
Zifa terus menunduk saat Bima berjalan mendekat. Bukannya langsung masuk, pria itu malah sengaja berdiri di samping mejanya sambil bersiul menggoda Zifa. Zifa kok merasa ngeri yah dengan sikap Bima. Meski biasanya Bima bersikap manis, tapi wajahnya tetap datar. Tapi tadi? Astaga! Bahkan dengan sengaja ia menggoda Zifa.
Bima yang melihat Zifa semakin menunduk sontak tak bisa lagi menahan tawanya. Ia tahu gadis itu sedang salah tingkah dan berusaha menyembunyikan wajah malu-malunya.
"Hai Zi!" Sapa sebuah suara membuat Zifa yang tertunduk langsung mendongak. Zifa tak tahu sejak kapan Bima berganti dengan Nadin yang kini sedang mengelus perutnya yang mulai terlihat sedikit membuncit.
"Eh?! Mis Na..."
"Kamu kok lupa Zi, aku nyuruh kamu manggil aku apa?" Potong Nadin. Mata wanita itu terlihat berkaca-kaca sambil menatap Zifa kecewa.
Zifa gelagapan di tempatnya, ua buru-buru mendekati Nadin "Eh? Maaf, maksud aku Kak Nadin! Aku tadi hanya kaget k..kak" ujarnya berusaha membujuk Ibu hamil yang sangat sensitif itu.
Nadin menatap Zifa memastikan "Benar yah? Janjikan lain kali nggak akan lupa?"
__ADS_1
Zifa memilih mengangguk daripada harus membuat istri dari asisten bosnya itu menangis.
"Oh yah, K...kak Nadin ke sini mau apa?" Tanya Zifa mengalihkan pembicaraan agar wanita itu segera melupakan kekecewaannya akibat panggilan Zifa tadi.
"Aku mau ketemu kamu. Bolehkan aku ajak kamu ngobrol?" Pintanya.
Zifa menggaruk belakang kepalanya "aku....nggak tahu. Nanti kalau bos marah gimana?" Tanya Zifa ragu.
Zifa melongo. Benarkah Bima hanya pura-pura selama ini memarahinya? Dan apa tadi? Memanas-manasi? Ooh, Zifa tahu. Ingatkan saat mereka ketemu Nadin saat pertama kali dan dia menyuruh Zifa menjauh dari meja mereka juga pulang sendirian? Apa itu yang dimaksud Nadin? Tapi benarkah Bima ingin ia cemburu?
"Maksud Kak Nadin?"
"Ckk! Si datar itu hanya pura-pura marahin kamu. Padahal nggak tega, dia itu cinta mati sama kamu! Kamu nggak tahu aja gimana ekspresi senangnya dia bercerita saat kamu jadi sekertaris dia. Kamu lihat sendirikan dia sering tertawa saat di restoran waktu itu, dan juga kamu dengar sendirikan suara tawanya di ruangan ini saat aku berkunjung? Kamu pikir dia lagi menceritakan apa?"
__ADS_1
Zifa bisa menebak sebenarnya apa yang akan dikatakan Nadin, namun ia ingin mendengar sendiri. Takutnya ia kege-eran lagi.
"Memangnya siapa?"
"Yah kamulah, masa badut! Pria itu menceritakan bagaimana lucunya saat kamu selalu marah-marah karena tingkah dia yang menyebalkan! Jadi, kalau dia marah karena kamu ngobrol sama aku, ancam aja. Bilang kamu mau resign dari sini, dijamin dia bakalan langsung kicep. Bayangkan aja vitaminnya udah nggak ada di sini? Jadi nggak semangat pastinya dia saat kerja" Kompor Nadin.
Zifa terlihat ragu, apa benar seperti itu? "Kamu pasti penasaran kan dengan bos kamu itu? Jadi kalau kamu mau tahu semua kelanjutan cerita aku tadi ayok kita mengobrol!" Nadin sengaja membuat Zifa penasaran. Lagipula, anggap saja ia sedikit membantu Bima agar menghilangkan keraguan di hati Zifa pada pria itu.
"Bukannya sedari tadi kita udah mengobrol yah?" Tanya Zifa bingung dengan tingkah Ibu hamil tersebut.
"Tapikan masih gantung! Ayo sini kalau penasaran, biar aku yang izin sama Bima!" Ujarnya sambil menarik tangan Zifa menuju ruangan Bima. Bahkan wanita itu tak mengetuk pintu, benar-benar istri asisten Bima yang satu ini kebangetan yah! Udah cerita rahasia Bima ke Zifa, mana nggak sopan pula sama atasan suaminya itu.
Like, vote dan komentarnya jangan lupa😊
__ADS_1