan Bima ke Zi?" tanya Zifa. Kini keluarga tersebut baru saja selesai menikmati makan malam.


Juna terkekeh pelan, rupanya anaknya itu tak sabar akan penjelasannya. "Sebelum Papa jelasin ke kamu, apa Papa bisa nanya apa alasan kamu memutuskan bekerja di Perusahaan lain terlebih dahulu?"


Zifa mendengus malas. Kenapa jadi Papanya yang bertanya. Namun ia tetap menjawabnya meski jawaban itu sudah berapa kali ia katakan pada orang tuanya.


"Akukan udah sering bilang kalau aku mau belajar dari bawah terlebih dahulu. Agar kelak saat aku mimpin perusahaan nggak semena-mena sama bawahan karena aku juga pernah ngerasain di posisi itu"


Juna mengangguk "Papa juga punya alasan yang berhubungan dengan kepemimpinanmu nanti"


Zifa menatap sang Papa penuh kebingungan. "Kamu tahu, saat memimpin perusahaan yang diperlukan bukan cuma tak bersikap seenaknya pada Karyawan. Tapi yang paling utama adalah keprofesionalan"


"Terus?" tanya Zifa penasaran.


"Papa ingin mendidik kamu untuk jadi orang yang profesional. Dengan cara memasukkan kamu di sana, Papa berharap suatu saat nanti kamu tak akan goyah menghadapi siapapun. Dengan begitu, mental kamu tak akan mudah dijatuhkan"

__ADS_1


Zifa mulai mencerna ucapan Juna. "Sayang, kamu tahu dunia bisnis itu sebenarnya kejam. Banyak orang yang menjalankan bisnis dengan cara kotor dan saling menjatuhkan. Dengan kamu bermental kuat, kamu pasti akan bisa menghadapi lawan" tambahnya.


"Lagipula, Papakan hanya mengusulkan saja kamu mendaftar di sana"


Zifa menghela nafas pelan. Ia memahami akan semua maksud Juna. "Apa Papa bekerja sama dengan Bima?" tanya Zifa menyelidik.


"emm....enggak kerja sama juga sih. Waktu itu sebelum kamu kembali ke sini, Papa hanya menanyakan posisi yang kosong di perusahaannya. Dan kebetulan posisi itu cocok dengan bidang kamu. Ya sudah, Papa bilang sama dia kalau Papa akan mencoba nyuruh kamu daftar di sana"


Zifa masih tak percaya begitu saja. Kalau memang Bima mengatakan posisi kosong saat itu pada Juna, lalu kenapa pria itu malah memperkerjakan dia di bidang lain?


"Benar apa yang Papamu katakan sayang! Bahkan Papa sempat mengatakan keheranannya sama Mama waktu itu" Ningsih yang sedari tadi diam ikut meyakinkan sang anak agar anaknya itu tak salah paham.


"Okey! Zi percaya sama Papa dan Mama. Tapi Zi masih kesal, kenapa harus Bima?" gadis itu menghentak-hentakkan kakinya yang menggantung di atas lantai.


"Salah kamu sendiri nggak baca majalah bisnis yang Papa kasih"

__ADS_1


Zifa tersentak "Eh?! Iya juga yah?" dia menggaruk kepalanya yang tak gatal karena mengingat kebodohannya itu. Kalau saja dia membaca majalah itu, pasti dia tak akan bertemu mantan luknutnya itu.


"Nah, sekarang sadar kan sebenarnya ini kesalahan siapa?" ucap Juna sambil tersenyum mengejek pada sang anak.


"Aah, tau ah! Zi kesal" ujarnya sambil meninggalkan Juna dan Ningsih yang kini tengah saling menatap dan tersenyum geli karena tingkahnya.


Zifa melangkah menuju kamarnya sambil merutuki kebodohannya sendiri. Sesampainya di kamar, gadis itu membuka laci nakasnya dan menemukan majalah bisnis yang diberikan sang Papa tempo hari.


Ia membuka lembaran Majalah tersebut dan menemukan halaman yang memuat tentang Lion Corp.


"Jadi perusahaan itu adalah perusahaan milik Om Agung dan kini dilanjutkan oleh Putranya yang tak lain adalah Bima?" gumam Zifa.


"Tapi bodoh amat ah! Mau perusahaan itu dari mana juga bukan urusan aku kali" Zifa kemudian melemparkan majalah itu begitu saja ke atas lantai.


Minjam jempolnya bisa kan?

__ADS_1


__ADS_2