
Semua pasang mata yang ada di meja makan tertuju pada pengantin baru itu yang baru turun dari anak tangga. Mereka mengulum senyum saat melihat Bima yang menuntun Zifa, dan Zifa yang melangkah dengan hati-hati.
"Kenapa Zi, jalannya sampai di tuntun gitu?" tanya Nara menggoda. Entah jam berapa Nara datang ke rumahnya, sampai Zifa dan Bima baru turun saja wanita itu sudah duduk bersama keluarganya. sepertinya Nara sengaja datang pagi hanya untuk menggoda sahabatnya itu.
seluruh penghuni meja makan menahan tawa mendengar ucapan Nara. Sementara Bima dan Zifa yang tak tahu apa-apa malah kebingungan sendiri di mana letak lucunya.
"Zifa jatuh dari atas ran....!!"
"Zifa jatuh? kenapa bisa? Bar, kamu main kasar yah sampai Zifa jatuh dan kesakitan kayak gitu?" pekik Nara memotong ucapan Bima.
Azraf menatap Istrinya penuh peringatan karena saat ini ada orang tua juga bersama mereka.
Nara yang menyadari kebodohannya meringis pelan dan tertunduk malu.
"Nggak apa-apa kok. Lagian, Bima, kenapa bisa kamu seceroboh itu sampai buat Zifa jatuh?" kali ini Nenek Bima yang bersuara. Mereka benar-benar menggoda habis-habisan pasangan pengantin baru yang masih polos itu.
"Kalian sebenarnya bahas apa sih? Zifa nggak ngerti" tanya Zifa.
Semua yang ada di sana menganga tak percaya, kecuali Bima. Mereka menatap Bima penuh tanya, apa keduanya tidak melakukan ritual malam pertama sampai ekspresi Zifa bukannya malu-malu saat digoda malah menampilkan wajah polos seperti anak kecil?
__ADS_1
Bima yang langsung mengerti segera berdehem. "Ehm, jadi.....kalian semua salah paham karena cara jalan Zifa?"
Mereka mengangguk. "Ckk! Zifa benaran jatuh semalam, karena kaget ada orang di sampingnya. Bokongnya sakit dan susah untuk jalan!" ucap Bima jujur membuat mereka mendesah kecewa.
Inginnya menggoda pasangan itu, eh malah nggak menyangka kalau keduanya semalam tak terjadi apapun.
"Jadi, semalam kalian berdua...."
"Itu rahasia kita. Iya kan sayang?" ujar Bima pada Zifa yang sudah menunduk malu saat sadar apa yang keluarganya dan Bima bahas.
"I...iya!" jawab Zifa
"Ih, nggak asik ah!" ujar Nara kecewa. Semuanya kemudian menertawakan ucapan Nara yang memang terdengar seperti sungguhan.
"Yee, siapa suruh jahil!" celetuk Zifa meledek Nara. Semuanya kemudian sarapan bersama dalam diam. Sesekali hanya suara sendok beradu dengan piring yang terdengar.
Selesai makan, Bima, Zifa, Ningsih dan Arjuna akan ke bandara untuk mengantarkan Widya dan Agung kembali ke Belanda. Mereka terpaksa mempercepat kepulangan karena ada masalah dengan salah satu cabang perusahaan di sana.
Setelah itu, Zifa dan Bima kembali ke rumah Zifa hanya untuk mengambil pakaian gadis itu. Keduanya sudah memutuskan untuk tinggal di rumah milik orang tua Bima. Daripada membeli rumah baru, lebih baik mereka menempati rumah itu saja. Karena sudah dipastikan Agung dan Widya hanya akan pulang sekali-kali.
__ADS_1
"Gimana bokong kamu? Masih sakit?" tanya Bima saat mereka sedang makan malam. Ningsih memang sengaja membuatkan mereka makanan malam untuk di bungkus dan di makan saat di rumah baru anak dan menantunya itu. Karena ia tahu Zifa pasti tak akan sempat masak setelah membereskan barang-barang di rumah baru.
"Udah nggak seberapa kok" jawab Zifa.
"Oh yah, rencananya kita mau bulan madu ke mana?" tanya Bima kemudian. Tiba-tiba ia kepikiran untuk honeymoon karena sebelum menikah mereka tak membicarakan masalah ini.
"Kalau menurut aku sih, aku kan anak rumahan yah, mending kita di rumah aja. Daripada jalan-jalan ngabisin duit kan?" jawab Zifa jujur.
Bima tersenyum simpul mendengar ucapan istrinya. "Memangnya kamu nggak mau kayak pasangan lain gitu?"
Zifa menggeleng. "Ngapain ngikutin pasangan lain, kan yang jalanin kita. Senyamannya kita ajalah Bim. Kita punya kisah sendiri yang kita bangun. Apalagi aku tipe orang yang nggak suka perjalanan jauh. Tapi kalau kamu mau aku ngikut aja!"
Entah harus sebanyak apa rasa syukur yang harus Bima panjatkan karena diberi Istri dengan pemikiran sederhana seperti Zifa. Inilah yang membuatnya jatuh cinta pada Zifa di awal pertemuan. Gadis itu sangat berbeda dengan gadis lain yang pernah ia temui.
"Kamu benar. Kita punya kisah tersendiri yang berbeda dari orang lain. Dan untuk masalah bulan madu, aku rasa ide kamu untuk di rumah saja nggak buruk" ujar Bima membuat Zifa menatapnya ragu.
"Benaran nggak apa-apa?"
Bima mengangguk, "Kan kamu bilang senyamannya kita aja. Aku sebenarnya mengajukan pertanyaan itu untuk kenyamanan kamu sebagai Istri aku, tapi ternyata pemikiran kamu sesimpel itu, dan yah, aku benar-benar bersyukur akan hal itu" jelas Bima membuat Zifa tersenyum senang.
__ADS_1
Emm,, mau dilanjut lagi nggak? Atau sampai di sini saja?
Dua puluh Komentar untuk kepastian lanjut atau tidaknya☺️