
"Perkenalkan Pak, ini Zifa. Sekertaris baru Bapak. Dan Zifa, ini Pak Bima. Direktur perusahaan ini" ujar Rey.
Bima menatap Zifa dari atas hingga ke bawah dengan tatapan datarnya. Sementara Zifa hanya membungkukkan badannya sebentar sebagai bentuk kesopanan.
Bima tak mengatakan apapun, pria itu kemudian melenggang begitu saja memasuki ruangannya membuat Zifa mengutuknya di dalam hati. Tahu begini, Zifa lebih baik menerima tawaran sang Papa bekerja di perusahaan Keluarganya. Ngomong-ngomong tentang Papanya, Zifa jadi ingat kalau perusahaan ini adalah rekomendasi dari Papanya. Pasti Papanya sengaja deh ngelakuin ini.
"Maaf yah, Pak Bima memang begitu. Sebenarnya dia baik, hanya.."
"Iya nggak apa-apa kok" potong Zifa pada kalimat Rey. Zifa memaksakan senyumnya, namun dalam hati ia menyumpah serapahi Bima. Apa maksud cowok itu menjadikannya Sekertaris sebenarnya? Apa dia punya dendam pada Zifa? Cih! Seharusnya yang dendam itu Zifa, bukan dia. Oh, atau dia mau pamer pada Zifa semua apa yang dimilikinya? Termasuk kemesraannya dengan gadis itu nanti? Tapi, kata Wika Bima belum menikah. Jadi, gadis itu masih pacarnya? Belum ia nikahi? Zifa menggelengkan kepalanya pelan. Kenapa pikirannya malah ke arah Bima dan pacarnya sih.
"Zifa. Kamu baik-baik aja?" tanya Rey.
Zifa tersenyum kaku "Eh, eng..nggak apa-apa kok Pak Rey"
__ADS_1
"Kalau begitu saya masuk dulu, mau nyusul si Bos" pamit Rey yang diangguki Zifa.
"Andai Bos aku Pak Rey!" gumam Zifa pelan sambil memandang punggung Rey yang sudah berlalu dari sana. Kenapa juga harus Bima yang jadi Bosnya?
Zifa melangkah lesu saat memasuki rumahnya. Juna yang pulang lebih awal dan sedang duduk di ruang keluarga bersama Ningsih menatap Zifa bingung.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Juna. Ningsih ikut mengerutkan alisnya saat melihat tampang anak gadisnya itu.
"Papa kenapa nggak bilang kalau Direktur perusahaan itu Bima?" Tanya Zifa langsung.
"Jadi Papa sengaja?" tanya Zifa menuntut. Ia menatap sang Papa dengan tajam.
"Kamu lebih baik mandi dulu. Ganti baju juga. Nanti saat selesai makan malam baru Papa jelaskan" suruh Juna santai.
__ADS_1
Zifa melotot, kemudian ia beralih menatap Mamanya meminta pembelaan.
Ningsih tersenyum lembut. "Yang Papa kamu bilang benar. Mending kamu mandi dulu. Yah?!" bujuk Ningsih.
Zifa menghela nafas kesal dan meninggalkan keduanya tapa mengucapkan apapun lagi.
"Kamu sih Kak, nggak ngasih tahu dia. Anaknya jadi ngambek kan" ujar Ningsih.
"Kamu tenang aja sayang, percaya sama Kakak. Biar nanti Kakak yang ngasih dia pengertian" balas Juna sambil menarik bahu sang istri agar semakin mendekat padanya.
Sementara di dalam kamar, Zifa melampiaskan kekesalannya dengan memukul-mukul bantal. Membayangkan bantal itu adalah Bima. Seandainya Bima tidak bersikap sesombong itu, tentu Zifa juga tak akan sekesal ini. Ia kesal mengingat tatapan Bima yang memandangnya dari atas sampai bawah seperti tadi. Apa maksdunya itu? Dia mau merendahkan Zifa? Ia juga kesal saat pria itu melewatinya begitu saja tanpa berbasa-basi menyapa selayaknya Bos dan Sekertaris pada umumnya. Kalau memang dia benci dengan Zifa, lalu kenapa ia merekrut Zifa? Lagipula, apa alasan Bima membencinya? Sedangkan dulu yang salah Bima, bukan Zifa. Kalau seperti ini, bukankah Zifa akan selalu terbayang-bayan kebenciannya pada cowok itu di masa lalu? Mau resign pun mana mungkin, Ia baru dua minggu kerja.
"I hate you, Bima. Pria brengsek sialan. Sial sial sial!" ujarnya sambil memukul-mukul bantal gulingnya. Tanpa sadar, air matanya ikut menetes.
__ADS_1
Ketemu lagi sama Zifa dan Bima. Like, vote dan komentarnya selalu aku harapkan loh😊