
Zifa benar-benar merasa tak nyaman saat ini. Bayangkan saja kalian terjebak bersama mantan yang pisahnya dengan alasan yang benar-benar tak jelas yang menghadirkan kebencian setelahnya.
"Katanya kalian mau membahas sesuatu yang penting. Kok dari tadi hanya bahas hal random saja?" tanya Nara pada Azraf dan Bima setelah mereka selesai makan.
Azraf menoleh pada sang Istri. "Kami tadi udah bahas di Kantor sebentar. Lagipula, hal yang kata Bima penting ternyata tidak sepenting itu"
Bima terlihat memelototi Azraf. "Itu sangat penting bagiku Onta Arab"
Nara menatap keduanya bingung. Ia pikir mereka membahas masalah pekerjaan, namun melihat kilatan geli di mata Azraf saat menatap Bima ia mengerti kalau mereka membahas masalah pribadi.
Rasa-rasanya Zifa ingin segera beranjak dari tempat duduknya. Ia benar-benar sudah tak nyaman berada di sini. Niat hati ingin curhat pada Nara tentang perlakuan semena-mena Bima padanya, tak disangka ternyata cowok itu ikut hadir di sana.
"Kamu kenapa Zi? kok keliatan gelisah?" ternyata sikap Zifa tertangkap oleh mata Nara.
"Eh, ini. emm...aku, aku udah mau pulang. Soalnya udah gerah banget " jawab Zifa tak sepenuhnya berbohong. Ia memang merasa gerah, selain gerah karena kehadiran Bima ia juga gerah karena belum membersihkan diri padahal dirinya sudah bekerja sepanjang hari.
__ADS_1
"Kamu ke sini naik apa?" tanya Nara. "Taksi" jawab Zifa. Gadis itu memang tidak membawa mobilnya tadi. Entah kenapa pagi tadi ia malas menyetir sendiri, dan Zifa sepertinya akan menyesali hal itu sebentar lagi.
"Ya udah, kamu bareng Bima aja. Ini kan udah malam, nggak baik naik Taksi udah jam segini" Ucapan Azraf langsung mendapat gelengan dari Zifa.
"Engggak apa-apa. Lagian ini masih jam delapan kali" tolak Zifa beralasan. Padahal yang sebenarnya adalah, ia tidak ingin terjebak lebih lama dengan manusia bertampang datar itu.
"Ya enggak apa-apalah Zi. Hitung-hitung hemat ongkos" kali ini Nara yang mengeluarkan suaranya.
Zifa mendengus. Ia hapal bagaimana otak pasangan itu yang sangat pandai menyusun rencana licik. Dan Zifa jelas akan menggagalkannya. Cukup waktu SMA saja dia mengikuti kegilaan Nara dan Azraf.
"Nggak usah Nar. Lagian, uang aku nggak bakal habis kalau cuma untuk bayar taksi doang"
Seketika Zifa menoleh saat mendengar cibiran itu.
"Bukan masalah itu Zi. Oh, aku tahu kenapa kamu nolak. Pasti teringat masa lalu saat pulang bersama yah?" goda Azraf membuat Zifa mengalihkan tatapannya pada pria menyebalkan yang sialnya adalah suami dari sahabatnya sendiri.
__ADS_1
"Nggak usah ngaco deh!" sinis Zifa.
"Padahal kalian pulang bareng itu bagus loh Zi. Selain aman, sekalian aja kalian reunian sambil bernostalgia saat pacaran dulu" Nara memang tak pernah ketinggalan ikut-ikutan Azraf meledeknya.
"Eh, tapi Dek. Kita sekarang kayak menyaksikan saat pertama mereka bertemu dulu yah? Di mana Zifa dan Bima saling tak menyukai dan berbalas kalimat bernada ketus"
Nara terdiam kemudian mengangguk. "Benar Mas. Aku ingat saat itu di parkiran Bios..."
"STOP!" potong Zifa tak tahan lagi akan tingkah mahluk di hadapannya itu.
"Aku pulang sekarang!" ia langsung mengambil tasnya dan meninggalkan tiga orang di meja tersebut.
Zifa menggerutu sepanjang jalan. Ia mengutuk pasangan tersebut. "Apaan coba maksud mereka kayak gitu? Mereka nggak sadar apa kalau aku sebel sama kehadiran Pak Bos. mereka nggak tahu aja gimana si Bima yang nggak sakti itu memperlakukan aku di kantornya"
Zifa masih sibuk menggerutu sampai-sampai tidak sadar ada seseorang yang berjalan dengan ekspresi datar di wajahnya.
__ADS_1
"Kamu sedang menggerutu tentang saya? Kamu itu yah, dari dulu nggak pernah berubah. Selalu suka menggerutu"
Like, vote dan komentarnya jangan lupa.