
Zifa melangkahkan kakinya memasuki kantin kantor. Seminggu sudah ia bekerja di sini, namun baru kali ini Zifa mencoba makan di tempat ini. Sebelumnya ia lebih memilih makan di Restoran yang letaknya dekat dengan kantor itu.
Selesai memesan makanan, Zifa menunggunya di tempat dudum sambil memainkan ponselnya. Ia memang belum mengenal siap-siapa di sini selain Rey yang notabebenya adalah bos sementaranya. Bukan karena tak ingin bergaul, namun karena seminggu ini ia benar-benar berlatih keras agar tidak membuat kesalahan pada atasannya nanti. Kata Rey, atasannya itu baik hanya saja sedikit pemilih.
Menurut Rey, Bos mereka adalah orang yang membenci beberapa hal, salah satunya adalah Karyawan yang tidak profesional dan suka menggodanya. Bosnya juga membenci orang yang kurang teliti, orang yang tidak tepat waktu dan orang yang membangkang pada perintahnya. Ia bahkan tak segan-segan langsung memecat jika melakukan hal-hal di atas.
Pesanannya datang, ia kemudian menyimpan ponselnya dan mulai melahap makanan tersebut.
"Hy!" Sapa seorang perempuan yang kini sudah mengambil tempat duduk tepat di depan Zifa.
Zifa mendongak dan tersenyum pada wanita di depannya itu. "Hy!" balasnya sedikit kaku.
"Aku boleh duduk di sini kan?"
__ADS_1
Zifa mengangguk "Tentu saja. Bangku itu kan kosong, jadi silahkan"
"Kamu Sekertaris barunya Pak Bos yah?"
Zifa mengangguk. Wanita itu kemudian mengulurkan tangannya pada Zifa. "Wika, dari Difisi keuangan" ujarnya memperkenalkan diri.
Zifa membalasnya dengan tersenyum ramah "Zifa"
"Iya. Aku ingat waktu itu, aku lagi ngantarin oleh-oleh titipan Mama aku ke Bu Helma yang HRD itu. Bu Helma itu tante aku. Nah pas ke sana, ternyata Pak Bos sama Pak Rey ada di sana. Aku lihat sendiri ia mengambil berkas kamu dan langsung menyerahkan ke Pak Rey"
"Padahal yah, Kamu sebenarnya sudah diterima di bagian keuangan. Namun karena tingkah Pak Bos, Bu Helma malah harus kembali memilih pelamar yang lain untuk menempati posisi itu" jelas Wika.
"Masa sih? Bukannya pas wawancara kemarin katanya posisi itu sudah ada yang menempati sebelum aku melamar di sini?" Tanya Zifa tak mengerti.
__ADS_1
"Mereka bilangnya gitu?"
Zifa mengangguk. "Iya"
Wika terlihat menggaruk pelipisnya, sejak awal sih dia bingung dengan sikap bosnya tersebut. Dan mereka juga membohongi Zifa? Padahal jelas-jelas hari itu Bu Helma akan segera menghubungi Zifa namun karena Bos mereka yang seenaknya meminta Zifa menjadi Sekertarisnya Bu Helma harus kembali memilih kandidat yang lain.
"Ya tapi nggak apa-apa juga sih Zi. Lagipula, Bos kita itu keren. Hanya saja, kalau kamu mengaguminya harus sembunyi-sembunyi agar nggak kena pecat"
"Yah. Pak Rey juga ngingatin aku kayak gitu. Tapi bodoh amatlah, orang aku di sini cuma mau kerja. Mau tampang bos kita kayak gimana aku nggak peduli" Keduanya kemudian berbincang-bincang dengan akrab. Meski baru kenal, namun karena Wika yang banyak bicara atau dengan kata lain cerewet membuat Zifa cepat mengakrabkan diri.
Selesai makan, Zifa kemudian berpamitan karena sebentar lagi jam istirahat akan selesai. "Oh yah, minta nomor ponsel kamu dong Zi. Biar kita bisa saling kontek-kontekan"
Maaf baru up. Soalnya ada kerja yang harus aku selesaikan tepat waktu, dan itu benar-benar menyita waktu banget. Bahkan tidur sampai jam tiga subuh demi nyelesaiinnya agar tepat waktu. Aku harap kalian bisa mengerti😯
__ADS_1