Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)

Sang Pengiring Pengantin 2 (Ketika Mantan Terindah Kembali)
Miss Nadin


__ADS_3

Mohon baca sebentar, jangan di skip😊




Saya sebagai penulis yang mood nya suka datang-datang, berharap agar para readers memberikan saya dukungan berupa like, vote dan komentar




Saya lebih suka orang yang berkomentar mengenai alur cerita saya dibanding hanya kata 'next, lanjut, atau kok cuma sedikit?'. Begini reader, alur cerita ini memang saya buat tiap babnya hanya 500 sampai 700 kata. Kenapa? Agar kalian tidak bosan menscrol kalimat-kalimat yang saya tulis, jadi saya buat tiap babnya pendek saja. Dan lagi, saat kalian berkomentar seperti itu saya merasa dipaksa. Padahal saya menulis karena hobih loh, kalau kalian seolah maksa gitu semua kalimat yang ada di otak aku itu seakan hilang gitu.




Untuk yang minta crazy up mohon maaf karena saya nggak bisa memenuhi. Seperti yang saya katakan, semua novel buatan saya itu sistemnya tulis-publish. Jadi sama sekali nggak punya draf, sekali lagi mohon maaf.




Saya mohon maaf jika saya terlalu banyak permintaan pada readers. Tapi saya harap readers juga memahami. Saya seperti ini bukan karena sombong, tapi sebaliknya saya hanya merendah meminta dukungan kalian.




Terima kasih karena masih setia menantikan cerita saya ini😊

__ADS_1




salam sayang untuk readersku😚😚


.........


Zifa saat ini tengah menyiapkan bahan presentasi untuk Meeting besok. Rey sudah mengerjakan beberapa, Zifa tinggal menambahkan saja. Sebenarnya pekerjaannya tergolong ringan karena tugasnya lebih banyak ditangani oleh Rey. Ternyata Rey adalah Asisten Bima. Zifa merasa sedikit tak enak karena ia seolah hanya makan gaji buta saja di sini. Tapi Rey pernah mengatakan padanya agar tak berpikir seperti itu. Karena kata Rey gaji Zifa sudah sesuai dengan pekerjaannya. Rey juga bilang kalau gajinya lebih besar dari Zifa membuat gadis itu sedikit tenang.


"Permisi!" Zifa mengangkat kepalanya, menatap seseorang yang baru saja berbicara dengannya.


Zifa berdiri dan tersenyum sopan pada wanita di depannya itu. "Selamat siang, Miss Nadin"


Nadin tersenyum ramah "Siang. Apa Bima ada?" Tanya Miss Nadin.


Bima? Apa Miss Nadin dan Bima memang sangat akrab sampai dia menyebut Bima tanpa embel-embel Bapak atau sejenisnya? Zifa menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya sendiri. Untuk apa ia penasaran akan hubungan Bima? Mau Bima berhubungan dengan siapapun seharusnya ia tak peduli.


Zifa tersadar "Eh, maaf Miss Nadin. Pak Bima ada di ruangannya" ralat Zifa cepat.


"Apa saya bisa bertemu dengannya?" Tanya Miss Nadin lagi.


"Apa Miss Nadin sudah buat janji?"


Nadin menggeleng pelan. "Kalau begitu Miss Nadin tunggu sebentar. Saya akan menghubungi Pak Bima terlebih dahulu"


Zifa menghubungi Bima dan mengatakan kalau Miss Nadin datang. Pria itu malah memutuskan sambungan begitu saja tanpa mengatakan apapun. Tak berselang lama, pintu ruangan milik Bima terbuka.


"Kamu sudah lama Nad?" Tanya Bima, ternyata pria itulah yang membuka pintu.


"Belum kok!" Jawab Miss Nadin. Zifa tentu saja melihat keakraban dua orang tersebut.

__ADS_1


"Maaf yah Nad, dia sekertaris baru. Jadi dia belum tahu kalau kamu datang tanpa perlu membuat janji" jelas Bima dengan raut merasa bersalah.


Bima kemudian mengalihkan tatapannya pada Zifa. "Lain kali, kalau Miss Nadin yang datang langsung suruh masuk" ujar Bima dingin.


Zifa mengangguk patuh. Kedua orang tersebut kemudian berpamitan, lebih tepatnya hanya Miss Nadin yang berpamitan.


Zifa dapat mendengar sayup-sayup suara gelak tawa yang berasal daru dalam ruangan Bima karena pintu ruangan tersebut setengah terbuka. Zifa semakin yakin kalau Bima dan Miss Nadin benar-benar sangat dekat. Bahkan setahu Zifa, Bima bukanlah orang yang suka mengumbar tawanya. Bahkan bersama Zifa dulu, Bima tak pernah tertawa lepas. Paling pria itu hanya terkekeh pelan atau tersenyum lebar saja.


Zifa kembali menggelengkan kepalanya. Kenapa ia kembali mengingat saat-saat ia bersama Bima dulu sih? Lagipula, jelas saja Bima tak pernah tertawa lepas saat bersamanya, toh pria itu hanya sedang beracting menjadi pacarnya. Jelas saja dulu Bima pasti sangat tersiksa berpura-pura suka dengannya.


"Zifa, Pak Bima ada tamu?" Tanya Rey yang baru saja datang. Mungkin ia akan mengunjungi ruangan Bima.


"Iya. Ada Miss Nadin tadi"


Rey mengangguk paham dan langsung melenggang masuk ke dalam setelah berpamitan pada Zifa.


Suara deringan dari ponsel Zifa membuat gadis itu mengalihkan atensinya dari berkas-berkas yang ada di hadapannya.


Ia melihat panggilan masuk yang ternyata berasal dari Nara. Zifa melirik sebentar ke arah pintu ruangan Bima. Ia takut kedapatan berteleponan saat jam kerja.


Melihat kondisi aman, Zifa segera mengangkat panggilan Nara.


"Halo Nar!" Sapa Zifa dengan suara pelan.


"Halo Zi. Gimana kabar kamu?" Tanya Nara.


"Alhamdulillah baik Nar. Oh yah, kamu gimana? Udah pulang belum dari tempat honeymoon?"


"Baik juga Zi. Iya, kita baru datang semalam" jawab Nara di seberang sana.


Zifa mendengar langkah kaki dari dalam ruangan. "Nar, nanti aku hubungi lagi. Soalnya aku lagi jam kerja" bisik Zifa karena mendengar langkah tersebut semakin mendekat. Ia segera mematikan sambungan telepon tanpa mendengar jawaban Nara, ia yakin sahabatnya itu akan mengerti.

__ADS_1


__ADS_2