
Jangan lupa like, vote dan komentarnya😊
Zifa menunduk hormat saat Bima akan melintas. Namun bukannya langsung ke ruangan seperti biasanya, Bima malah berhenti di depan meja Zifa.
"Kenapa kamu berangkat duluan?" Tanya Bima sambil menatap Zifa tajam.
"Karena saya nggak mau terlambat dan mendapat teguran dari bos" dalih Zifa. Bima tersenyum sinis "Saya rasa otak kamu masih berfungsi. Mana ada saya menegur kamu terlambat jika kamu berangkat bareng saya. Lagipula, ini masih pagi. Mana mungkin kamu terlambat walau menunggu saya tadi" sepertinya Bima benar-benar kesal. Tapi Zifa tak peduli hal itu. Biar saja Bima mengomelinya, asal namanya di kantor tetap bersih dari gosip-gosip miring.
"Huh! Tapi ya sudahlah! Setelah ini antarkan berkas-berkas yang harus saya tanda tangani" Zifa seketika bernafas legah saat Bima meninggalkan mejanya.
Namun hal itu tak berlangsung lama karena pintu ruangan terbuka dan menampakkan sosok bos dinginnya itu. "Kamu tidak dengar saya bilang apa tadi Zifa?"
Zifa tersadar dan buru-buru mengambil berkas yang memang sudah dia sediakan di atas meja tadi dan segera membawanya ke ruangan Bima untuk ditanda tangani.
__ADS_1
Bima dan Zifa kini tengah berada di sebuah restoran mewah. Mereka akan bertemu rekan kerja Bima untuk membicarakan kerja sama perusahaan mereka. Pertemuan tak berlangsung lama karena ternyata mereka hanya membicarakan perpanjangan masa kontrak kerja sama saja.
Saat akan pulang, tiba-tiba langkah Bima terhenti dan Zifa yang berada di belakangnya otomatis ikut terhenti. Untungnya ia berjalan sedikit berjarak dengan Bima, kalau tidak bisa dipastikan dia menabrak punggung pria itu.
Zifa mencari titik pandangan Bima, dan ia menemukan seseorang yang tengah makan sambil tertawa di ujung ruangan. 'Sarah? Sama cowok? Itu siapanya?' Batin Zifa bergejolak karena penasaran. Ia kemudian berdiri di samping Bima, memperhatikan ekspresi pria itu yang menatap tajam ke arah Sarah dan pria yang bersamanya.
'Astaga! Jangan bilang si Bos mau menghampiri mereka dan menghajar pria itu?'
Bima melangkah dengan cepat mendekat ke arah meja yang ditempati Sarah. Zifa yang takut terjadi sesuatu mengikut di belakang Bima, takutnya Bosnya itu membuat kegaduhan di tempat orang.
Sarah dan pria yang bersamanya itu menoleh dan seketika terkejut melihat kedatangan Bima.
"Bi...B..Bima. Aku...aku" pria itu berujar terbata. Zifa bisa menyimpulkan kalau ternyata mereka saling mengenal.
__ADS_1
"Kak, sorry!" Cicit Sarah sambil menatap Bima takut.
Zifa sudah bersiap siaga. Jika Bima melakukan keributan, ia akan segera berteriak meminta pertolongan.
"Sarah, sejak kapan?" Tanya Bima sambil menatap Sarah tajam. Padahal Sarah yang ditatap, malah Zifa yang gemetaran melihat tatapan pria itu yang lebih menakutkan dari biasanya.
"Jawab Sarah, Kakak bilang sejak kapan?"
"Se...ssejak...satu ta..tahun lalu!" Ujarnya terbata. Sementara pria itu menatap Bima dengan raut bersalah. Zifa yang mendengarnya pun menganga lebar. Sudah selama itu mereka bermain di belakang Bima?
Bima tertawa sinis. "Hahahaha! Sejak satu tahun lalu? Dan kalian tidak berniat jujur sama sekali? Hah? Bagus! Kalian buat aku kaya orang yang benar-benar bodoh selama ini"
"Aku kecewa sama kalian berdua tau nggak!" Setelah mengatakan itu Bima langsung meninggalkan tempat tersebut. Yang membuat Zifa tak percaya pria yang tengah marah itu malah masih sempat menarik tangannya untuk pergi dari sana. Berarti sejak tadi Bima menyadari keberadaannya dong? Ia pikir saking marahnya Bima malah nggak sadar sekitar.
__ADS_1
Up dua kali, jadi jangan nagih yah😊
Aku nggak marah sebenarnya saat kalian ngedesak minta lanjut, tapi aku malah kehilangan ide seketika dan nggak tahu mau up apa. Maka jangan nagih, biarkan ceritanya berjalan sesuai ide aku.